ilustrasi logo IBM (unsplash.com/Carson Masterson)
IBM (International Business Machines Corporation) juga menemukan bahwa AI belum mampu menangani seluruh kebutuhan operasional perusahaan. Sebelumnya, perusahaan memanfaatkan AI untuk menangani berbagai pekerjaan administrasi dan sumber daya manusia (SDM). AI mampu menyelesaikan sekitar 94 persen permintaan rutin karyawan, seperti pertanyaan mengenai cuti, kebijakan perusahaan, hingga administrasi dasar.
Namun, sekitar 6 persen kasus yang lebih kompleks tetap membutuhkan campur tangan manusia karena memerlukan pertimbangan, komunikasi, dan empati. Itu sebabnya, IBM tetap memperluas perekrutan, terutama untuk posisi tingkat pemula di bidang AI dan hybrid cloud sepanjang 2026. Kepala SDM IBM, Nickle Lamoreaux, mengatakan perusahaan tetap membutuhkan regenerasi talenta agar tidak kekurangan sumber daya manusia di masa depan.
Kondisi serupa juga terjadi di CBA (Commonwealth Bank of Australia). Tahun lalu, bank tersebut memangkas sekitar 45 posisi layanan pelanggan setelah meluncurkan bot suara berbasis AI. Saat itu, CBA memperkirakan teknologi tersebut dapat mengurangi volume panggilan ke layanan pelanggan sehingga kebutuhan tenaga kerja ikut berkurang. Namun, implementasinya tidak berjalan sesuai harapan.
Bot suara tersebut kesulitan menangani keluhan yang lebih kompleks sehingga banyak pelanggan tetap meminta bantuan petugas manusia. Akibatnya, volume panggilan ke layanan pelanggan justru meningkat. Kondisi tersebut mendorong CBA membatalkan sebagian kebijakan pengurangan tenaga kerja dan kembali memperkuat layanan pelanggan yang melibatkan manusia.