Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kuliner Legendaris Magetan, Ayam Panggang Bu Setu Bertahan 3 Dekade

Kuliner Legendaris Magetan, Ayam Panggang Bu Setu Bertahan 3 Dekade
Ayam Panggang Bu Setu di Magetan berdiri sejak 1990-an, berawal dari jualan keliling hingga kini jadi kuliner legendaris yang ramai dikunjungi pemudik setiap musim Lebaran. (dok. BRI)
Intinya Sih
5W1H
  • Ayam Panggang Bu Setu di Magetan berdiri sejak 1990-an, berawal dari jualan keliling hingga kini jadi kuliner legendaris yang ramai dikunjungi pemudik setiap musim Lebaran.
  • Rahasia kelezatan ayam panggang ini terletak pada konsistensi penggunaan kayu bakar keras seperti mahoni dan jati, menjaga cita rasa tradisional yang autentik lintas generasi.
  • Perkembangan usaha didukung kemitraan dengan BRI sejak 1992 serta pemanfaatan digitalisasi, menjadikan Ayam Panggang Bu Setu contoh sukses UMKM yang bertahan lebih dari tiga dekade.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mudik Lebaran selalu identik dengan perjalanan pulang sekaligus berburu kuliner khas daerah. Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, salah satu destinasi yang kerap diburu pemudik adalah Ayam Panggang Bu Setu.

Aroma asap kayu bakar dari dapurnya menjadi ciri khas yang langsung dikenali. Di balik itu, ada perjalanan panjang usaha keluarga yang telah berdiri lebih dari tiga dekade dan tetap mempertahankan cita rasa tradisional lintas generasi.

1. Berawal dari jualan keliling, kini jadi kuliner favorit pemudik

Potret ayam panggang (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)
Potret ayam panggang (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Ayam Panggang Bu Setu dirintis sejak 1990-an oleh orang tua Subiyanto. Awalnya, usaha ini dijalankan dengan cara berjualan keliling, sebelum akhirnya berkembang menjadi usaha rumahan.

Promosinya pun masih sederhana, mengandalkan dari mulut ke mulut hingga akhirnya dikenal luas seperti sekarang.

Kini, setiap musim mudik Lebaran, tempat ini selalu ramai dikunjungi. Lonjakan pelanggan biasanya mulai terasa dua hari sebelum Lebaran hingga sekitar lima hari setelahnya, seiring banyaknya pemudik yang melintas di Magetan.

2. Konsisten pakai kayu bakar, jadi kunci cita rasa khas

ilustrasi ayam panggang (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi ayam panggang (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Salah satu kekuatan utama Ayam Panggang Bu Setu adalah konsistensinya dalam menjaga metode memasak tradisional.

"Daya tarik Ayam Panggang Bu Setu terletak pada konsistensi kami mempertahankan proses memasak tradisional menggunakan kayu bakar keras, seperti mahoni atau jati. Meskipun zaman sudah modern, kami tidak beralih ke kompor gas agar kematangan ayam sempurna dan ciri khas kami tetap terjaga," ujar Subiyanto.

Menu andalan seperti ayam panggang bumbu rujak menjadi favorit pelanggan. Perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih meresap hingga ke dalam daging ayam kampung, menciptakan rasa autentik yang sulit ditiru.

3. Berkembang berkat kemitraan dengan BRI

Gedung BRI. (Dok. BRI)
Gedung BRI. (Dok. BRI)

Perjalanan usaha ini juga tidak lepas dari dukungan perbankan. Subiyanto mengungkapkan, kemitraan dengan BRI sudah dimulai sejak 1992 dengan modal awal Rp250.000.

"Dulu sebelum ada modal dari BRI, kami beli ayam ke tengkulak dengan sistem utang, harganya jauh lebih mahal. Setelah ada pinjaman dari BRI, kami bisa beli cash dan harga jual ke konsumen pun jadi lebih terjangkau," jelasnya.

Seiring waktu, usaha Ayam Panggang Bu Setu terus berkembang dengan akses permodalan yang lebih luas. Mereka juga mulai memanfaatkan layanan digital untuk mengelola usaha, sekaligus memperluas fasilitas restoran agar lebih nyaman bagi pelanggan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung UMKM.

“Kami senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, terutama pada sektor-sektor produktif. Kisah pelaku usaha Ayam Panggang Bu Setu menjadi contoh nyata dukungan pendanaan BRI dalam mendorong perekonomian masyarakat sekaligus menjadi kisah inspiratif yang dapat ditiru oleh pelaku usaha lainnya,” tegas Dhanny.

Hingga Desember 2025, BRI tercatat telah menyalurkan KUR sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60 persen penyaluran tersebut dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49 persen.

Kisah Ayam Panggang Bu Setu jadi bukti bahwa konsistensi menjaga kualitas, dipadukan dengan akses permodalan yang tepat, bisa membawa usaha kecil bertahan bahkan berkembang lintas generasi. (WEB)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ridho Fauzan
EditorRidho Fauzan
Follow Us

Latest in Travel

See More