ilustrasi pengguna AI, ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)
Salah satu tantangan terbesar dalam penerjemahan otomatis adalah cara AI menentukan kata yang paling mungkin sesuai dengan suatu kalimat. Sistem ini menggunakan pola dan probabilitas untuk menghasilkan terjemahan yang dianggap paling tepat. Namun, sesuatu yang kemungkinan besar benar belum tentu benar dalam setiap situasi. Perbedaan tersebut menjadi penting ketika sebuah teks memuat informasi sensitif atau membutuhkan ketepatan makna secara menyeluruh.
Yvon menilai bahwa mekanisme dasar sistem AI membuat pencapaian akurasi 100 persen masih sulit dibayangkan. Bahasa manusia memiliki banyak nuansa, perubahan makna, dan konteks yang gak selalu bisa diprediksi hanya dari pola kata. Karena itu, peningkatan kemampuan AI belum tentu menghilangkan seluruh risiko kesalahan. Bahkan, ketika hasil terjemahannya sudah terlihat sempurna, tetap ada kemungkinan makna tertentu meleset dari maksud penulis aslinya.
Meski demikian, Yvon memperkirakan teknologi penerjemahan akan terus berkembang melalui sistem yang mampu mengevaluasi dan memperbaiki hasil kerjanya sendiri. Misalnya, satu AI bertugas menerjemahkan teks, sistem kedua mengkritisi hasilnya, lalu sistem ketiga menghasilkan versi yang sudah diperbaiki. Menurutnya, kemajuan penting berikutnya adalah ketika AI mampu menunjukkan keraguan dan memberi tahu pengguna saat sistem tersebut gak yakin dengan hasil terjemahannya. Kemampuan mengakui ketidakpastian ini akan membantu pengguna menentukan kapan sebuah terjemahan perlu diperiksa lebih lanjut oleh manusia.
AI telah mengubah cara manusia menerjemahkan bahasa dengan menawarkan kecepatan, efisiensi, dan kemudahan yang sulit diabaikan. Untuk kebutuhan berisiko rendah, seperti memahami percakapan umum atau menerjemahkan deskripsi produk, teknologi ini bisa menjadi pilihan yang praktis. Akan tetapi, persoalan konteks, istilah hukum, akurasi medis, dan kesalahan makna menunjukkan bahwa penerjemah manusia masih memiliki peran penting. Oleh sebab itu, masih ada penyebab AI belum bisa gantikan penerjemah manusia seutuhnya. Ke depannya, kolaborasi antara AI dan manusia berpotensi menjadi pendekatan yang lebih efektif, sehingga pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat tanpa mengorbankan ketepatan informasi.