SEWAKTU menjejakkan kaki di anak tangga pertama jembatan Desa Besalu yang tersembunyi di kawasan La Garrotxa, Provinsi Girona, Catalonia, Spanyol, memori masa kecil saya seketika bermunculan lagi. Saya seakan masuk ke dalam pusaran lorong waktu, dongeng-dongeng dalam buku cerita abad pertengahan tampak nyata di depan mata.
Saya langsung terpana saat melihat bangunan dan jembatan berbatu kokoh yang akan menghubungkan saya dengan sebuah desa dari masa lalu, dari abad ke-10 Masehi (Abad Pertengahan), desa yang sudah berdiri lebih dari 2000 tahun silam dan hingga kini masih dihuni para keturunan penduduk aslinya. Bayangkan!
Panjang jembatan yang dibangun pada abad ke-12 Masehi itu 44 meter. Tembok pembatasnya tebal, pintu gerbangnya tinggi menjulang dengan bagian atas yang membentuk lengkungan setengah lingkaran. Saya lalu membayangkan di masa silam, pintu itu tentu dijaga prajurit berbaju zirah rantai hauberk atau anyaman cincin logam, yang berdiri tegap di kedua sisinya. Tentu saja saya juga membayangkan mereka dilengkapi helm baja dengan pelindung wajah bercelah di bagian mata dan hidungnya, serta dipersenjatai pedang atau tombak panjang.
Imajinasi saya rasanya tidak terlalu berlebihan, karena selain untuk menahan aliran Sungai Fluvia, jembatan ini juga merupakan benteng pertahanan di masanya sehingga harus dijaga ketat. Dari informasi yang tertulis di pintu gerbang jembatan disebutkan asal usul jembatan ini sebetulnya tidak diketahui. Namun datanya disebutkan dalam dokumen pada tahun 1075 dan struktur dasarnya kemungkinan berasal dari masa itu.
Untuk melindungi desa dari banjir dan serangan musuh, jembatan tersebut harus sering dimodifikasi. Pertama pada tahun 1315, kemudian 1395 dengan penambahan menara pertahanan, lalu 1680, dan terakhir pada tahun 1960-an setelah sebagian hancur akibat ledakan pada tahun 1939, selama Perang Saudara Spanyol.
Meski sempat hancur beberapa kali akibat banjir dan perang saudara, kondisi jembatan dan desa Besalu kini masih sangat terawat. Terletak tidak jauh dari garis pantai Costa Brava, Besalu merupakan ibu kota pada abad ke-10 dan ke-11 dari sebuah wilayah independen yang membentang hingga ke barat sampai kota Cerdanya sebelum berada di bawah kendali Barcelona pada tahun 1111 Masehi. Cerdanya adalah lembah tinggi di Pegunungan Pyrenees, Eropa yang saat ini terbagi dua, wilayah utara yang berada di Prancis dan wilayah selatan yang berada di bawah kendali Spanyol.
Besalu meninggalkan warisan Yahudi dan Katolik, termasuk tiga gereja Romawi. Dua komunitas ini hidup bersama dalam damai hingga orang Yahudi diusir pada tahun 1492. Yang paling indah dari semuanya adalah pemandangan fantastis desa di seberang jembatan berbenteng abad ke-11 yang berkelok-kelok yang melintasi sungai.
Saat ini kondisi Besalu masih sangat terawat, bahkan pengunjung masih bisa melihat Mikve (pemandian ritual Yahudi) yang dibangun pada abad ke-12 . Pemandian ini merupakan salah satu dari sedikit pemandian ritual bergaya Yahudi yang tersisa di Eropa. Bagi penganut Yahudi di Besalu, setidaknya sekali dalam hidup mereka harus melakukan ritual di pemandian ini.
Menuju Mikve, pengunjung harus melewati sebuah pintu kecil dan menuruni anak-anak tangga. Ukuran pemandiannya tidak besar, sekitar 2 x 1 meter. Meski berada di bawah bangunan dekat sungai, sirkulasi udara di Mikve sangat baik. Alih-alih panas dan pengap, udaranya justru sejuk dengan hembusan angin dari jendela-jendela kecilnya. Namun saat ini lokasi pemandian tersebut ditutup untuk umum, hanya sesekali saja dibuka.
Besalu juga dikenal sebagai desa pandai besi yang terlihat dari simbol-simbol khusus di pintu rumah penghuninya. IDN Times mendapat kesempatan merangkum keindahan desa ini dalam berbagai potret akhir April 2026 lalu. Sudah siap masuk mesin waktu?
