Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Benteng Tua di Indonesia yang Menyimpan Misteri Kelam Masa Kolonial
Fort Marlborough (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)
  • Benteng Belgica, Oranje, dan Victoria di Maluku merekam perebutan kekuasaan Portugis, VOC, serta kontrol perdagangan rempah, termasuk perlawanan masyarakat Banda dan eksekusi Pattimura pada 1817.
  • Fort Marlborough di Bengkulu dibangun Inggris pada 1714–1719 sebagai basis pertahanan, kemudian dilengkapi gudang senjata dan penjara; kini situs bercorak kura-kura itu menjadi wisata sejarah.
  • Benteng Pendem Ambarawa atau Fort Willem I di Kabupaten Semarang berfungsi sebagai pusat pertahanan, gudang peluru, dan barak Belanda, serta kini menjadi cagar budaya dan wisata edukasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Benteng tua menjadi salah satu jejak sejarah yang masih berdiri di berbagai wilayah Indonesia. Bangunan pertahanan ini tidak hanya menampilkan arsitektur masa lampau, tetapi juga menyimpan kisah tentang perdagangan, perebutan kekuasaan, dan konflik kolonial. Benteng-benteng tersebut adalah saksi perjalanan sejarah di berbagai penjuru daerah Indonesia.

Dari Maluku hingga Bengkulu, sejumlah benteng peninggalan bangsa Eropa masih dapat dijumpai dan menjadi destinasi sejarah yang menarik. Setiap benteng memiliki latar belakang berbeda yang berkaitan dengan kepentingan kolonial pada masanya. Di balik tembok tua yang masih berdiri kokoh, tersimpan cerita yang membuatnya layak masuk dalam daftar destinasi sejarah berikut.

1. Benteng Belgica

Benteng Belgica (commons.wikimedia.org/David Stanley)

Benteng Belgica berada di Banda Neira, Maluku, dan dikenal sebagai salah satu benteng peninggalan VOC yang masih berdiri hingga kini. Benteng ini awalnya merupakan benteng Portugis sebelum direbut dan dibangun kembali oleh VOC pada tahun 1611 atas perintah Pieter Both. Benteng ini menjadi bagian dari jejak sejarah kolonial di Kepulauan Banda.

Pembangunan Benteng Belgica berkaitan dengan upaya VOC menghadapi perlawanan masyarakat Banda terhadap monopoli pala. Benteng ini beberapa kali mengalami pembangunan ulang dan pemugaran pada masa berikutnya. Keberadaannya masih menggambarkan kuatnya pengaruh VOC di kawasan Banda pada masa lalu.

2. Benteng Oranje

Benteng Oranje (commons.wikimedia.org/Wereldmuseum Amsterdam)

Benteng Oranje di Ternate menjadi salah satu saksi perkembangan kekuasaan VOC di Maluku. Benteng ini dibangun oleh seorang Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge yang membantu Sultan Ternate mengusir bangsa Spanyol pada awal abad ke-17. VOC kemudian memperoleh izin untuk mendirikan benteng di lokasi bekas Benteng Melayu.

Benteng Oranje berkembang menjadi pusat aktivitas VOC di Maluku. Benteng ini juga menjadi lokasi Dewan Hindia Belanda menyelenggarakan berbagai rapat penting. Keberadaan benteng ini menunjukkan peran strategis Ternate dalam perdagangan rempah pada masa kolonial.

3. Benteng Victoria

Benteng Victoria (commons.wikimedia.org/Wereldmuseum Amsterdam)

Benteng Victoria berada di pusat Kota Ambon dan menjadi salah satu benteng kolonial yang paling dikenal di Maluku. Menurut Pemerintah Kota Ambon, benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1575 sebelum kemudian diambil alih oleh Belanda. Keberadaannya memiliki kaitan erat dengan perkembangan Ambon pada masa perdagangan rempah.

Benteng Victoria pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial dan digunakan untuk mengendalikan perdagangan rempah di Maluku. Benteng ini juga berfungsi sebagai pertahanan menghadapi perlawanan masyarakat setempat. Salah satu peristiwa bersejarah yang melekat pada benteng ini adalah eksekusi Pattimura yang dilakukan di depan kawasan benteng pada tahun 1817.

4. Fort Marlborough

Fort Marlborough (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)

Fort Marlborough adalah benteng Inggris di Bengkulu yang dibangun pada tahun 1714 sampai 1719. Bangunan bersejarah di tepi Pantai Tapak Padri ini berfungsi sebagai basis pertahanan tentara kolonial. Penamaan kompleks militer ini merujuk pada sosok jenderal perang terkenal bernama John Churchill.

Sejak awal didirikan, kompleks ini mengalami perluasan dengan menambah fasilitas gudang senjata dan penjara. Keunikan arsitektur benteng terlihat dari bentuknya yang menyerupai kura-kura jika dilihat dari ketinggian. Pada masa sekarang, situs peninggalan tersebut telah bertransformasi menjadi objek wisata sejarah.

5. Benteng Pendem Ambarawa

Benteng Pendem Ambarawa (jatengprov.go.id)

Benteng Pendem Ambarawa atau Fort Willem I merupakan benteng peninggalan Belanda yang berada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng ini merupakan kawasan cagar budaya yang kini ditata sebagai destinasi wisata edukasi. Bangunan bersejarah ini dikenal dengan ukuran yang besar dan arsitektur bergaya Eropa yang masih terlihat hingga sekarang.

Fort Willem I dibangun sebagai benteng utama dalam sistem pertahanan Pulau Jawa. Pada masa lalu, benteng ini digunakan sebagai pusat pertahanan, gudang peluru, dan barak pasukan. Jejak fungsi militernya yang masih terlihat membuat kawasan ini menjadi salah satu destinasi sejarah yang menarik untuk menelusuri warisan kolonial di Jawa Tengah.

Kelima benteng tersebut memperlihatkan beragam jejak kolonial yang pernah membentuk perjalanan sejarah Indonesia. Kisah perebutan kekuasaan, monopoli perdagangan, hingga aktivitas pemerintahan kolonial yang melekat pada setiap benteng menjadikan destinasi tersebut menarik untuk ditelusuri sebagai bagian dari warisan sejarah Nusantara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article