Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Festival Air di Asia selain Songkran yang Tak Kalah Meriah

8 Festival Air di Asia selain Songkran yang Tak Kalah Meriah
Thingyan di Myanmar (commons.wikimedia.org/Mrsoethuaung)

Perayaan Tahun Baru tradisional Thailand identik dengan Songkran, festival yang berupa perang air di jalanan dan pembersihan patung Buddha. Tujuannya untuk menyucikan diri, membuang nasib buruk tahun sebelumnya, dan menyambut kemakmuran. Festival air itu menjadi salah satu perayaan terbesar di sana, yang biasanya diselenggarakan pada pertengahan April.

Ternyata, festival air juga dilakukan di negara Asia lainnya. Waktu dan tujuannya beragam, tetapi tidak kalah seru. Mau tahu festival air di Asia selain Songkran? Simak ulasan berikut ini ya!

1. Thingyan, Myanmar

Thingyan di Myanmar
Thingyan di Myanmar (commons.wikimedia.org/Linnyankha)

Myanmar menjadi negara Asia Tenggara lainnya yang merayakan Tahun Baru tradisional dengan festival air. Masyarakat setempat menyebutnya Thingyan yang berarti transisi, sebagai perayaan kehidupan dan kelahiran kembali. Biasanya berlangsung selama 3–5 hari pada pertengahan April.

Hari pertama biasanya diisi dengan ritual, nyanyian, dan tarian yang dipersembahkan kepada para biksu dan dewa. Tradisi menyiramkan air muncul mulai hari kedua, sebagai perayaan turunnya Dewa Burma Thagya Min ke Bumi. Ketika hari-hari terakhir festival, masyarakat Burma menggunakannya sebagai masa tenang, merefleksikan diri, dan bersiap untuk tahun mendatang.

2. Chaul Chnam Thmey, Kamboja

ilustrasi festival air
ilustrasi festival air (pexels.com/Shaga Tripura)

Sama seperti Songkran dan Thingyan, masyarakat Kamboja merayakan Chaul Chnam Thmey untuk merayakan Tahun Baru. Selain itu, sebagai simbol untuk menyambut datangnya musim hujan setelah musim panen berakhir. Perayaan pun berlangsung beberapa hari dengan rangkaian acara yang dilakukan di rumah dan di kuil.

Hari pertama, masyarakat membersihkan rumah dan meletakkan patung Buddha bersama dupa dan persembahannya di altar. Hari kedua, mengunjungi kuil dan aksi saling menyiramkan air mulai dilakukan saat berpapasan di jalan. Hari ketiga, masyarakat akan berkumpul di pagoda untuk penyucian patung Buddha sebagai perayaan puncak, di sinilah festival air semakin meriah.

3. Boun Pi Mai, Laos

ilustrasi festival air
ilustrasi festival air (freepik.com/jcomp)

Sebagai negara serumpun kawasan Indochina, Laos juga merayakan Tahun Baru dengan cara serupa. Boun Pi Mai sama seperti Songkran yang termasuk festival terpenting dan paling meriah di sana. Salah satu tempat yang menjadi pusatnya adalah Luang Prabang.

Boun Pi Mai berlangsung setiap pertengahan April dengan perayaan utama selama 3 hari. Rangkaian acaranya mirip dengan Chaul Chnam Thmey, mulai dari membersihkan rumah dan desa, berkumpul bersama keluarga dan teman pada hari kedua. Setelah bersantai, hari ketiga menjadi puncak acara, ditandai dengan parade dan  orang yang saling memercikkan air di jalanan.

4. Intrudu, Malaysia

ilustrasi festival air
ilustrasi festival air (freepik.com/freepic-diller)

Tahukah kamu kalau Malaysia juga merayakan festival air? Skalanya memang tidak seperti di Indochina, dirayakan oleh Komunitas Portugis-Eurasia (Kristang) di Portuguese Settlement, Melaka. Mereka menyebutnya Untrudu, digelar pada hari terakhir sebelum Prapaskah.

Intrudu berupa perang air, menampilkan tarian tradisional Branyo, iringan musik, dan makanan. Tujuannya hampir sama yakni sebagai simbol penyucian jiwa, persatuan, serta menjaga warisan budaya. Tradisi tersebut biasanya berlangsung setelah misa pagi hingga sore hari.

5. Wattah Wattah, Filipina

Wattah Wattah, Filipina
Wattah Wattah, Filipina (commons.wikimedia.org/Herbert Kikoy)

Wattah Wattah dengan nama lain Festiva Basaan merupakan perayaan untuk menghormati kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, santo pelindung Kota San Juan. Tradisi tahunan itu digelar setiap tanggal 24 Juni, sebagai simbol peran Santo Yohanes dalam membaptis Yesus Kristus di Sungai Yordan. Saling menyiram air melambangkan penyucian dan berkat tahun ini bagi mereka yang disiram.

Kota San Juan memang menjadi pusat festival tersebut. Selain perang air masyarakat setempat akan merayakannya dengan parade, pertunjukan budaya, dan tarian di jalanan. Kota lain di Filipina yang juga merayakan dengan cara serupa antara lain Balayan (Batangas), Calumpit (Bulacan), Aligia (Nueva Ecija), dan Cavite City (Cavite).

6. Po Shi Jie, China

ilustrasi Po Shi Jie di Xinghuangbanna
ilustrasi Po Shi Jie di Xinghuangbanna (commons.wikimedia.org/Abel20050715)

Prefektur Xinghuangbanna menjadi rumah bagi suku Dai. Meski secara administratif termasuk China, suasana dan budayanya mirip dengan kawasan Indochina. Festival Po Shi Jie berlangsung saat merayakan Tahun Baru tradisional pada pertengahan April.

Dua hari pertama, festival akan berlangsung di Sungai Lancang yang dihiasi lampion mengapung saat malam hari. Ketika siang hari, berubah menjadi pasar yang menjual berbagai makanan dan suvenir. Hari ketiga, diisi dengan upacara memandikan patung Buddha dan tradisi saling menyiram air dimulai.

7. Baisabi, Bangladesh

Baisabi di Bandarban, Bangladesh
Baisabi di Bandarban, Bangladesh (pexels.com/Mohammed Rubel)

Festival Baisabi merupakan budaya suku asli Bangladesh yang tinggal di Chittagong Hill Tracts, khususnya Rangamati, Bardaban, dan Khangrachhari. Biasanya perayaan berlangsung pada masa transisi dari bulan Chaitra ke Baishakh dalam kalender Bengali (biasanya pertengahan April). Tradisi saling menyiramkan air melambangkan pembersihan tahun sebelumnya dan menyambut awal yang baru.

Setiap suku punya rangkaian yang berbeda dalam perayaannya, seperti Chakma dan Tanchyanga dengan Biju selama 3 hari dan Tripura melakukan Baisuk yang fokus pada pemujaan Dewa Siwa. Sementara suku Marma merayakan 4 hari dengan ritual patung Buddha. Meski berbeda, tapi festival air seperti pemersatu yang selalu ada dalam rangkaian seluruh  tradisi tersebut.

8. Sangken dan Yaoshang, India

ilustrasi festival air
ilustrasi festival air (pexels.com/Shaga Tripura)

Sangken punya akar budaya yang sama dengan festival air di kawasan Indochina karena dirayakan oleh umat Buddha Theravada untuk merayakan Tahun Baru. Diawali dengan patung Buddha yang dimandikan saat upacara, diiringi tabuhan gendang dan tarian. Setelah itu, masyarakat akan saling menyiram air bersih yang menandai penyucian, kedamaian, serta pembaruan.

Festival itu berlangsung selama 3 hari berturut-turut pada pertengahan April. Pusatnya berada di Arunachal Pradesh dan Assam yang dihuni oleh suku Khamti, Singpho, Khamyang, serta Tangsa. Tidak hanya itu, mereka juga membuat aneka kue untuk dibagikan kepada orang lain.

Wilayah India Timur Laut lain seperti Manipur, merayakan Yaoshang selama 5 hari pada perhitungan lunar Lamta (Februari–Maret). Aktivitasnya meliputi perang air, pertunjukan budaya, dan kompetisi olahraga. Puncak festivalnya disebut Thabal Chongba (tarian cahaya bulan), yang menampilkan orang saling bergandengan, bernyanyi, dan menari dalam lingkaran di bawah cahaya obor.

Waktu, tempat, dan rangkaian acara perayaan festival air di atas memang berbeda, tetapi sama-sama menjadi simbol untuk menyucikan jiwa. Mana yang ingin kamu ikuti selain Songkran?


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

[QUIZ] Karakter Upin Ipin yang akan Menemanimu Jelajah Indonesia

19 Apr 2026, 20:30 WIBTravel