ilustrasi experiential travel (unsplash.com/Ahmad Norouzi)
Pilihan experiential travel dapat disesuaikan dengan minat, anggaran, kondisi fisik, dan karakter destinasi yang dikunjungi. Wisatawan yang menyukai kuliner bisa mengikuti kelas memasak atau mengunjungi produsen bahan pangan lokal, sedangkan pencinta alam dapat memilih kegiatan pengamatan satwa bersama pemandu yang memahami habitatnya. Bagi wisatawan yang tertarik pada kebudayaan, pengalaman seperti belajar membatik, mengikuti lokakarya kerajinan, atau mengenal tradisi masyarakat melalui kegiatan yang memang terbuka bagi pengunjung dapat menjadi alternatif untuk memahami sebuah daerah dengan cara yang lebih dekat.
Sejumlah destinasi menawarkan pengalaman yang cocok untuk konsep perjalanan ini, mulai dari mempelajari kuliner regional di Italia, mengikuti upacara minum teh di Jepang, hingga mengenal tradisi tenun masyarakat di Peru melalui penyedia kegiatan yang dikelola secara bertanggung jawab. Pengalaman serupa juga bisa ditemukan di Maroko melalui lokakarya kerajinan dan kegiatan kuliner, serta di Kosta Rika lewat tur bersama pemandu lokal yang menjelaskan keanekaragaman hayati. Destinasi tersebut bukan satu-satunya pilihan karena pengalaman yang berkesan juga bisa ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, misalnya melalui kegiatan membatik bersama perajin, belajar mengolah makanan khas daerah, atau mengenal kehidupan petani di kawasan pedesaan.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menikmati waktu liburan dan menentukan pengalaman yang ingin dibawa pulang. Tren experiential travel bisa menjadi pilihan bagi kamu yang mulai merasa bosan dengan agenda wisata yang terlalu padat dan ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Dari sekian banyak gaya liburan yang ada, pengalaman seperti apa yang paling ingin kamu coba berikutnya?