“Kami ingin menciptakan AI yang tidak hanya menjawab perintah, tetapi benar-benar memahami konteks dan kebutuhan penggunanya. Proses iterasi dan debugging justru menjadi pengalaman belajar terbesar bagi kami,” tutur Davin Loana, perwakilan Tim Lumyx pengembang Alex Your Truly Personal AI.
Samsung Umumkan Tim Terbaik Kategori Siswa dan Mahasiswa

- Samsung Electronics Indonesia mengumumkan Tim Lumyx dari SMA Darma Yudha dan Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana sebagai tim terbaik Samsung Innovation Campus Batch 7.
- Tim Lumyx menciptakan Alex, asisten AI berbasis IoT yang berfungsi sebagai pendamping belajar dengan interaksi natural serta kemampuan memahami konteks pengguna secara berkelanjutan.
- Tim Outliers menghadirkan PhysioTrack, solusi rehabilitasi pasca stroke berbasis AI dan IoT yang memungkinkan terapi jarak jauh dengan pemantauan data fisiologis secara real-time.
Samsung Electronics Indonesia baru saja mengumumkan dua tim terbaik dari masing-masing kategori peserta dalam program Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7 pada Culmination Event. Tim Lumyx dari SMA Darma Yudha Kota Pekanbaru, Riau dan Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana Kota Salatiga, Jawa Tengah terpilih menjadi tim terbaik pertama setelah melalui rangkaian pembelajaran, mentoring, dan proses seleksi nasional yang ketat.
Pada babak Final Judging, para finalis mempresentasikan solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang diangkat dari permasalahan nyata di sekitar mereka. Kriteria penilaian dari para juri dilakukan berdasarkan presentasi dan penyampaian ide, kesesuaian masalah dan solusi, demonstrasi prototipe, Integrasi AI dan IoT, pemahaman teknis selama tanya jawab dengan juri serta inovasi dan potensi masa depan.
The Best Team kategori siswa
Dua solusi terbaik tahun ini memperlihatkan bagaimana AI dan IoT dapat diterapkan secara kontekstual untuk menjawab tantangan masyarakat. Alex, Personal AI Assistant berbasis IoT yang dikembangkan oleh Tim Lumyx–The Best Team Pertama dari Kategori Siswa, dirancang sebagai learning companion sekaligus asisten personal dengan interaksi yang natural.
Tidak hanya merespons perintah, Alex mampu mendengarkan secara real-time, merangkum informasi, serta membangun memori personal pengguna secara berkelanjutan.
Dengan dukungan pemrosesan audio-visual serta machine learning berbasis edge dan server, Alex menghadirkan pengalaman interaksi yang lebih kontekstual tanpa memerlukan aplikasi yang kompleks.
The Best Team kategori mahasiswa

Sementara itu, PhysioTrack dari Tim Outliers–The Best Team Pertama dari Kategori Mahasiswa menghadirkan solusi rehabilitasi pasca stroke berbasis AI dan IoT yang memungkinkan pasien menjalani terapi dari rumah secara lebih terukur dan tetap terpantau oleh terapis.
Melalui integrasi sensor IoT, sistem ini mengumpulkan data latihan dan indikator fisiologis yang kemudian dianalisis oleh model AI untuk menghasilkan status risiko serta rekomendasi berbasis data. Pendekatan ini meningkatkan akses terapi sekaligus menjaga kualitas pemantauan klinis.
“Kami melihat banyak pasien kesulitan menjalani terapi rutin. Melalui integrasi AI dan IoT, kami ingin menghadirkan sistem yang membantu pasien berlatih dari rumah, namun tetap terhubung dengan terapis melalui data yang terukur,” ujar Gaezka Ardhika Putra, perwakilan Tim Outliers.
Penguatan kompetensi AI dan IoT
Momentum ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan akan talenta teknologi nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 talenta digital per tahun untuk mendukung percepatan transformasi digital, menjadikan penguatan kompetensi AI dan IoT sebagai kebutuhan strategis bangsa.
Kedua tim menunjukkan tidak hanya kecanggihan teknologi, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap masalah yang ingin diselesaikan. Melalui pendekatan project-based learning, peserta membangun solusi yang aplikatif, teruji, dan berorientasi pada dampak nyata.
Bagi kedua tim terbaik, perjalanan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan proses pembelajaran yang membentuk cara pandang mereka terhadap teknologi sebagai solusi.


















