Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Alasan Kanazawa Dijuluki Little Kyoto, Wajib Masuk Itinerary Liburan Jepang!

Kastil Kanazawa
Kastil Kanazawa (663highland, CC BY 2.5, via Wikimedia Commons)

Saat merencanakan liburan ke Jepang, Kyoto sering kali menjadi tujuan utama berkat pesona kota tuanya yang magis. Namun, di pesisir Laut Jepang, tepatnya di Prefektur Ishikawa, ada sebuah kota yang menawarkan keindahan serupa dengan suasana yang lebih tenang, yakni Kanazawa. Kota ini berhasil selamat dari kehancuran Perang Dunia II, membuatnya menjadi kapsul waktu yang menyimpan kekayaan arsitektur dan budaya dari zaman Edo.

Bukan tanpa alasan Kanazawa mendapatkan julukan 'Kyoto Kecil'. Dari distrik geisha yang memesona hingga taman-taman yang permai, kota ini memancarkan aura tradisional Jepang yang begitu kental. Dulu, Kanazawa merupakan pusat kekuasaan Klan Maeda yang kaya raya, sehingga seni dan budaya tumbuh subur di sini. Kini, pesona itu berpadu harmonis dengan sentuhan modern, menjadikannya destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalananmu.

1. Arsitektur zaman Edo masih terjaga sempurna

Distrik Namaguchi
Distrik Namaguchi (金沢市, CC BY 2.1 jp, via Wikimedia Commons)

Salah satu alasan utama Kanazawa terasa seperti Kyoto adalah keutuhan bangunan bersejarahnya. Seperti halnya Kyoto, Kanazawa merupakan salah satu kota besar di Jepang yang tidak tersentuh bom saat Perang Dunia II. Keputusan strategis ini membuat distrik-distrik bersejarahnya tetap lestari hingga hari ini, menawarkan jendela autentik ke masa lalu.

Saat menyusuri jalanan di Kanazawa, kamu akan merasa seolah-olah kembali ke zaman para samurai dan bangsawan. Distrik Nagamachi, misalnya, masih mempertahankan rumah-rumah samurai dengan tembok tanah liat yang khas, jalanan berbatu yang sempit, dan kanal-kanal kecil yang mengalir tenang. Berjalan di sini memberikan pengalaman yang mendalam tentang kehidupan Jepang pada periode Edo, sesuatu yang semakin sulit ditemukan di kota-kota besar lainnya.

2. Distrik geisha di Kanazawa begitu otentik

Distrik Higashi Chaya
Distrik Higashi Chaya (Raita Futo from Tokyo, Japan, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Kyoto terkenal dengan distrik Gion-nya dan Kanazawa punya tandingannya yang tak kalah menawan, yaitu Distrik Higashi Chaya. Distrik ini merupakan yang terbesar dari tiga distrik geisha di Kanazawa, dipenuhi dengan bangunan kayu tradisional berlantai dua yang disebut machiya. Suasananya begitu fotogenik, terutama saat sore hari ketika lentera-lentera mulai dinyalakan.

Menariknya, Kanazawa adalah satu dari sedikit kota di Jepang—selain Kyoto—yang hingga kini masih melestarikan tradisi pelatihan geisha secara formal. Beberapa chaya (rumah teh) di distrik ini bahkan masih beroperasi seperti ratusan tahun lalu, menggelar pertunjukan geisha di malam hari. Kini, banyak juga machiya yang telah dialihfungsikan menjadi kafe, restoran, dan toko kerajinan tangan yang menjual produk lokal.

3. Kenroku-en adalah salah satu taman terindah di Jepang

Kenroku-en
Kenroku-en (Rei, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Jika Kyoto punya Kinkaku-ji dan Arashiyama, maka mahkota keindahan alam Kanazawa adalah Taman Kenroku-en. Taman ini bukan sekadar taman biasa, melainkan diakui sebagai salah satu dari "Tiga Taman Terindah" di seluruh Jepang, sebuah predikat yang sangat bergengsi. Awalnya, taman ini merupakan bagian luar dari Kastel Kanazawa yang dibangun pada zaman Edo.

Nama Kenroku-en sendiri berarti "taman dengan enam keistimewaan", merujuk pada enam atribut yang harus dimiliki oleh sebuah taman yang sempurna: kelapangan, ketenangan, kesenian, nuansa kuno, aliran air, dan pemandangan yang menawan. Dan memang, Kenroku-en memiliki semuanya. Dari kolam besar, air terjun, aliran sungai yang jernih, hingga pohon-pohon pinus yang dibentuk dengan sangat teliti, setiap sudut taman ini adalah sebuah karya seni.

4. Kanazawa kaya akan sejarah dan seni kerajinan tradisional

kinpaku
kinpaku (Yoshikazu0323, CC BY-SA 2.1 jp, via Wikimedia Commons)

Selama periode Edo, Kanazawa adalah pusat dari Kaga, wilayah feodal terkaya yang diperintah oleh Klan Maeda. Kekayaan yang melimpah dari produksi beras ini tidak digunakan untuk kekuatan militer, melainkan dialihkan untuk pengembangan seni dan budaya tingkat tinggi. Hasilnya, Kanazawa menjadi pusat berbagai kerajinan tradisional yang kualitasnya diakui di seluruh Jepang.

Salah satu yang paling ikonik adalah kinpaku, atau kertas emas. Faktanya, 99% produksi kertas emas di Jepang berasal dari Kanazawa. Kertas emas ini tidak hanya digunakan untuk melapisi kuil-kuil megah seperti Kinkaku-ji di Kyoto, tetapi juga diaplikasikan pada berbagai produk, mulai dari pernis, keramik, kosmetik, hingga kuliner. Selain kinpaku, Kanazawa juga terkenal dengan porselen Kutani dan pernis Shikki yang indah.

5. Suasananya tenang dan tidak seramai Kyoto

Kastil Kanazawa
Kastil Kanazawa (663highland, CC BY 2.5, via Wikimedia Commons)

Meskipun menawarkan pesona budaya yang sebanding, Kanazawa tidak pernah merasakan ledakan turis seperti yang terjadi di Kyoto. Hal ini menjadikan Kanazawa sebagai alternatif yang lebih santai dan personal bagi para pelancong yang ingin menikmati keindahan Jepang tanpa harus berdesak-desakan dengan keramaian. Kamu bisa menjelajahi situs-situs bersejarahnya dengan lebih leluasa.

Popularitas Kanazawa sebagai tujuan wisata sebenarnya baru menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Titik baliknya adalah peresmian jalur kereta cepat Shinkansen Hokuriku pada tahun 2015, yang secara signifikan memangkas waktu tempuh dari Tokyo. Meskipun aksesnya kini lebih mudah, kota ini berhasil menjaga keseimbangan antara industri pariwisata dan kehidupan lokal yang otentik.

6. Pasar Omicho adalah jantung kuliner yang selalu hidup

Pasar Omicho
Pasar Omicho (金沢市, CC BY 2.1 jp, via Wikimedia Commons)

Untuk merasakan denyut nadi kehidupan lokal, tidak ada tempat yang lebih baik selain Pasar Omicho. Pasar yang dijuluki sebagai "Dapur Warga Kanazawa" ini telah beroperasi sejak zaman Edo, sekitar tahun 1721. Di dalam bangunan pasar yang luas, lebih dari 170 kios berjejeran menjual berbagai macam hasil bumi dan laut segar.

Berkat lokasinya yang dekat dengan Laut Jepang, Kanazawa diberkahi dengan hasil laut yang luar biasa segar. Di Pasar Omicho, kamu bisa menemukan kepiting salju, tiram segar, landak laut, dan berbagai jenis ikan yang menggugah selera. Cara terbaik untuk menikmatinya adalah dengan bersantap di salah satu restoran kecil di dalam pasar, yang menyajikan kaisen-don (semangkuk nasi dengan aneka hidangan laut mentah) sebagai menu andalannya.

7. Perpaduan harmonis antara tradisi dan modernitas

21st Century Museum of Contemporary Art
21st Century Museum of Contemporary Art (Okochuke, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Meski sangat lekat dengan citra tradisionalnya, Kanazawa bukanlah kota yang terperangkap di masa lalu. Kota ini berhasil menyeimbangkan warisan budayanya dengan perkembangan zaman yang dinamis, menciptakan sebuah harmoni yang unik. Sisi modern Kanazawa dapat dilihat dari kancah seni kontemporernya yang hidup.

Pusat dari sisi modern ini adalah 21st Century Museum of Contemporary Art, sebuah museum dengan arsitektur melingkar dari kaca yang sangat futuristik. Museum ini menjadi rumah bagi karya-karya seniman Jepang dan internasional, termasuk instalasi "Swimming Pool" yang sangat terkenal. Selain itu, ada pula D.T. Suzuki Museum, sebuah ruang kontemplatif yang didedikasikan untuk filsuf Buddha kelahiran Kanazawa, yang memadukan arsitektur minimalis dengan keindahan Zen.

Kanazawa adalah bukti bahwa pesona Jepang tidak hanya terpusat di Kyoto. Kota ini menawarkan paket lengkap dari sejarah yang kaya, seni yang adiluhung, kuliner yang lezat, hingga suasana yang menenangkan. Jadi, jika kamu mencari pengalaman Jepang yang autentik tanpa hiruk pikuk, Kanazawa adalah jawaban yang sempurna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

5 Hal Sepele yang Bikin Penumpang Dicegah saat Boarding

12 Jan 2026, 15:15 WIBTravel