Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Extension, Plugin, dan Add-on Tidaklah Sama, Ini Perbedaannya

Extension, Plugin, dan Add-on Tidaklah Sama, Ini Perbedaannya
ilustrasi extension di Chrome (Unsplash/Swello)
Intinya Sih
  • Extension adalah software ringan yang memperluas fungsi aplikasi, biasanya browser, bekerja efisien dalam sandbox dan dibangun dengan bahasa web seperti HTML, CSS, dan JavaScript.
  • Plugin merupakan kode biner terpisah dengan akses sistem lebih dalam, dulu populer lewat Flash namun kini banyak digunakan di aplikasi audio dan desain seperti VST atau Photoshop.
  • Add-on berfungsi sebagai istilah umum untuk semua tambahan aplikasi, mencakup extension maupun integrasi pihak ketiga di platform seperti Mozilla, Google Workspace, hingga Microsoft Office.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tanpa disadari, kamu pasti sering menggunakan istilah extension, plugin dan add-on secara bergantian seolah ketiganya punya arti yang sama, padahal faktanya tidak. Perbedaan diantara ketiganya memang tidak terlalu signifikan, namun situasi ini semakin membingungkan karena beberapa aplikasi besar pun sering kali ikut mencampuradukkan istilah-istilah tersebut. Maka dari itu, perbedaan di antara ketiganya layak untuk dipahami lebih dalam. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Extension

Screenshot_4.png
ilustrasi extension di Chrome (dok. Pribadi)

Kamu mungkin pernah menganggap extension browser hanyalah semacam "plugin" biasa, tapi sebenarnya lebih dari itu. Extension merupakan software ringan yang dirancang khusus untuk memodifikasi atau memperluas fungsi aplikasi tertentu, biasanya browser, menggunakan bahasa yang memang sudah "dimengerti" oleh aplikasi tersebut. Extension untuk Chrome misalnya, dibangun dengan HTML, CSS, dan JavaScript, bahasa pemrograman asli web itu sendiri.

Karena arsitektur ini, extension bekerja secara efisien dan tidak boros sumber daya, apalagi sejak Google beralih ke sistem berbasis Service Worker di Manifest V3. Yang tidak kalah penting, extension berjalan di dalam sandbox, semacam ruang terisolasi yang mencegahnya mengakses sistem secara bebas. Extension hanya bisa melakukan apa yang kamu izinkan, tidak lebih. Meskipun begitu, ada baiknya untuk mengecek izin yang diminta setiap extension secara berkala.

2. Plugin

Screenshot_5.png
ilustrasi plugin di FL Studio (dok. Pribadi)

Istilah plugin dulu sering digunakan secara sembarangan untuk menyebut hampir semua hal yang lebih canggih dari biasanya. Itu tidak sepenuhnya salah, hanya kurang tepat. Secara teknis, plugin adalah kode biner yang dikompilasi terpisah (biasanya ditulis dalam bahasa pemrograman C++) dan berjalan di luar sandbox browser lewat standar yang disebut NPAPI, sehingga punya akses sistem yang cukup dalam.

Contoh paling terkenal adalah Adobe Flash yang bukan bagian dari browser, tapi diinstal sendiri dan dipanggil ketika browser butuh bantuan. Sayangnya, akses sistem yang besar menjadi celah keamanan yang besar pula. Flash menjadi sasaran empuk malware, sampai akhirnya dihapus total pada 2020. Di luar browser, ceritanya berbeda.

Di aplikasi DAW seperti Ableton dan FL Studio, plugin masih sangat hidup dalam bentuk VST, standar yang diperkenalkan Steinberg pada 1996 dan masih relevan sampai sekarang. VST bisa mensimulasikan synthesizer hardware, mengolah audio secara real-time dan bahkan memampatkan mix dengan latensi rendah karena langsung berjalan di CPU. Aplikasi editing gambar seperti Photoshop pun menggunakan konsep yang sama.

3. Add-on

Screenshot_6.png
ilustrasi add-on di Firefox (dok. Pribadi)

Add-on menjadi istilah paling umum dibanding extension atau plugin, di mana add-on bisa dibilang semacam “payung besar” yang mencakup semua jenis tambahan untuk suatu aplikasi. Mozilla dan Google Workspace menggunakannya untuk mengelompokkan berbagai jenis extension dan integrasi pihak ketiga. Microsoft memilih ejaan add-in (dengan huruf 'i') yang secara historis merujuk pada integrasi yang lebih dalam ke dalam sistem Office.

Di komunitas gaming, istilah add-on juga beredar luas dan sering digunakan bergantian dengan "mod" untuk menyebut konten tambahan di dalam sebuah game. Sementara itu, Grammarly menjadi salah satu contoh nyata betapa fleksibelnya penggunaan istilah-istilah ini. Grammarly disebut extension ketika dipasang di Chrome, tapi berubah jadi add-on ketika dipakai di Microsoft Word, padahal fungsi intinya sama saja.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa perbedaan antara extension, plugin dan add-on. Semoga ulasan di atas bermanfaat dan bisa membantumu lebih memahami mengapa ketiganya berbeda.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Related Articles

See More