Laporan World Economic Forum 2026: Ini Cara AI Digunakan di Industri

- AI di sektor teknologi informasi: AMD, Synopsys, EXL Services, KPMG, dan SAP telah berhasil meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya dengan penerapan AI.
- AI di sektor energi: Horizon Power, TerraQuanta, Schneider Electric, Siemens, lembaga riset energi bersih di China, dan State Grid telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi prediksi pasar energi.
- AI di layanan kesehatan: Ant Group, Landing Med, Genshukai, Fujitsu, Kementerian Kesehatan Arab Saudi bersama AmplifAI, dan Sanofi telah berhasil meningkatkan akurasi diagnosis kesehatan serta menghemat waktu dan biaya dengan penerapan AI.
World Economic Forum merilis laporan baru pada 19 Januari 2026 dari Geneva, Swiss. Laporan ini menyoroti bagaimana organisasi terkemuka mulai bergerak dari sekadar eksperimen menuju penerapan AI yang benar benar berdampak pada kinerja.
Di tengah lonjakan investasi dan ekspektasi, muncul kesenjangan yang jelas antara perusahaan yang mampu menskalakan AI dan mereka yang masih kesulitan menerapkannya secara efektif. Laporan ini merupakan hasil kolaborasi bersama Accenture, mengambil data dari MINDS (Meaningful, Intelligent, Novel, Deployable Solutions). Berikut beberapa insight yang harus kamu tahu!
1. AI di sektor teknologi informasi

Sejumlah organisasi sudah membuktikan dampak AI di pekerjaan. AMD dan Synopsys mengintegrasikan reinforcement learning dan agentic AI ke alur desain chip, sehingga produktivitas desainer meningkat dua kali lipat dan waktu sign off jauh lebih singkat.
EXL Services menggunakan agen AI untuk mengotomatisasi hingga 80 persen migrasi kode dari sistem lama ke cloud, memangkas durasi proyek hingga dua tahun dan menurunkan biaya antara 20 hingga 40 persen.
KPMG dan SAP menskalakan AI copilot yang dilatih dengan 200.000 dokumen SAP untuk mempercepat konfigurasi sistem. Ini mengurangi pekerjaan ulang hingga setengahnya dan mempercepat migrasi enterprise sebesar 18 persen.
2. AI di sektor energi

Organisasi energi mulai memanfaatkan AI untuk mengelola sistem yang semakin kompleks. Horizon Power dan TerraQuanta membangun AI prakiraan cuaca yang meningkatkan efisiensi prediksi pasar energi hingga 50.000 kali, menekan volatilitas, dan meningkatkan kinerja perdagangan.
Schneider Electric menerapkan AI di perangkat untuk optimasi energi tingkat ruangan, menghasilkan penghematan 5 hingga 15 persen hanya dalam dua minggu tanpa mengorbankan kenyamanan. Siemens membawa otonomi AI tertutup ke sistem HVAC, meningkatkan kenyamanan 25 persen dan menurunkan konsumsi energi lebih dari 6 persen dengan mesin yang mudah diskalakan.
Di China, lembaga riset energi bersih menggabungkan LLM khusus domain dengan peramalan deret waktu untuk meningkatkan akurasi prediksi pasar dan memangkas penggunaan energi hingga 95 persen.
Penerapan AI pada infrastruktur energi terbarukan juga meningkatkan akurasi deteksi cacat hingga 90 persen, sementara State Grid menskalakan orkestrasi AI real time untuk sistem listrik megakota dengan kontrol sub menit bagi lebih dari 15.000 pengguna.
3. AI di layanan kesehatan
Penerapan AI di sektor kesehatan mulai menunjukkan skala dan hasil yang terukur. Ant Group membangun platform kesehatan multimodal berskala nasional dengan akurasi diagnosis di atas 90 persen dan riset klinisi 80 persen lebih cepat di 5.000 institusi.
Landing Med menskalakan skrining sitologi berbasis AI ke 91 persen wilayah terpencil, memungkinkan lebih dari 13 juta deteksi kanker dini melalui pencitraan medis cloud dan edge. Di Jepang, Genshukai dan Fujitsu menerapkan agen AI untuk manajemen rumah sakit, menghemat lebih dari 400 jam kerja staf dan meningkatkan pendapatan sebesar 1,4 juta dolar AS.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi bersama AmplifAI menguji pencitraan termal AI yang memangkas waktu klinisi 90 persen dan biaya perawatan hingga 80 persen untuk deteksi dini kaki diabetes. Sementara itu, Sanofi membangun model perusahaan berbasis AI dengan lebih dari 1.300 use case yang mempercepat siklus pengembangan dan mendorong peningkatan kinerja komersial.
Temuan World Economic Forum menunjukkan bahwa banyak industri telah membangun kapabilitas, data, dan tata kelola untuk menskalakan AI. Di tengah kesenjangan adopsi yang melebar, kinerja kini menjadi pembeda utama antara potensi AI dan dampak nyata.

















