Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal OpenClaw, Agen AI Berlogo Lobster yang Viral

OpenClaw
OpenClaw (openclaw.ai)
Intinya sih...
  • OpenClaw, agen AI baru yang viral di dunia teknologi
  • Proyek ini awalnya dibuat sebagai eksperimen akhir pekan oleh Peter Steinberger, namun mengalami drama pergantian nama dan isu keamanan.
  • OpenClaw dikategorikan sebagai Agentic AI dengan kemampuan otonom, persistent memory, dan fitur proaktif Heartbeat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia teknologi belakangan ini sedang ramai membicarakan agen kecerdasan buatan (AI) baru bernama OpenClaw. Proyek open-source ini mendadak viral di kalangan pengembang karena menawarkan kemampuan yang lebih canggih dibandingkan chatbot biasa. Saking populernya, halaman proyek ini bahkan dikunjungi hingga dua juta orang hanya dalam waktu satu minggu setelah peluncurannya.

OpenClaw hadir dengan konsep agen otonom yang bisa menjalankan perintah langsung di komputer penggunanya secara mandiri. Namun, di balik kecanggihannya, tersimpan berbagai drama unik mulai dari pergantian nama hingga isu keamanan yang cukup serius. Penasaran dengan asisten AI berlogo lobster yang sedang naik daun ini? Yuk, simak lima fakta menarik OpenClaw berikut ini!

1. Awal mula keviralan OpenClaw

Proyek ini awalnya dibuat sebagai eksperimen akhir pekan oleh Peter Steinberger, seorang pengembang perangkat lunak asal Austria. Ia pertama kali menamakan ciptaannya Clawdbot sebagai pelesetan dari model AI Claude buatan Anthropic. Namun, nama tersebut justru memancing perhatian tim legal Anthropic karena dianggap mirip merek dagang mereka.

Akibat teguran tersebut, Steinberger terpaksa mengubah nama proyeknya menjadi Moltbot. Nama ini diambil dari istilah molting, yaitu proses pergantian kulit pada lobster yang melambangkan pertumbuhan untuk menjadi lebih besar. Akhirnya, nama resmi OpenClaw dipilih setelah melalui pengecekan merek dagang yang lebih serius agar aman secara hukum dan tidak diganggu gugat lagi.

Akhir-akhir ini, OpenClaw viral di media sosial, diiringi dengan lonjakan bintang di GitHub yang mencapai lebih dari 180 ribu dalam waktu singkat. Komunitas internet merespons keramaian ini dengan berbagai meme lucu, termasuk gambar maskot lobster berwajah manusia yang disebut "Handsome Molty". Fenomena unik ini muncul ketika AI tersebut diminta mendesain ulang ikonnya sendiri dan hasilnya justru menggelitik perut warganet.

Sayangnya, popularitas ini juga dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi. Akun media sosial lama proyek ini sempat diserobot oleh bot otomatis saat pergantian nama sedang berlangsung. Selain itu, muncul pula penipuan mata uang kripto palsu yang mencatut nama Clawdbot hingga membuat sang pencipta harus memberikan klarifikasi.

2. Apa itu OpenClaw?

ilustrasi kecerdasan buatan
ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Growtika)

OpenClaw dikategorikan sebagai Agentic AI, yaitu sistem cerdas yang mampu bertindak dan mengeksekusi tugas secara otonom di dunia nyata. AI ini tidak hanya menunggu perintah pasif seperti ChatGPT, tetapi bisa menyelesaikan serangkaian tugas rumit tanpa panduan terus-menerus. Peter Steinberger menggambarkannya seperti memiliki karyawan yang bekerja aktif.

Keunggulan utamanya terletak pada akses sistem penuh yang berjalan secara lokal di perangkat komputer milik pengguna sendiri. OpenClaw memiliki kemampuan untuk membaca, membuat file, dan menjalankan skrip perintah langsung di dalam sistem operasi. Akses mendalam seperti ini memungkinkan AI untuk berinteraksi dengan aplikasi lain di komputer layaknya manusia yang sedang mengoperasikan mouse dan keyboard.

Berbeda dengan asisten AI pada umumnya, OpenClaw memiliki ingatan jangka panjang atau persistent memory yang lebih baik. Ia mampu mengingat detail percakapan dari minggu lalu dan belajar dari pola kebiasaan pengguna seiring berjalannya waktu. Hal ini membuat interaksi terasa lebih personal karena AI memahami konteks hubungan kerja dan preferensi spesifik pemiliknya tanpa perlu dijelaskan ulang.

OpenClaw juga memiliki fitur unik bernama Heartbeat yang memungkinkannya "bangun" sendiri untuk memberikan notifikasi proaktif. Asisten digital ini bisa menyapa kamu duluan di pagi hari atau memberi peringatan tenggat waktu tanpa perlu dipancing pertanyaan terlebih dahulu. Kemampuan proaktif inilah yang membuat OpenClaw terasa lebih hidup dibandingkan chatbot AI yang cenderung lebih pasif.

3. Bagaimana cara menginstal OpenClaw?

ilustrasi kecerdasan buatan
ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Steve Johnson)

Sebelum menginstal OpenClaw, kamu harus menyiapkan perangkat komputer yang bisa menyala 24 jam nonstop sebagai "rumah" bagi OpenClaw. Banyak pengguna memanfaatkan perangkat hemat daya seperti Mac Mini atau Raspberry Pi yang dibiarkan standby di rumah. Alternatif yang lebih praktis adalah menyewa VPS (Virtual Private Server) murah agar kamu tidak perlu mengorbankan komputer pribadi untuk menyala terus-menerus.

Setelah perangkat siap, kamu perlu memberikan "otak" agar asisten ini bisa berpikir cerdas dan memproses perintahmu. Caranya adalah dengan mendaftarkan API Key dari penyedia model bahasa besar seperti OpenAI (ChatGPT), Anthropic (Claude), atau Google. Perlu diingat bahwa kamu akan dikenakan biaya pemakaian token yang dibayarkan langsung ke penyedia AI tersebut, bukan ke pengembang OpenClaw.

Proses instalasinya sendiri memang belum semudah mengunduh aplikasi biasa yang "tinggal klik". Kamu perlu mengunduh kode dari GitHub, lalu menjalankan serangkaian perintah melalui terminal atau command line di komputer server tadi. Bagi pengguna awam, langkah ini mungkin terasa cukup membingungkan karena memerlukan sedikit pemahaman dasar tentang pemrograman.

Langkah terakhir adalah menghubungkan "otak" yang sudah berjalan di server tadi ke aplikasi pesan favoritmu seperti WhatsApp, Telegram, atau Discord. Kamu tidak perlu menginstal aplikasi tambahan di ponsel, cukup masukkan token bot atau pindai kode QR sesuai instruksi di terminal. Setelah terhubung, OpenClaw akan langsung muncul di daftar kontakmu dan siap diperintah kapan saja layaknya sedang chatting dengan teman biasa.

4. OpenClaw bisa membantu tugas harian hingga profesional

logo Gmail
logo Gmail (unsplash.com/Justin Morgan)

Cara menggunakan OpenClaw sebenarnya cukup sederhana karena ia bisa diakses lewat aplikasi pesan yang biasa kamu pakai sehari-hari. Kamu cukup membuka WhatsApp, Telegram, atau Signal, lalu mengirim pesan teks layaknya sedang mengobrol dengan teman atau rekan kerja. Pengguna bisa langsung mengetik perintah natural seperti "Tolong rangkum email masuk hari ini" atau "Ingatkan aku rapat jam 3 sore".

OpenClaw bisa membantu pengguna menangani kotak masuk email yang telah menggunung dan berantakan. AI ini mampu menyortir ribuan pesan, membuang spam, dan menandai mana email penting yang harus segera dibalas. Salah satu pengguna melaporkan bahwa OpenClaw berhasil membantunya membersihkan hampir 6 ribu pesan yang menumpuk hanya dalam satu hari penggunaan.

Melalui fitur Heartbeat, OpenClaw bisa berinisiatif menghubungi pengguna duluan. Bayangkan bangun tidur dan sudah menerima pesan WhatsApp berisi ringkasan berita penting, agenda hari ini, dan daftar tugas prioritas. Jadinya, pengguna seakan punya asisten manusia sungguhan yang proaktif.

Lebih jauh, OpenClaw bisa menghubungkan berbagai aplikasi produktivitas yang terpisah-pisah menjadi satu alur kerja. Contohnya, seorang pengguna mengatur OpenClaw di Mac Mini miliknya untuk menarik data dari kalender, aplikasi catatan Notion, dan Todoist. Hasilnya, ia mendapatkan laporan audio harian yang merangkum seluruh aktivitas dan tugasnya secara otomatis tanpa perlu membuka aplikasi satu per satu.

Di ranah profesional, kemampuan asisten ini meluas hingga ke tugas-tugas teknis seperti menulis kode pemrograman atau mengelola media sosial. Ia bisa diperintah untuk melakukan riset pasar, membuat draf konten, hingga memperbaiki eror kecil pada sistem komputer secara mandiri.

5. Berbagai risiko keamanan saat menggunakan OpenClaw

ilustrasi keamanan siber
ilustrasi keamanan siber (unsplash.com/FlyD)

Memberikan akses penuh sistem komputer kepada AI tentu membawa risiko keamanan yang cukup tinggi dan berbahaya. Dokumentasi resmi OpenClaw sendiri menyebut pengaturan ini "pedas" (spicy) karena kesalahan konfigurasi sedikit saja bisa berakibat fatal bagi data pengguna. Para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa celah ini bisa dimanfaatkan peretas untuk mencuri data pribadi atau mengambil alih kendali komputer si pengguna.

Ancaman lain yang mengintai adalah serangan prompt injection, di mana aktor jahat menyusupkan perintah berbahaya lewat teks tersembunyi. Jika OpenClaw membaca email atau situs web yang berisi perintah jahat tersebut, ia bisa dimanipulasi untuk melakukan aksi merugikan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Cisco bahkan menyebut potensi celah keamanan pada agen AI otonom seperti ini sebagai sebuah "mimpi buruk" keamanan digital.

Para peneliti keamanan menemukan banyak instalasi OpenClaw yang terekspos di internet tanpa perlindungan kata sandi yang memadai. Hal ini menyebabkan kebocoran kunci API, riwayat percakapan pribadi, hingga kredensial akun sensitif yang bisa diakses oleh siapa saja. Sangat disarankan untuk tidak menginstal OpenClaw di komputer utama yang berisi data perbankan atau informasi rahasia perusahaan.

Sebagai langkah pencegahan, gunakanlah perangkat terpisah yang terisolasi untuk mencoba teknologi eksperimental ini. Pengguna juga harus waspada terhadap segala bentuk penawaran investasi atau token kripto yang mencatut nama proyek OpenClaw karena dipastikan itu adalah penipuan. Pastikan untuk selalu membaca dokumentasi keamanan terbaru dan membatasi izin akses AI hanya pada hal-hal yang benar-benar diperlukan.

Teknologi seperti OpenClaw membuktikan bahwa masa depan asisten AI yang benar-benar otonom sudah ada di depan mata. Meskipun menawarkan produktivitas tinggi, risiko keamanan yang menyertainya menuntut pengguna untuk tetap bijak dan waspada. Jadi, pastikan kamu memahami segala konsekuensinya sebelum membiarkan OpenClaw masuk ke dalam kehidupan digitalmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Tech

See More

7 Game FPS yang Lebih Baik Dimainkan dengan Gamepad

03 Feb 2026, 18:12 WIBTech