8 Perbedaan KRL Jogja Solo dan Jabodetabek, Apa Saja?

Kamu mungkin sering mendengar tentang jalur komuter (KRL) yang ada di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Namun, apakah kamu tahu bahwa saat ini KRL juga beroperasi di bagian tengah Jawa, tepatnya di jalur Jogja-Solo? Meski sama-sama disebut KRL, ada banyak hal yang membedakannya, lho. Nah, artikel ini akan menjelaskan secara menyeluruh perbedaan KRL Jogja Solo dan Jabodetabek.
Kalau kamu sering bepergian atau berencana mencoba naik KRL di luar Jakarta, informasi ini penting banget. Dijamin bikin kamu lebih paham sebelum memutuskan ingin mencoba moda transportasi modern ini di masing-masing daerah. Berikut ulasannya
1. Apakah ada alasan mengapa transportasi KRL semakin populer di Indonesia?

Kereta api listrik menjawab kebutuhan orang-orang yang ingin bepergian dengan cepat, murah, dan bebas macet. KRL sekarang berfungsi sebagai pusat transportasi di Jakarta dan wilayah sekitarnya yang mengangkut jutaan penumpang setiap hari. Mobilitas di masyarakat perkotaan yang sering terjebak kemacetan panjang sangat dibantu oleh moda ini.
Warga Yogyakarta dan Solo pun mulai menjadikan KRL Jogja-Solo yang baru dibuka sejak 2021 sebagai primadona baru. Meskipun jumlah orang yang menggunakan KRL Jabodetabek belum sebanyak, masyarakat sangat tertarik dengan transportasi ini karena pengalamannya berbeda dari naik bus atau kereta api biasa.
2. Seberapa luas jaringan jalur KRL di kedua daerah?

KRL Jabodetabek memiliki jaringan yang luas yang menjangkau Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dengan puluhan stasiun yang terhubung. Ini membuat perjalanan lintas kota menjadi mudah. Gak mengherankan bahwa jaringan KRL Jabodetabek dianggap sebagai pusat transportasi di wilayah megapolitan.
Berbeda dengan itu, KRL Jogja–Solo masih punya jalur terbatas. Saat ini rutenya hanya menghubungkan Yogyakarta–Solo dengan beberapa stasiun di antara keduanya, seperti Klaten dan Maguwo. Meski masih terbatas, jalur ini sebenarnya cukup strategis karena menghubungkan dua kota besar dengan mobilitas tinggi, kok.
3. Perbedaan tarif yang ditawarkan

Tarifnya yang sangat terjangkau adalah salah satu alasan mengapa KRL sangat diminati. Tarif KRL dasar di Jabodetabek hanya Rp3.000 untuk 25 km pertama, kemudian tarif naik Rp1.000 untuk setiap 10 km tambahan. Sistem tarif ini membuat perjalanan jarak jauh tetap hemat bagi penumpang. Tarif KRL Jogja–Solo berbeda. Dengan hanya membayar Rp8.000 untuk satu kali perjalanan, tanpa biaya tambahan walau menempuh jarak penuh. Sistem tarif ini benar-benar membuat pengalaman naik KRL di Jogja–Solo lebih mudah dan mudah dihitung.
4. Apa yang membedakan dari armada dan fasilitas keduanya?

Armada KRL Jabodetabek sangat beragam, beberapa di antaranya diimpor dari Jepang. Selain itu KRL Jabodetabek juga memiliki berbagai fitur, termasuk commuter pass, mesin tap-in-tap-out, dan aplikasi commuter untuk melacak jadwal dan kepadatan. Semuanya dibuat untuk mendukung mobilitas harian jutaan pengguna, lho.
Karena jumlah penumpang di Jabodetabek belum sebanyak KRL Jogja-Solo, armadanya lebih baru dan lebih bersih. Meskipun fasilitasnya kurang dari Jabodetabek; kursi memanjang, AC, dan sistem tiket elektronik tetap membuatnya nyaman. Suasana kereta api terasa lebih teratur dan tenang karena masih baru.
5. Bagaimana perbedaan tata letak kursi?

Kalau kamu sering naik KRL Jabodetabek, pasti sudah familiar dengan kursi memanjang di sisi kanan dan kiri kereta. Tata letak ini dirancang agar muatan penumpang lebih banyak, meski harus berdiri berdesakan. Konsep ini cocok dengan kebutuhan kawasan megapolitan yang menekankan efisiensi ruang.
Di KRL Jogja–Solo, tata letak kursi memang serupa dengan gaya memanjang. Namun, karena jumlah penumpang lebih sedikit, suasana di dalam gerbong terasa lebih lapang. Kamu bisa duduk santai tanpa terlalu khawatir berdesakan, apalagi jika bepergian di luar jam sibuk.
6. Bagaimana dengan jumlah dan karakter penumpang?

Di Jabodetabek, penumpang KRL berasal dari berbagai kalangan dan jumlahnya bisa mencapai jutaan per hari. Tak jarang kamu akan menemukan suasana padat terutama pada jam sibuk pagi dan sore. KRL di Jabodetabek memang terkenal penuh sesak, namun itulah yang membuatnya jadi ciri khas.
Sedangkan KRL Jogja–Solo, jumlah penumpang masih lebih sedikit dan suasana perjalanan cenderung lebih lengang. Banyak penumpang yang naik KRL untuk bepergian santai atau sekadar mencoba pengalaman baru. Hal ini membuat atmosfernya jauh lebih rileks dibandingkan hiruk-pikuk di Jabodetabek.
7. Apakah pengalaman naik di kedua jalur ini nyaman?

Sangat mudah untuk menggunakan KRL Jabodetabek, tetapi kamu harus siap untuk berdesakan jika naik pada jam sibuk. Namun, bagi banyak orang, itu sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan sehari-hari di ibu kota. Jika dilihat, fokus KRL Jabodetabek lebih ke fungsinya sebagai transportasi massal yang efektif.
Berbeda dengan KRL Jogja–Solo, suasananya lebih tenang. Kereta itu melewati pemandangan pedesaan, sawah, dan gunung. Oleh karena itu, perjalanan gak hanya tentang mencapai tujuan, tapi juga tentang menikmati jalur kereta yang indah.
8. Bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat dan industri pariwisata?

KRL Jabodetabek berdampak signifikan pada efektivitas mobilitas karyawan di wilayah metropolitan, lho. Banyak orang bergantung pada KRL untuk aktivitas harian mereka karena biaya dan waktu tempuh yang lebih rendah. Tanpa KRL, aktivitas ekonomi di wilayah Jabodetabek akan terganggu.
Sebaliknya, jalur kereta api Jogja-Solo lebih didominasi oleh aspek pariwisata. KRL sangat populer di kalangan pengunjung untuk melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Solo atau sebaliknya. Bahkan, jalur ini dianggap sebagai salah satu cara yang menyenangkan untuk melakukan perjalanan yang murah dan menikmati keindahan Jawa Tengah.
Kini, kamu sudah tahu jelas apa yang membedakan KRL Jogja Solo dan Jabodetabek, kan? Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, jadi sesuaikan dengan kebutuhan dan gaya perjalananmu.
Kamu tertarik coba yang mana nih?