Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Affinity Layak Gantikan Adobe buat Desainer Nonprofesional?
ilustrasi menggunakan software Affinity (affinity.studio)
  • Affinity yang dimiliki Canva menawarkan aplikasi desktop gratis tanpa biaya tersembunyi untuk fungsi desain inti, berbeda dengan langganan Adobe Creative Cloud Pro yang disebut mencapai 69,99 dolar AS per bulan.
  • Satu aplikasi Affinity menggabungkan studio Pixel, Vector, dan Layout, sehingga pengguna dapat mengedit foto, membuat grafis, serta menata halaman dalam file yang sama tanpa ekspor.
  • Affinity dirancang lebih ringan dengan akselerasi GPU dan instalasi sekitar 3,3–3,5 GB, serta antarmuka yang dapat disederhanakan untuk pelajar, hobiis, dan freelancer pemula.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Adobe sudah lama jadi pemain besar di dunia desain. Photoshop, Illustrator, dan InDesign jadi standar industri selama puluhan tahun. Namun, standar itu datang dengan harga mahal dan biaya langganan bulanan yang seakan makin menghalangi buat kamu yang cuma hobi desain atau baru mulai jadi freelancer. Affinity yang sudah dimiliki Canva bisa jadi solusi dari kendala itu. Sejak diluncurkan ulang pada akhir Oktober 2025, aplikasi ini gratis total sehingga sangat menarik untuk kamu coba.

1. Bebas biaya langganan bulanan

ilustrasi menggunakan software Affinity (affinity.studio)

Berdasarkan data ThePricer per Agustus 2026, paket Creative Cloud Pro dari Adobe saat ini dibanderol 69,99 dolar AS per bulan untuk pelanggan individu di Amerika Serikat. Jika dikonversi kurs rupiah pada 24 September 2026 yang berada di angka Rp17.812,10 per dolar AS, nominal itu setara sekitar Rp1.246.669 per bulan. Di sisi lain, Affinity punya pendekatan yang sangat berbeda.

Sejak Canva mengambil alih Serif, pengembang Affinity, aplikasi inti untuk desktop kini gratis selamanya tanpa biaya tersembunyi. Kamu tinggal daftar akun Canva, unduh aplikasinya di Mac atau Windows, lalu langsung bisa berkarya. Fitur berbayar hanya muncul untuk alat AI generatif seperti Generative Fill yang memanfaatkan ekosistem Canva AI Studio. Sementara itu, fungsi desain inti Affinity tetap bisa kamu akses penuh tanpa terkecuali.

2. Workspace terintegrasi cukup pakai satu aplikasi

ilustrasi menggunakan software Affinity (affinity.studio)

Bagi beberapa pengguna, khususnya nonprofesional, berpindah-pindah antaraplikasi kreatif Adobe bisa terasa melepotkan karena mereka membagi ekosistemnya ke dalam program terpisah, seperti Photoshop, Illustrator, dan InDesign dengan antarmuka berbeda. Adobe memang memiliki fitur Smart Objects dan Creative Cloud Libraries yang memungkinkan aset vektor atau piksel terbarui secara otomatis lintas aplikasi. Namun, proses ini tetap meminta pengguna membuka beberapa jendela aplikasi sekaligus yang membutuhkan spesifikasi komputer tinggi dan pemahaman navigasi yang baik.

Affinity menyelesaikan masalah ini dengan menggabungkan tiga fungsi utama dalam satu aplikasi tunggal. Di dalamnya ada studio Pixel untuk edit foto, studio Vector untuk desain grafis, dan studio Layout untuk tata halaman. Semuanya bisa diakses dari file yang sama tanpa perlu ekspor apa pun. Kamu tinggal klik ikon studio yang diinginkan, kemudian seluruh alat berubah sesuai kebutuhan.

3. Performa cepat karena software Affinity lebih ringan

ilustrasi menggunakan software Affinity (affinity.studio)

Seakan bukan lagi rahasia umum kalau banyak software desain profesional terasa berat saat dibuka, apalagi kalau laptop kamu bukan yang paling kencang. Namun, sejak awal, Affinity dibuat untuk memaksimalkan hardware modern sehingga rendering grafis berat bisa dibagi ke banyak inti sekaligus. Dukungan akselerasi GPU mereka juga membuat efek dan filter kompleks terasa responsif meski file yang dikerjakan berukuran besar.

Ukuran instalasinya pun tergolong ringkas untuk aplikasi selengkap ini, sekitar 3,3 hingga 3,5 GB saja di macOS menurut data DesktopInsights. Ini jauh lebih kecil dibanding total tiga aplikasi Adobe yang harus diinstal terpisah. Affinity juga tidak menjalankan banyak proses latar belakang seperti layanan sinkronisasi cloud Adobe yang terkadang diam-diam menguras penggunaan RAM. Faktor ini yang membuat waktu membuka Affinity jadi lebih singkat dan komputer kamu tidak terasa lambat saat multitasking dengan program lain.

4. Affinity paling pas untuk desainer nonprofesional

ilustrasi menggunakan software Affinity (affinity.studio)

Kalau kamu masih belajar desain, mahasiswa, atau freelancer pemula, antarmuka yang bersih dan mudah dipahami menjadi salah satu faktor penting. Affinity punya tampilan yang bisa diatur sesuai kebutuhan. Kamu bisa menyembunyikan alat yang tidak dipakai untuk fokus kepada studio yang relevan. Jika dibandingkan aplikasi Adobe yang menu dan panelnya menumpuk, Affinity terasa lebih segar dan tidak membingungkan pemula.

Perlu digarisbawahi, Affinity bukan alat drag-and-drop sederhana seperti template Canva. Ia tetaplah software desain kelas profesional dengan fitur lengkap. Ada beberapa materi dasar yang mesti kamu pelajari. Meski begitu, bekal pemahaman dasar yang kamu butuhkan untuk Affinity terasa lebih ramah dibandingkan ketika kamu memelajari software Adobe dari awal. Apalagi, mereka menyediakan banyak dukungan tutorial resmi dan komunitas pengguna yang terus berkembang.

Sepenuhnya gratis, Affinity bisa jadi alternatif alat desain yang sangat menarik. Kalau kamu pengguna yang sudah terbiasa menggunakan ekosistem Adobe Creative, kira-kira apa alasan kamu belum mencoba pindah ke Affinity?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article