Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Pertolongan Pertama untuk Pendaki yang Mengalami Heat Stroke

5 Pertolongan Pertama untuk Pendaki yang Mengalami Heat Stroke
ilustrasi mendaki saat musim panas (pexels.com/Nadia Hristova)
Intinya Sih
  • Heat stroke bisa menyerang pendaki akibat cuaca panas dan aktivitas berat, sehingga penting memahami langkah pertolongan pertama sebelum mendaki di musim panas.

  • Langkah utama meliputi memindahkan korban ke tempat teduh, melonggarkan pakaian, mendinginkan tubuh dengan air atau kompres dingin, serta memberi cairan jika masih sadar.

  • Korban harus terus dipantau tanda vitalnya dan segera dievakuasi ke tim medis untuk penanganan lanjutan meski kondisinya tampak membaik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki gunung memang menjadi salah satu kegiatan outdoor yang sangat menyenangkan dan menantang. Tetapi cuaca yang panas dan aktivitas fisik yang berat bisa membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat stroke yaitu suatu kondisi darurat ketika suhu tubuh meningkat drastis dan tubuh tidak lagi mampu mendinginkan dirinya.

Keadaan tersebut tentunya bisa dialami siapa saja, baik pendaki pemula maupun yang sudah berpengalaman. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap pendaki untuk mengetahui cara melakukan pertolongan pertama saat ada teman atau rekan pendaki yang mengalami heat stroke. Yuk, pelajari dan pahami cara penanganannya dengan baik sebelum melakukan pendakian di musim panas ya!

1. Pindahkan pendaki di tempat yang teduh atau ternaungi

ilustrasi pendaki di bawah pohon
ilustrasi pendaki di bawah pohon (pexels.com/Kamaji Ogino)

Saat anggota tim atau teman pendakianmu terserang heat stroke, langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah memindahkannya ke tempat yang teduh dan sejuk. Pilih lokasi yang memiliki naungan agar korban tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Beberapa tempat seperti di bawah pohon rindang atau di balik batu besar bisa digunakan sebagai lokasi untuk meredam panas sementara.

Jika tidak menemukan tempat untuk berlindung, kamu bisa memasang flysheet atau tenda darurat yang sederhana untuk mengurangi paparan panas. Pemilihan tempat ini sangat penting untuk mencegah peningkatan suhu pada tubuh pendaki yang mengalami heat stroke. Jika kondisi pendaki mulai membaik, jangan biarkan pendaki untuk langsung kembali berjalan atau mendaki sebelum mendapatkan penanganan yang memadai dari tim medis.

2. Longggarkan seluruh pakaian yang dikenakan dan turunkan suhu tubuh dengan segera

ilustrasi wanita sedang memakai kompres dingin
ilustrasi wanita sedang memakai kompres dingin (pexels.com/Engin Akyurt)

Setelah pendaki yang mengalami heat stroke ditempatkan di lokasi yang sejuk dan teduh, kamu bisa mulai melepaskan atau melonggarkan pakaian yang dikenakannya. Beberapa diantaranya seperti carrier, jaket tebal, ikat pinggang, hingga pakaian yang terlalu ketat. Hal ini harus dilakukan karena perlengkapan atau atribut tersebut dapat menahan dan memerangkap panas di dalam tubuh.

Biarkan tubuh pendaki mendapatkan sirkulasi udara yang baik agar proses penurunan panas berlangsung lebih efektif. Selain melonggarkan seluruh pakaian, kamu juga wajib membasahi tubuh korban dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air bersih. Lalu lakukan pendinginan pada area leher, ketiak, selangkangan, dan pergelangan tangan. Jika tersediace pack gel atau kompres dingin, langsung tempelkan pada titik-titik tersebut dengan perlahan.

3. Berikan cairan jika pendaki yang mengalami heat stroke masih sadar

ilustrasi menuangkan air putih
ilustrasi menuangkan air putih (pexels.com/cottonbro studio)

Apabila pendaki yang mengalami heat stroke masih memiliki kesadaran penuh, yang ditandai dengan mampu berkomunikasi dan dapat menelan dengan baik, maka kamu bisa memberikan dia air minum. Lakukan secara perlahan dan berikan dalam jumlah sedikit tetapi terus berulang. Jika kamu memiliki cairan elektrolit, berikan minuman ini pada pendaki yang mengalami heat stroke agar tenaganya bisa pulih lebih cepat.

Pastikan pendaki menelan air dalam posisi duduk tegak atau setengah duduk untuk mengurangi risiko tersedak. Jangan pernah memaksa korban untuk minum apabila dia terlihat mengantuk, linglung, mengalami penurunan kesadaran, kejang, atau tidak mampu menelan dengan baik. Ini dikarenakan cairan dapat masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

4. Selalu pantau kondisi dan tanda vital dari korban

ilustrasi pendaki yang sedang istirahat
ilustrasi pendaki yang sedang istirahat (pexels.com/cottonbro studio)

Setelah diberikan pertolongan pertama dan korban sedang istirahat, tetap pantau kondisinya dengan memperhatikan tingkat kesadaran, pola pernapasan, denyut nadi, serta respons terhadap lingkungan sekitar. Perubahan kondisi dapat terjadi dengan cepat pada penderita heat stroke, sehingga pemantauan secara berkala sangat penting untuk mengetahui apakah korban membaik atau justru mengalami penurunan. Selain itu, kamu juga wajib mencatat setiap perubahan yang terlihat agar informasi tersebut dapat disampaikan kepada tim tenaga medis nantinya.

Apabila korban mulai kehilangan kesadaran tetapi masih bisa bernapas, segera posisikan tubuhnya dalam posisi pemulihan. Cara ini dilakukan agar jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko tersedak jika terjadi muntah. Namun, jika korban tidak bernapas atau tidak ditemukan denyut nadi, segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) apabila kamu telah memiliki pengalaman atau pelatihan yang memadai.

5. Segera lakukan evakuasi dan hubungi tim medis yang ada di sekitar lokasi

ilustrasi tim medis
ilustrasi tim medis (pexels.com/Aleson Padilha)

Meski kondisi pendaki yang mengalami heat stroke sudah membaik, pendaki tersebut tetap harus di evakuasi dan dipantau secara menyeluruh oleh tim medis. Oleh karena itu, setelah melakukan pertolongan pertama, segera hubungi tim penyelamat, petugas basecamp, atau relawan yang ada di sekitar lokasi untuk mendapatkan bantuan sesegera mungkin. Jika bisa, lakukan evakuasi mandiri menuju pos terdekat agar bisa segera ditangani.

Selama proses evakuasi berlangsung, tetap lakukan upaya penurunan suhu pada tubuh korban dengan menggunakan kain basah, kompres dingin, atau mengipasi tubuhnya secara berkala. Hindari membiarkan korban berjalan sendiri atau melanjutkan pendakian karena aktivitas fisik dapat meningkatkan suhu tubuh dan memperburuk kondisinya. Kalau sudah bertemu dengan tim medis, berikan gejala dan informasi detail terkait pertolongan pertama yang sudah dilakukan untuk mempermudah penanganan.

Dengan mengikuti beberapa cara di atas, kamu dapat memberikan pertolongan pertama yang tepat kepada pendaki yang mengalami heat stroke sambil menunggu bantuan medis tiba. Penanganan yang cepat dan benar dapat membantu menurunkan risiko komplikasi serius serta meningkatkan peluang keselamatan korban. Jadi, jika ada rekan sependakian yang mengalami heat stroke, jangan panik dan lakukan hal-hal di atas dengan cermat ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More