Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Butterfly Keyboard di MacBook Gagal Total

6 Alasan Butterfly Keyboard di MacBook Gagal Total
ilustrasi MacBook baru (pexels.com/JourdanWee)
Intinya Sih
  • Apple gagal dengan desain keyboard butterfly yang terlalu tipis dan rapuh, menyebabkan tombol mudah macet serta tidak nyaman digunakan pada berbagai model MacBook antara 2015 hingga 2019.
  • Mekanisme engsel baru membuat debu mudah terperangkap di bawah tuts, memicu masalah input seperti huruf ganda dan tombol tidak responsif yang mengganggu produktivitas pengguna.
  • Biaya perbaikan tinggi dan revisi silikon pelindung tetap gagal memperbaiki masalah, hingga Apple akhirnya menghentikan eksperimen ini dan kembali ke mekanisme keyboard konvensional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Apple terkenal dengan inovasinya, tetapi mereka pernah melakukan satu blunder desain yang cukup fatal. Eksperimen keyboard butterfly tipis yang dipasang pada MacBook 12 inci keluaran 2015 hingga 2017, MacBook Pro 2016 hingga 2019, serta MacBook Air 2018 dan 2019 justru menjadi mimpi buruk bagi pengguna. Alih-alih memberi pengalaman mengetik yang nyaman, inovasi tersebut malah sering dicap sebagai produk terburuk dalam sejarah mereka.

Mengetik dengan tombol yang mendadak macet atau memunculkan huruf ganda tentu akan sangat menghancurkan produktivitas kerja kamu. Jika kamu penasaran mengapa desain yang awalnya terlihat menjanjikan ini berujung menjadi kegagalan massal. Mari langsung kita bedah sederet alasan utama mengapa butterfly keyboard di MacBook gagal total. Simak sampai tuntas!

1. Desain mekanisme yang terlalu ringkih

ilustrasi MacBook
ilustrasi MacBook (pexels.com/LifeofPix)

Apple mengganti mekanisme lawas dengan engsel baru yang menyerupai sayap kupu-kupu demi mengejar ketipisan bodi laptop. Desain ini membuat jarak tekan menjadi sangat pendek sehingga tuts nyaris tidak bergerak saat kamu mengetik.

Sayangnya, struktur yang sangat rapat ini malah membuat keseluruhan komponen menjadi jauh lebih rapuh. Ruang gerak yang minim menghilangkan toleransi terhadap tekanan keras dari jari saat digunakan sehari-hari.

2. Sistem manajemen debu yang buruk

MacBook Pro 2019
MacBook Pro 2019 (unsplash.com/GiorgioTrovato)

Desain pipih ini secara tidak sengaja mengubah setiap tuts menjadi semacam pompa udara mini. Saat digunakan, perangkat akan terus-menerus menyedot udara beserta partikel kotoran di sekitarnya.

Jarak tekan yang terlalu rendah membuat debu atau remah makanan sekecil apa pun langsung terperangkap dan tidak bisa keluar. Tumpukan kotoran ini akhirnya mengganjal engsel dan membuat komponen macet permanen.

3. Masalah input dari tombol macet hingga ketikan ganda

MacBook Pro 2019 15 inci
MacBook Pro 2019 15 inci (unsplash.com/RogerCai)

Tumpukan debu memicu malafungsi input yang sangat merusak produktivitas kamu. Banyak pengguna mengeluhkan bahwa tombol yang ditekan sama sekali tidak merespons dengan memunculkan huruf di layar.

Masalah lainnya yang tidak kalah menyebalkan adalah respons ketikan yang berlebihan. Satu ketikan ringan bisa secara tidak menentu menghasilkan dua hingga tiga huruf berulang secara bersamaan.

4. Pengalaman mengetik kurang nyaman dan berisik

lustrasi MacBook baru
ilustrasi MacBook baru (pexels.com/ChristinaMorilo)

Bantalan yang terlalu dangkal membuat sensasi mengetik menjadi sangat kaku karena jari seolah membentur papan datar. Hal ini sangat mengurangi kenyamanan kamu, terutama saat harus mengetik naskah panjang.

Keluhan ini diperparah oleh suara ketukan komponen yang dihasilkan. Suara kliknya dinilai jauh lebih keras dan berisik dibandingkan dengan model generasi sebelumnya atau sesudahnya.

5. Biaya perbaikan yang sangat mahal

ilustrasi servis MacBook
ilustrasi servis MacBook (unsplash.com/Revendo)

Keputusan untuk merakit komponen secara menyatu membuat perbaikan kerusakan ini sangat menguras kantong. Teknisi tidak bisa sekadar mencabut satu tombol yang rusak, melainkan harus mengganti keseluruhan cangkang atas laptop.

Tingkat kerumitan yang tinggi ini membuat biaya servis membengkak tajam bagi para pengguna. Perusahaan akhirnya mendapat banyak kritik keras sampai terpaksa membuka program perbaikan secara gratis.

6. Revisi solusi yang tetap berujung kegagalan

MacBook
MacBook (unsplash.com/WesHicks)

Apple sebenarnya sempat merilis revisi generasi ketiga dengan menambahkan lapisan pelindung silikon di bawah bantalan. Tujuannya murni untuk memblokir debu agar tidak menyelinap masuk dan merusak mekanisme engsel.

Namun, inovasi pelindung tambahan ini nyatanya tetap gagal mengatasi keluhan tombol macet secara tuntas. Eksperimen panjang ini akhirnya resmi dihentikan dan perusahaan menyerah dengan kembali memasang mekanisme konvensional pada keluaran tahun berikutnya.

Ambisi Apple untuk menciptakan laptop super tipis nyatanya harus dibayar mahal dengan mengorbankan fungsi paling mendasar dari sebuah komputer. Rentetan masalah mekanis yang merusak produktivitas menjadi jawaban pasti kenapa butterfly keyboard di MacBook gagal total di pasaran. Jadi, ada baiknya kamu menghindari MacBook dengan butterfly keyboard ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More