Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Negara dengan Destinasi Dark Tourism, Kini Jadi Magnet Wisatawan
ilustrasi negara dengan dark tourism (pexels.com/MEHMET KAYNAR)
  • Dark tourism mengajak wisatawan mempelajari jejak kekuasaan, penyalahgunaan wewenang, dan dampaknya bagi masyarakat melalui situs sejarah yang dikelola sebagai ruang edukasi.
  • Mausoleum Ferdinand Marcos di Filipina, Palace of the Parliament di Rumania, serta reruntuhan Istana Mobutu di Kongo merekam kontroversi politik dan kemewahan kekuasaan.
  • ICAC Exhibition Gallery di Hong Kong menampilkan perjalanan reformasi antikorupsi lewat arsip, multimedia, dan simulasi penyelidikan, sekaligus memperkaya wisata edukasi kota tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua destinasi wisata lahir dari kisah yang indah. Di berbagai belahan dunia, ada tempat-tempat yang justru menyimpan jejak kekuasaan, ambisi, hingga penyalahgunaan wewenang yang pernah mengguncang sebuah negara. Alih-alih dihapus dari peta, sebagian lokasi tersebut dipertahankan sebagai pengingat bahwa sejarah, sekelam apa pun, tetap memiliki nilai untuk dipelajari.

Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari dark tourism atau wisata sejarah kelam. Wisatawan datang bukan untuk mengagungkan tokoh yang pernah berkuasa, melainkan memahami konteks zamannya, melihat langsung peninggalan sejarah, dan merenungkan dampaknya terhadap masyarakat. Menariknya, sejumlah negara berhasil mengelola warisan kontroversial tersebut menjadi destinasi edukatif yang juga menggerakkan ekonomi lokal.

Berikut empat tempat yang memperlihatkan bagaimana sejarah dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang berkunjung. Cek, yuk!

1. Mausoleum Ferdinand Marcos, Filipina

ilustrasi mausoleum dan museum di Filipina (pexels.com/Archie Binamira)

Di Kota Batac, Provinsi Ilocos Norte, berdiri sebuah mausoleum sekaligus museum yang berkaitan dengan mantan Presiden Ferdinand Marcos. Semasa hidupnya, Marcos merupakan sosok yang hingga kini masih memicu perdebatan di Filipina. Pemerintahannya dikenang melalui berbagai pencapaian pembangunan, tetapi juga dibayangi tuduhan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, serta praktik otoritarianisme yang menjadi bagian penting dalam sejarah politik negara tersebut. Karena itulah, lokasi ini lebih sering diposisikan sebagai ruang untuk memahami sejarah Filipina daripada sekadar mengenang seorang pemimpin.

Bagi wisatawan, museum ini menghadirkan berbagai koleksi foto, dokumen, pakaian, hingga benda-benda pribadi yang menggambarkan perjalanan politik Marcos. Pengunjung dapat melihat bagaimana narasi sejarah disajikan dari berbagai sudut pandang. Tidak sedikit pula akademisi, mahasiswa, maupun jurnalis yang datang untuk mempelajari dinamika politik Filipina secara lebih mendalam. Pengalaman tersebut membuat kunjungan terasa lebih reflektif dibandingkan wisata biasa.

Dari sisi pariwisata, keberadaan mausoleum dan museum turut menghidupkan perekonomian Batac. Hotel, rumah makan, pusat oleh-oleh, hingga pemandu wisata memperoleh manfaat dari kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Tempat ini menunjukkan bahwa destinasi bersejarah dapat tetap memberikan nilai ekonomi selama dikelola sebagai sarana edukasi, bukan glorifikasi terhadap tokoh yang kontroversial.

2. Palace of the Parliament, Rumania

ilustrasi Palace of The Parliament di Rumania (pexels.com/Uiliam Nörnberg)

Sekilas, Palace of the Parliament di Bucharest tampak seperti istana megah yang mencerminkan kejayaan sebuah negara. Bangunan raksasa ini memiliki lebih dari seribu ruangan dan dikenal sebagai salah satu gedung administratif terbesar sekaligus terberat di dunia. Namun, di balik kemegahannya tersimpan kisah yang jauh lebih kompleks. Gedung ini dibangun atas perintah Nicolae Ceaușescu, pemimpin komunis Rumania yang pemerintahannya kemudian dikritik karena kultus individu, penindasan politik, dan gaya hidup elite yang bertolak belakang dengan kondisi ekonomi masyarakat. Proyek pembangunan gedung ini bahkan mengorbankan ribuan rumah, gereja, dan bangunan bersejarah yang digusur demi mewujudkan ambisi sang pemimpin.

Kini, suasana Palace of the Parliament sangat berbeda dibandingkan saat pertama kali dibangun. Alih-alih menjadi simbol kekuasaan absolut, gedung tersebut telah dibuka untuk umum melalui berbagai tur berpemandu. Wisatawan dapat menyusuri lorong-lorong marmer yang panjang, ruang sidang yang megah, aula berhias lampu kristal raksasa, hingga balkon yang menawarkan panorama Kota Bucharest. Selama tur berlangsung, pemandu tidak hanya menjelaskan keindahan arsitekturnya, tetapi juga mengisahkan bagaimana proyek ambisius ini menjadi simbol kontradiksi antara kemegahan negara dan kesulitan hidup yang dialami banyak warga Rumania pada masa itu. Perpaduan antara arsitektur monumental dan kisah sejarah inilah yang membuat pengalaman berkunjung terasa begitu mendalam.

Dari perspektif pariwisata, Palace of the Parliament menjadi contoh menarik tentang bagaimana warisan sejarah yang kontroversial dapat dikelola secara bertanggung jawab. Setiap tahun, ribuan wisatawan dari berbagai negara membeli tiket untuk mengikuti tur resmi, yang secara langsung mendukung aktivitas ekonomi di Bucharest. Hotel, restoran, kafe, perusahaan tur, hingga pelaku usaha kreatif memperoleh manfaat dari tingginya jumlah kunjungan. Yang lebih penting, destinasi ini membuktikan bahwa sebuah bangunan tidak harus dipandang sebagai simbol kebanggaan semata.

3. Istana Mobutu Sese Seko, Republik Demokratik Kongo

ilustrasi istana di Republik Kongo (unsplash.com/Valdhy Mbemba)

Di tengah hutan tropis Kota Gbadolite, Republik Demokratik Kongo, berdiri reruntuhan kompleks istana yang pernah dijuluki “Versailles di Afrika”. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Kompleks ini dibangun dengan kemewahan luar biasa atas perintah Mobutu Sese Seko, mantan Presiden Zaire—nama Republik Demokratik Kongo pada masa itu. Di tengah kondisi ekonomi negara yang terus memburuk, Mobutu dikenal menjalani gaya hidup yang sangat mewah dan kerap disebut dalam berbagai kajian sebagai salah satu contoh pemimpin kleptokrat. Setelah pemerintahannya berakhir pada akhir 1990-an, kompleks istana tersebut perlahan ditinggalkan hingga berubah menjadi bangunan yang dipenuhi semak belukar dan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Meski sebagian besar bangunannya telah rusak, kawasan Gbadolite justru menarik perhatian wisatawan dengan minat khusus, seperti peneliti sejarah, fotografer dokumenter, jurnalis, hingga pencinta dark tourism. Mereka datang bukan untuk menikmati kemewahan istananya, melainkan menyaksikan bagaimana sebuah simbol kekuasaan dapat berubah menjadi monumen bisu akibat pergantian zaman. Di beberapa sudut bangunan, pengunjung masih dapat melihat sisa landasan pesawat, aula besar, dan struktur bangunan yang memperlihatkan betapa megahnya kompleks tersebut pada masa kejayaannya. Suasana sunyi yang menyelimuti kawasan ini menghadirkan pengalaman perjalanan yang berbeda dibandingkan destinasi wisata pada umumnya.

Walaupun belum berkembang menjadi destinasi wisata arus utama karena keterbatasan infrastruktur dan kondisi keamanan di beberapa wilayah Republik Demokratik Kongo, Gbadolite sering menjadi bahan kajian dalam diskusi mengenai heritage tourism dan pengelolaan situs sejarah kontroversial. Bagi para pelancong yang tertarik pada sejarah politik Afrika, tempat ini menjadi pengingat bahwa kemewahan yang dibangun di atas penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu mampu bertahan menghadapi perubahan sejarah.

4. ICAC Exhibition Gallery, Hongkong

ilustrasi gedung ICAC di Hongkong (commons.wikimedia.org/Tramride)

Di jantung Hong Kong, terdapat sebuah destinasi yang mungkin tidak seramai kawasan Victoria Peak atau Tsim Sha Tsui, tetapi memiliki nilai edukasi yang luar biasa, yakni ICAC Exhibition Gallery. Galeri ini dikelola oleh Independent Commission Against Corruption (ICAC), lembaga antikorupsi yang berdiri pada 1974. Kehadirannya berangkat dari sejarah ketika korupsi pernah mengakar dalam berbagai sektor pelayanan publik di Hongkong pada dekade 1960-an hingga awal 1970-an. Alih-alih menutupi masa lalu tersebut, Hongkong memilih mengabadikannya dalam bentuk ruang pamer yang terbuka bagi masyarakat. Dengan begitu, pengunjung dapat memahami bahwa perubahan besar hanya dapat terjadi melalui komitmen, reformasi kelembagaan, dan keterlibatan publik yang berkelanjutan.

Saat memasuki galeri, wisatawan diajak mengikuti perjalanan Hongkong dalam membangun budaya integritas. Beragam koleksi arsip, rekaman dokumenter, instalasi multimedia, serta simulasi penyelidikan memperlihatkan bagaimana ICAC mengubah pendekatan pemberantasan korupsi melalui tiga pilar utama, yaitu penindakan, pencegahan, dan pendidikan masyarakat. Penyajian yang interaktif membuat materi yang tergolong kompleks menjadi mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia. Karena itulah, galeri ini kerap dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, akademisi, aparatur pemerintahan, hingga wisatawan internasional yang ingin melihat secara langsung bagaimana sebuah kota membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang lebih transparan.

Bagi pencinta heritage tourism dan wisata edukasi, ICAC Exhibition Gallery menawarkan pengalaman yang berbeda dari museum pada umumnya. Tempat ini tidak menampilkan kemegahan bangunan bersejarah ataupun peninggalan tokoh kontroversial, melainkan menghadirkan kisah tentang perubahan sosial yang berhasil diwujudkan melalui reformasi institusi. Keberadaannya juga memperkaya wajah pariwisata Hongkong yang selama ini lebih dikenal lewat gedung pencakar langit, pusat belanja, dan wisata kuliner.

Perjalanan ke berbagai destinasi di atas menunjukkan bahwa wisata tidak selalu identik dengan panorama alam yang memukau atau bangunan berarsitektur indah. Di balik mausoleum, istana, hingga museum antikorupsi, tersimpan kisah tentang naik-turunnya sebuah bangsa dalam menghadapi kekuasaan, penyalahgunaan wewenang, dan upaya membangun pemerintahan yang lebih baik. Ketika dikelola secara bertanggung jawab, tempat-tempat tersebut menjadi ruang refleksi yang mengajak wisatawan memahami bahwa sejarah, termasuk bab-bab yang paling kelam sekalipun, memiliki nilai penting untuk dikenang dan dipelajari. Pengalaman seperti inilah yang membuat heritage tourism dan dark tourism semakin diminati oleh pelancong yang ingin membawa pulang wawasan, bukan sekadar koleksi foto.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article