Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: 10 Menit Pakai AI Picu Ketergantungan dan Turunkan Performa Otak

Studi: 10 Menit Pakai AI Picu Ketergantungan dan Turunkan Performa Otak
ilustrasi pekerja remote menggunakan laptop (unsplash.com/Brooke Cagle)
Intinya Sih
  • Penelitian dari AS dan Inggris menemukan bahwa penggunaan AI selama 10 menit dapat memicu ketergantungan serta menurunkan kemampuan berpikir mandiri dan motivasi pengguna.
  • Hasil eksperimen menunjukkan peningkatan performa dengan bantuan AI hanya bersifat sementara; ketika akses dihentikan, peserta mengalami penurunan tajam dalam hasil dan kepercayaan diri.
  • Peneliti memperingatkan risiko jangka panjang di dunia pendidikan dan kerja, termasuk melemahnya ketekunan, daya juang, serta potensi munculnya kelelahan mental akibat ketergantungan pada AI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sekelompok peneliti dari Amerika Serikat dan Inggris melakukan studi yang menyoroti dampak serius penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap kemampuan kognitif manusia. Penelitian bertajuk “AI Assistance Reduces Persistence and Hurts Independent Performance” yang dipublikasikan di arXiv pada 7 April 2026 mengungkap bahwa pemanfaatan AI dapat mengurangi ketekunan sekaligus melemahkan performa berpikir mandiri. Studi ini juga menyoroti bagaimana ketergantungan terhadap AI memengaruhi daya tahan mental saat pengguna harus menyelesaikan tugas tanpa bantuan teknologi.

Meski mampu meningkatkan performa dalam jangka pendek terutama pada pekerjaan yang menuntut penalaran intensif, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa 10 menit pakai AI picu ketergantungan dan turunkan performa otak. Efek positif tersebut bahkan tidak bertahan lama. Ketika akses terhadap AI dihentikan, performa peserta justru menurun secara signifikan dan diikuti berkurangnya motivasi untuk mencoba kembali secara mandiri. Berikut temuan utama dari penelitian tersebut.

1. AI hanya meningkatkan performa secara sementara

ilustrasi rumus matematika yang rumit
ilustrasi rumus matematika yang rumit (unsplash.com/Erwan Hesry)

Penelitian melibatkan 350 partisipan yang diminta menyelesaikan soal matematika berbasis pecahan. Sebagian peserta diberikan akses ke chatbot berbasis GPT-5, sementara kelompok lainnya mengerjakan soal tanpa bantuan. Di tengah proses pengerjaan, akses AI sengaja dihentikan untuk menguji dampaknya.

Hasilnya, kelompok yang sebelumnya menggunakan AI mengalami penurunan tajam dalam jumlah jawaban benar. Bahkan, banyak peserta memilih berhenti setelah bantuan tersebut tidak lagi tersedia. Pola ini kembali terulang dalam eksperimen lanjutan yang melibatkan 670 partisipan, termasuk pada tugas pemahaman bacaan. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan performa dari AI bersifat sementara.

2. Ketergantungan muncul hanya dalam 10 menit

ilustrasi siswa menggunakan AI melalui HP
ilustrasi siswa menggunakan AI melalui HP (freepik.com/pvproductions)

Salah satu temuan paling mencolok adalah cepatnya ketergantungan terhadap AI terbentuk. Dalam waktu sekitar 10 menit penggunaan, peserta sudah mulai bergantung pada teknologi tersebut. Ketika akses AI dihentikan secara mendadak, performa mereka langsung menurun drastis dan banyak yang kesulitan melanjutkan tugas secara mandiri.

Dampak ini juga terlihat pada aspek psikologis. Sejumlah peserta memilih menyerah setelah kehilangan akses AI. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan tidak hanya memengaruhi kemampuan teknis, tetapi juga kepercayaan diri. Ketika bantuan hilang, keyakinan untuk menyelesaikan tugas ikut melemah.

3. Penggunaan AI berdampak pada motivasi dan daya juang

kumpulan aplikasi berbasis AI
ilustrasi kumpulan aplikasi berbasis AI (unsplash.com/Solen Feyissa)

Mengacu pada laporan dari Engadget dan Futurism, Rachit Dubey menegaskan bahwa dampak terbesar AI terletak pada motivasi pengguna. Ia menyebut bahwa tanpa AI, banyak orang tidak hanya memberikan jawaban yang keliru, tetapi juga enggan untuk mencoba.

Penurunan ketekunan ini menjadi persoalan serius dalam pembelajaran. Ketekunan dan rasa ingin tahu merupakan fondasi penting dalam proses belajar. Ketika keduanya melemah, kemampuan untuk berkembang pun ikut terhambat. Dalam konteks ini, AI berisiko menggeser perannya dari alat bantu menjadi penghambat proses belajar.

4. Risiko penggunaan AI di dunia pendidikan

ilustrasi guru melihat tablet seorang siswa laki-laki
ilustrasi guru melihat tablet seorang siswa laki-laki (freepik.com/zinkevych)

Penggunaan AI di dunia pendidikan menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Semakin banyak siswa mengandalkan chatbot untuk menyelesaikan tugas, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap perkembangan intelektual mereka. AI memang dapat membantu memahami materi, tetapi juga berpotensi mengurangi usaha belajar mandiri.

Peneliti memperingatkan bahwa tren ini dapat melahirkan generasi yang kurang memahami potensi dirinya sendiri. Ketergantungan pada AI berisiko menghambat perkembangan berpikir kritis. Selain itu, interaksi dengan teknologi juga dapat mengurangi kemampuan sosial siswa, yang penting dalam proses pembelajaran.

5. Efek "Boiling Frog" dalam penggunaan AI

ilustrasi sedang berpikir (freepik.com/jcomp)
ilustrasi sedang berpikir (freepik.com/jcomp)

Peneliti menggambarkan dampak AI melalui analogi efek “boiling frog”, di mana perubahan terjadi secara perlahan dan sering kali tidak disadari. Pengguna mungkin merasa tetap baik-baik saja, padahal kemampuan kognitifnya terus mengalami penurunan.

Masalahnya, ketika dampak mulai terlihat, kondisinya sudah cukup sulit diperbaiki. Penggunaan AI yang berlebihan dapat mengikis motivasi dan ketekunan, serta mendorong pola pikir instan. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi menurunkan kreativitas dan kemampuan inovasi dalam jangka panjang.

6. Penggunaan AI secara intensif memicu kelelahan mental

ilustrasi manusia berhadapan dengan layar AI
ilustrasi manusia berhadapan dengan layar AI (freepik.com/rawpixel.com)

Selain boiling frog, ada pula fenomena “AI brain fry” yang menggambarkan kelelahan mental akibat penggunaan AI secara intensif. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang mengandalkan AI justru mengalami tingkat kelelahan lebih tinggi karena meningkatnya tuntutan produktivitas.

Alih-alih mengurangi beban kerja, AI sering kali menciptakan tekanan baru. Pekerja dituntut untuk menghasilkan lebih banyak dalam waktu lebih singkat, yang memicu kelelahan. Dalam dunia pendidikan, dampaknya juga meluas ke aspek sosial dan emosional siswa.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa AI bukanlah solusi tanpa risiko. Meski menawarkan kemudahan dan efisiensi, pakai AI picu ketergantungan dan turunkan performa otak. Hal ini merupakan dampak negatif yang amat serius. Ketergantungan, penurunan motivasi, dan melemahnya kemampuan berpikir menjadi konsekuensi yang perlu diwaspadai.

Karena itu, penting untuk menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Pengguna perlu menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan melatih kemampuan kognitif. Melalui pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi mitra yang memperkuat kecerdasan manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More