Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Boleh Mendaki Gunung Mengunakan Sepatu Lari Biasa?

4 min read
Apakah Boleh Mendaki Gunung Mengunakan Sepatu Lari Biasa?
ilustrasi sepatu lari biasa (pexels.com/Magda Ehlers)
  • Sepatu lari biasa tidak dilarang untuk mendaki, tetapi solnya yang rata dan keras kurang mencengkeram tanah, lumpur, maupun batu sehingga risiko tergelincir lebih tinggi.
  • Potongan rendah pada sepatu lari tidak melindungi pergelangan kaki saat menghadapi jalur terjal, batu tajam, atau akar pohon, sehingga risiko cedera meningkat.
  • Material ringan dan sol empuk sepatu lari rentan sobek, kemasukan air atau kotoran, serta amblas saat menahan beban carrier dibanding sepatu hiking atau trekking.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemilihan sepatu dalam mendaki gunung adalah satu hal yang tidak boleh disepelekan. Pasalnya, setiap gunung pasti memiliki satu kesamaan, yaitu jalur yang ekstrem, meskipun tingkat kesulitannya pasti berbeda-beda. Jenis sepatu mendaki gunung yang paling utama adalah sepatu hiking dan juga sepatu trekking, keduanya bisa dipilih sesuai dengan karakteristik gunung yang dituju.

Akan tetapi, apakah boleh seseorang memakai sepatu lari biasa untuk mendaki gunung? Sebenarnya tidak ada larangan terkait hal itu, tapi ada beberapa sisi kelemahan yang dimiliki oleh sepatu lari biasa seperti yang akan dibahas pada artikel kali ini. Daripada kamu penasaran, yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

  1. 1. Tidak memiliki daya cengkeram yang kuat terhadap jalur pendakian di gunung

    ilustrasi sepatu lari biasa
    ilustrasi sepatu lari biasa (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Salah satu tantangan terbesar dari sepatu lari biasa jika dipaksa digunakan untuk mendaki gunung terletak pada bagian sol sepatu yang sangat berbeda dengan sepatu gunung. Sepatu biasa memiliki desain sol yang cenderung dirancang lebih rata dan keras. Rancangan tersebut bukan tanpa alasan karena memang sepatu lari biasa diperuntukkan untuk menghadapi medan seperti aspal atau lintasan lari yang datar.

    Beda halnya dengan sepatu gunung yang memiliki gerigi besar pada bagian sepatu yang berfungsi mencengkeram kuat tanah, lumpur, atau jalan berbatu. Ketika kamu menggunakan sepatu lari biasa untuk perjalanan mendaki, risiko kamu tergelincir di jalur pendakian akan jauh semakin tinggi dibandingkan ketika kamu menggunakan sepatu gunung.

  2. 2. Risiko cedera yang lebih tinggi karena tidak melindungi area pergelangan kaki

    ilustrasi kaki seseorang yang mengalami cedera serius
    ilustrasi kaki seseorang yang mengalami cedera serius (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Seperti yang kita tahu bahwa sepatu lari biasa memiliki tinggi yang biasanya di bawah mata kaki atau disebut dengan potongan rendah. Tujuan utamanya jelas untuk memberikan ruang gerak bebas bagi pergelangan kaki saat berlari. Akan tetapi, itu bisa membawa malapetaka jika digunakan untuk mendaki gunung.

    Karena jalur pendakian tidak selalu landai, seorang pendaki terkadang harus mencapai tebing atau jalur dengan akar pohon tinggi dan tajam dengan cara menyamping, bukan lurus seperti jalan biasa. Kondisi ini bisa sangat aman ketika kamu menggunakan sepatu gunung yang mayoritas memiliki ukuran yang bisa menutupi mata kaki atau sedikit lebih tinggi. Beda halnya dengan sepatu lari biasa yang sangat berbahaya jika kamu nanti terkena batu tajam atau akar pohon, bisa melukai pergelangan kaki yang nantinya bisa memicu cedera yang menghambat proses perjalanan mendaki.

  3. 3. Material yang sangat ringan tidak cocok dan rentan sobek

    ilustrasi sepatu lari biasa
    ilustrasi sepatu lari biasa (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Untuk memudahkan aktivitas lari, sepatu lari biasa dibuat dengan material kain yang sangat ringan. Jika kamu perhatikan lebih jauh, kebanyakan sepatu lari memiliki kain jaring-jaring pada bagian atas sepatu. Desain tersebut dibuat untuk menciptakan sirkulasi udara agar kaki bisa memiliki daya tahan yang lama.

    Memang benar keuntungan dari sepatu lari biasa bisa membuat kaki memiliki durabilitas yang kuat terhadap perjalanan yang lama dan itu cocok dengan perjalanan mendaki. Akan tetapi, bahan material dari sepatu lari inilah yang menjadi pertimbangan berat. Sepatu lari akan sangat lemah ketika terkena goresan benda tajam di gunung bisa membuat air dan kotoran cepat masuk ke dalam sepatu yang akhirnya mengganggu kenyamanan.

  4. 4. Bagian sol dalam yang memiliki tingkat keempukan yang berbeda fungsi

    ilustrasi sepatu lari biasa
    ilustrasi sepatu lari biasa (pexels.com/Ray Piedra)

    Jika pada poin pertama kita membahas soal sol bagian luar pada sepatu lari biasa dan sepatu gunung, ternyata sol bagian dalam juga menjadi tantangan yang harus dipikirkan dua kali sebelum memakai sepatu lari. Pada dasarnya, sepatu lari memiliki sol bagian dalam yang dibuat dengan tekstur yang sangat empuk dan membal yang dirancang untuk menahan guncangan vertikal berulang kali, sehingga lutut tidak akan mudah merasa nyeri atau sakit. Fungsi tersebut jelas saja tidak akan berguna di gunung yang umumnya memiliki ritme jalan santai hingga cepat, mustahil sekali bisa berlari di jalur curam dan terjal.

    Sol bagian dalam sepatu lari biasa juga akan mudah amblas karena beban yang kamu bawa pada tas carrier sangatlah berat. Mengapa sepatu gunung bisa mengatasinya? Ya, karena sepatu gunung memiliki sol yang sama-sama empuk, tapi memang dibuat sangat kokoh dan tidak membal untuk menahan daya beban yang berat.

    Memakai sepatu lari biasa bukanlah larangan jika kamu ingin memakainya dalam pendakian. Tapi yang harus kamu tahu adalah setiap barang pasti memiliki fungsinya tersendiri untuk mengatasi suatu kondisi, termasuk sepatu lari biasa dan sepatu gunung ini. Setelah membahas keempat poin di atas, apakah kamu lebih tertarik menggunakan sepatu gunung yang tingkat keamanan dan kenyamanannya lebih tinggi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More