Perbedaan Teknologi VAR pada Piala Dunia 2018 vs. 2026

VAR Piala Dunia 2018 masih mengandalkan pemeriksaan manual oleh tim video.
Piala Dunia 2026 memakai teknologi offside semiotomatis dan sensor pada bola.
Sistem VAR terbaru membuat keputusan lebih cepat dan akurat.
Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya teknologi video assistant referee (VAR) digunakan secara penuh dalam ajang Piala Dunia. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam cara wasit mengambil keputusan pada momen-momen penting pertandingan. Teknologi ini menjadi salah satu inovasi terbesar dalam sejarah sepak bola modern.
Delapan tahun kemudian, Piala Dunia 2026 menghadirkan sistem VAR yang jauh lebih canggih dibandingkan generasi pertama. Berbagai teknologi baru ditambahkan untuk mempercepat pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan tingkat akurasi. Berikut perbedaan teknologi VAR pada Piala Dunia 2018 vs. 2026.
1. VAR 2018 masih mengandalkan pemeriksaan manual

Pada Piala Dunia 2018, tim VAR bekerja dari video operation room (VOR) yang terpusat di Moskow. Mereka memeriksa tayangan ulang dari berbagai sudut kamera sebelum memberikan rekomendasi kepada wasit di lapangan. Seluruh proses dilakukan dengan keterlibatan manusia yang sangat besar dalam setiap tahap pemeriksaan.
Penentuan offside pada era tersebut masih memerlukan proses manual untuk memilih momen umpan dan menarik garis offside. Operator harus memastikan posisi pemain dan waktu sentuhan bola secara teliti sebelum memberikan hasil. Ini menjadikan pemeriksaan membutuhkan waktu cukup lama sebelum keputusan akhir diumumkan.
2. Piala Dunia 2026 menggunakan semi-automated offside technology (SAOT)

Piala Dunia 2026 memanfaatkan SAOT untuk membantu VAR menentukan posisi offside. Sistem ini menggunakan jaringan kamera khusus yang memantau pergerakan pemain secara real-time. Data yang terkumpul kemudian diolah secara otomatis oleh sistem komputer.
Teknologi tersebut mampu mengirimkan peringatan otomatis ketika terjadi situasi offside yang jelas. VAR tetap melakukan verifikasi akhir sebelum keputusan diberikan kepada wasit utama. Proses ini membuat pemeriksaan menjadi lebih cepat dibandingkan metode yang digunakan pada 2018.
3. Bola pertandingan kini memiliki sensor pintar

Pada Piala Dunia 2018, VAR hanya mengandalkan rekaman video dari kamera stadion untuk menganalisis insiden. Tidak ada sensor khusus yang tertanam di dalam bola pertandingan. Karena itu, penentuan momen sentuhan bola bergantung sepenuhnya pada tayangan video.
Sebaliknya, bola resmi Piala Dunia 2026 dilengkapi teknologi connected ball yang memiliki sensor internal. Sensor tersebut mengirimkan data secara real-time pada sistem pertandingan. Informasi tambahan ini membantu VAR menentukan momen sentuhan bola dengan tingkat presisi lebih tinggi.
4. Pemindaian tubuh 3D menambah akurasi

Pada edisi 2018, posisi pemain ditentukan berdasarkan gambar kamera dan garis virtual yang dibuat oleh operator VAR. Sistem ini sudah memberikan bantuan penting bagi wasit dalam mengambil keputusan. Namun, tingkat detail yang tersedia masih terbatas jika dibandingkan dengan teknologi terbaru. Piala Dunia 2026 menggunakan pemindaian tubuh 3D dan pelacakan berbagai titik pada tubuh pemain. Teknologi ini memungkinkan sistem mengetahui posisi bagian tubuh yang relevan untuk menentukan offside.
5. Keputusan menjadi lebih cepat dan transparan

Salah satu kritik terhadap VAR generasi awal ialah lamanya proses pemeriksaan pada beberapa insiden pertandingan. Penonton di stadion maupun di rumah kadang harus menunggu cukup lama hingga keputusan diumumkan. Hal ini beberapa kali memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola.
Pada 2026, FIFA berupaya memangkas waktu pemeriksaan melalui kombinasi otomatisasi dan sensor pintar. Sistem offside semiotomatis juga membantu mempercepat proses analisis sebelum keputusan dibuat. Hasilnya ialah pengalaman pertandingan lebih lancar.
VAR dalam Piala Dunia 2018 merupakan langkah awal revolusioner dalam penggunaan teknologi untuk membantu wasit. Sementara itu, Piala Dunia 2026 teknologinya berkembang menjadi ekosistem yang jauh lebih canggih dengan bantuan kamera pintar, sensor bola, pemindaian 3D, dan kecerdasan buatan. Pertanyaannya, akan seperti apa teknologi VAR pada masa mendatang?


















