Comscore Tracker

Kenali Fitur LinkedIn untuk Lawan Kekerasan dan Pelecehan

Mari kita ciptakan komunitas daring yang positif

Dalam situasi yang tidak menentu, komunitas internet menjadi tempat di mana orang-orang membangun komunitas. Komunitas ini sangatlah beragam, salah satunya LinkedIn.

LinkedIn adalah salah satu platform profesional digital di mana setiap orang dapat membangun koneksi dan juga mencari pengalaman kerja yang baru. Namun sayangnya, tidak semua orang menggunakan LinkedIn dengan bijak. 

Di beberapa negara seperti Australia,  perempuan mendapatkan pesan privat yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Salah satu perempuan yang mengalami hal tersebut adalah Nadia Owen. Nadia mendapatkan pesan bahwa seseorang mengagumi matanya, seperti yang dikutip dari ABC News

Konten ini tentunya tidak dapat diterima atau ditoleransi. LinkedIn juga mengatakan bahwa mereka menggunakan pengembangan teknologi dan juga tim yang dapat melindungi komunitas.  

Meski di Indonesia belum ada yang secara langsung mengalami kekerasan atau pelecehan verbal dari situs mencari pekerjaan seperti LinkedIn, kalian harus tetap tau dan paham bagaimana cara untuk menghadapinya. Karena ada beberapa fitur yang dapat digunakan untuk mengurangi kekerasan dalam dunia digital.

1. Mengerti apa pelecehan atau kekerasan verbal dan cara untuk melawannya

Mengerti apa itu pelecehan atau kekerasan verbal dapat membantu orang-orang untuk memberikan perlawanan kepada mereka yang kerap memberikan pesan tidak sopan. 

Terutama ketika mereka melakukannya secara privat. Kekerasan atau pelecehan verbal pada umumnya juga memiliki banyak arti, karena setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dan personal. Misalnya, ketika seseorang itu sudah membahas topik ras, atau agama ketika hal tersebut tidak masuk dalam topik pembicaraan. 

Dalam kasus kekerasan atau pelecehan verbal ini, LinkedIn menyarankan agar orang yang merasa terganggu sebaiknya melakukan pemblokiran.

2. LinkedIn mengambil tindakan keras dan juga preventif

Kenali Fitur LinkedIn untuk Lawan Kekerasan dan Pelecehanmemahami preventif yang telah diberikan (pexels.com/@karolina-grabowska)

LinkedIn mengambil tindakan keras jika ada pengguna yang dilaporkan, mereka juga membantu dengan tindakan-tindakan yang diharapkan dapat menjadi preventif.

Beberapa tindakan yang diambil LinkedIn termasuk; edukasi, mengetahui kekerasan atau pelecehan secara verbal dan dukungan yang diberikan.

  • Edukasi: LinkedIn berusaha sebaik mungkin untuk memberikan pengertian pentingnya peraturan Kebijakan Komunitas Profesional. Dalam peraturan Kebijakan Komunitas Profesional, setiap pengguna diharapkan saling menghargai satu sama lain. Selain itu setiap pengguna diharapkan berkomunikasi dengan satu sama lain dengan topik yang terkait dengan dunia pekerjaan. Bila ada seseorang yang melanggar kebijakan tersebut, LinkedIn akan membatasi visibilitas konten tertentu, atau menghapusnya. 
  • Pendeteksi kekerasan atau pelecehan verbal: LinkedIn  memiliki model pembelajaran mesin untuk mendeteksi potensi pembicaraan yang mengarah kepada pelecehan. Dengan ini, penerima dapat melaporkan percakapan yang tidak nyaman.
  • Dukungan: dukungan yang diberikan LinkedIn adalah dengan memberikan tips untuk menghadapi kekerasan atau pelecehan secara verbal. Cara itu termasuk melaporkan pengguna yang tidak bertanggung jawab atau melakukan pemblokiran. Setiap akun yang dilaporkan tidak akan bisa menghubungi pihak pelapor. 

3. Tingkatkan proteksi digital yang ada

Kenali Fitur LinkedIn untuk Lawan Kekerasan dan Pelecehanmeningkatkan proteksi digital (pixabay.com/geralt-9301)

Memang, selama pandemi ini kita lebih bergantung kepada platform digital yang ada untuk terus membangun koneksi dan pertemanan. Namun kita juga harus meningkatkan proteksi digital yang ada. 

  • Membuat kata sandi yang kuat;
  • Menggunakan password yang berbeda untuk setiap akun;
  • Unduh aplikasi dari platform autentikasi dan gunakan autentikasi dua faktor;
  • Jangan lupa untuk log-out seluruh akun yang digunakan;
  • Jangan menggunakan Wi-Fi untuk  berbagi informasi yang sensitif, misalnya akun bank online;
  • Gunakan software antivirus dan juga gunakan virtual private network ;
  • Jangan mudah membalas pesan dari media sosial dengan mudahnya. Jika ada mutual friends itu akan sangat membantu. 

Baca Juga: 7 Media Sosial yang Paling Laris di Benua Asia

4. Tetap waspada karena tingkat kekerasan secara online mengalami kenaikan selama pandemi

Kenali Fitur LinkedIn untuk Lawan Kekerasan dan Pelecehantetap waspada pada kekerasan online (pixabay.com)

Kekerasan atau pelecehan secara daring sebenarnya tidak hanya terjadi di situ jaringan LinkedIn. Namun juga terjadi pada kebanyakan platform digital lainnya. 

Sebuah survei terkait ini dilakukan di Australia, dilansir The Guardian. Di semua anak perempuan dan perempuan dewasa yang disurvei, jenis pelecehan online yang paling umum adalah:

  • bahasa yang kasar dan menghina (59 persen);
  • diikuti oleh rasa malu yang disengaja (41 persen);
  • serta body shaming dan ancaman kekerasan seksual (keduanya 39 persen). Yang tentunya tidak ingin didengar oleh kebanyakan orang. Apalagi, mengejek seseorang karena bentuk tubuhnya dapat berpengaruh kepada kesehatan mental mereka. 

5. Perhatikan juga mengenai catfishing

Kenali Fitur LinkedIn untuk Lawan Kekerasan dan Pelecehantetap waspada pada akun palsu (pexels.com/pixabay)

Fenomena catfishing ini cukup terjadi juga. Catfishing adalah sebuah penipuan sebuah identitas, di mana seseorang akan membuat sebuah persona yang baru dalam dunia digital. Kemudian mereka dapat menargetkan kepada individu yang mereka incar, seperti yang dikutip dari Online Tech Tips.

Sehingga, ketika kamu membalas sebuah direct message atau email, kamu harus memperhatikan tata bahasanya. Kemudian kamu juga dapat memperhatikan alamat email, jika alamat email tersebut dari sebuah perusahaan yang ternama, biasanya kalian dapat mencarinya di Google. 

Tentunya jika kekerasan digital ini terus terjadi, maka masyarakat tidak akan dapat membangun komunitas yang positif. Jadi kita harus bertindak.

Untuk menciptakan suasana digital yang ramah untuk semua orang, mari kita saling menghormati satu dengan yang lain. Agar kita semua dapat membangun komunitas yang positif di saat yang tidak menentu ini. Semoga kamu selalu aman bermedia sosial, ya!

Baca Juga: Ini 7 Tips Akun LinkedIn, untuk Melejitkan Peluang Karir

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya