Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Fakta Westermoskee, Masjid Modern di Jantung Amsterdam
Pemandangan bagian luar dari depan Westermoskee. (commons.wikimedia.org/FaceMePLS)
  • Westermoskee di Amsterdam berawal dari aspirasi komunitas Turki sejak 1980-an untuk membangun masjid sekaligus pusat pembelajaran dan kegiatan budaya Muslim.
  • Pembangunan dimulai pada 2013 dan masjid dibuka pada 2016, dengan kapasitas sekitar 1.700 jamaah setelah dukungan lahan serta pendanaan dari berbagai pihak.
  • Dirancang Marc dan Nada Breitman, masjid ini memadukan gaya Usmaniyah dan modern, memiliki kubah 20 meter, dua menara 30 meter, serta biaya sekitar 15 juta euro.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Islam adalah agama terbesar kedua di Belanda. Berdasarkan data CBS, pada tahun 2019, negara Eropa Barat tersebut memiliki populasi sekitar 17 juta jiwa. Sekitar lima persen, atau kurang lebih 850.000 orang, merupakan Muslim. Hampir separuhnya memiliki latar belakang keturunan Turki, sementara yang lainnya berasal dari Asia dan wilayah Eropa lainnya.

Westermoskee (Masjid Barat) terletak di Piri Reisplein, Amsterdam. Desainnya memadukan gaya Barat dengan seni serta gagasan Usmaniyah. Masjid ini juga mengambil nama dan konsep desain utamanya dari Hagia Sophia yang terkenal di Istanbul, Turki. Yuk, simak fakta unik tentang Westermoskee berikut ini, guys!

1. Ide pembangunannya berawal pada era 1980-an

Pemandangan parkiran sepeda di luar Westermoskee. (commons.wikimedia.org/Guilhem Vellut)

Rencana pembangunan Westermoskee membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan. Sejak tahun 1980-an, Priyadi Abadi mengatakan bahwa komunitas Turki di Belanda telah mengupayakan adanya sebuah masjid yang megah. Lebih dari sekadar tempat beribadah, direncanakan pula sebagai pusat pembelajaran dan kegiatan budaya di kalangan umat Muslim Belanda.

Proyek ini dipimpin oleh Milli Gorus, sebuah gerakan Islam yang didirikan pada tahun 1969. Kelompok ini berupaya membantu umat Islam menjaga iman dan identitas di tengah masyarakat Barat yang sebagian besar sekuler. Milli Gorus menggalang dana, membangun hubungan di tingkat lokal, dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendukung tujuan-tujuannya.

2. Dibuka pada tahun 2016

Pemandangan Westermoskee dari Sungai Schinkel. (commons.wikimedia.org/Guilhem Vellut)

Lahan untuk Westermoskee awalnya dibeli oleh Pemerintah Turki. Kemudian dijual kepada Pemerintah Kota Amsterdam sebagai bagian dari rencana untuk menjalin ikatan budaya. Republika menambahkan bahwa dana hasil penjualan selanjutnya digunakan untuk membantu membiayai pembangunan masjid. Kesepakatan ini turut menyediakan lahan dan dana yang diperlukan bagi proyeknya.

Pembangunan Westermoskee dimulai pada tahun 2013. Proses pembangunannya memakan waktu sekitar dua tahun hingga rampung. Masjid ini dapat menampung sekitar 1.700 orang sekaligus. Westermoskee dibuka untuk umum pada tahun 2016 sebagai tempat untuk berdoa dan beribadah.

3. Arsitektur Westermoskee

Pemandangan aula salat di dalam Westermoskee. (commons.wikimedia.org/Dosseman)

Westermoskee dikenal luas karena desainnya yang unik. Masjid ini dirancang oleh dua arsitek asal Prancis, Marc dan Nada Breitman, yang dikenal karena memadukan gaya lama dengan tampilan modern. Lokasinya di tepi Sungai Schinkel juga menambah keindahannya.

Westermoskee memiliki kubah besar setinggi 20 m, dua menara setinggi 30 m, dan fasad dari marmer putih. Desainnya mengadopsi gaya Usmaniyah, namun tetap selaras dengan nuansa kota Amsterdam. Aula salat utama dilengkapi dengan karpet merah, kaligrafi Arab berwarna emas, serta lampu kristal besar yang menciptakan suasana tenang. Adapun mihrab yang penuh detail juga menampilkan keindahan seni Islam klasik.

4. Pembangunannya menelan biaya sekiar 15 juta euro

potret menara dan kubah Westermoskee (commons.wikimedia.org/Guilhem Vellut)

Biaya pembangunan Westermoskee mencapai sekitar 15 juta euro (Rp308,5 miliar). Sebagian besar berasal dari sumbangan komunitas Turki. IGMG turut mengelolanya melalui upaya penggalangan dana yang berlangsung lama selama bertahun-tahun sebelum masjid dibangun.

Westermoskee juga mendapatkan dukungan dari Pemkot Amsterdam dan Turki. Turki turut berkontribusi pada beberapa aspek desain serta makna budayanya. Menunjukkan bahwa proyek pembangunan masjid di Eropa dapat terlaksana melalui dialog terbuka dan rasa saling percaya. Hal ini juga membuktikan bagaimana hubungan yang baik dapat membantu mewujudkan proyek semacam itu.

Westermoskee merupakan masjid penting di Amsterdam yang dikenal karena gaya Usmaniyah dan desain modernnya. Masjid ini juga menjadi wadah bagi kegiatan ibadah, pembelajaran, dan kehidupan bermasyarakat, menjadikannya bagian penting dari kekayaan budaya kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article