Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Menikmati Bali Tanpa Itinerary Padat, Cocok buat Slow Travel
ilustrasi menikmati liburan di Bali (dok. Pribadi/Natalia Indah)
  • Slow travel di Bali dapat dimulai dengan menetap beberapa hari di satu kawasan, mengurangi pindah hotel, serta menyediakan hari tanpa tujuan wajib agar perjalanan lebih santai.
  • Wisatawan dapat mengenal kehidupan lokal melalui desa wisata, berjalan kaki atau bersepeda di sekitar penginapan, dan memilih satu pengalaman seperti kelas memasak atau kerajinan.
  • Nikmati lanskap Bali secara perlahan, bukan sekadar spot foto, lalu pilih kuliner, hasil pertanian, dan kerajinan masyarakat setempat saat makan maupun membeli oleh-oleh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bali kadang terasa seperti pulau yang harus ditaklukkan dalam hitungan hari. Pagi mengejar sunrise, siang pindah nongkrong ke kafe, sore berburu sunset, lalu malam masih menyempatkan diri untuk belanja atau makan. Besoknya, pola yang sama terulang.

Padahal, ada cara lain untuk menikmati Bali. Tidak harus berpindah dari satu destinasi ke destinasi berikutnya. Cukup tinggal sedikit lebih lama di satu kawasan, berjalan tanpa terburu-buru, mencicipi makanan lokal, atau sekadar duduk untuk menikmati suasana desa.

Kalau ingin mencoba slow travel, berikut beberapa cara untuk menikmati Bali tanpa itinerary yang padat.

1. Pilih satu kawasan sebagai base beberapa hari

ilustrasi suasana pedesaan di Sidemen (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Salah satu cara paling mudah untuk memulai slow travel di Bali adalah berhenti berpindah-pindah hotel. Alih-alih menginap satu malam di Ubud kemudian pindah ke Canggu dan lanjut ke Uluwatu, pilih satu kawasan untuk dijadikan tempat menginap selama beberapa hari.

Misalnya, kamu bisa memilih Ubud atau Sidemen untuk menikmati suasana budaya dan pedesaan. Dari satu tempat, luangkan waktu untuk berjalan kaki, mencari tempat makan di sekitar penginapan, mengunjungi pasar, atau sekadar menikmati pagi tanpa harus langsung berangkat ke destinasi berikutnya.

2. Sisakan satu hari tanpa destinasi wajib

ilustrasi jalan kaki di sekitar Jatiluwih (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Tidak semua hari liburan harus memiliki daftar tujuan. Cobalah membuat satu hari yang benar-benar kosong dan tidak ada target untuk mengunjungi beberapa tempat atau tidak ada jadwal pindah lokasi setiap 2 jam.

Pagi harinya bisa dimulai dengan sarapan santai. Setelah itu, berjalan kaki di sekitar penginapan atau mampir ke kedai kecil yang terlihat menarik. Kalau menemukan tempat yang nyaman, tidak ada salahnya untuk duduk lebih lama.

Bisa jadi, pengalaman yang paling diingat dari Bali justru bukan destinasi yang ada di itinerary. Melainkan berupa obrolan singkat dengan pemilik warung atau di jalan kecil yang ditemukan secara gak sengaja.

3. Jelajahi desa wisata dan kenali kehidupan lokal

ilustrasi suasana Desa Tenganan Pegringsingan (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Kalau biasanya perjalanan ke Bali berpusat pada tempat wisata populer, coba sisihkan waktu untuk mengenal desa wisata. Banyak desa wisata di Bali yang menawarkan pengalaman budaya, alam, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat lokal.

Kamu bisa ke Desa Wisata Sidan di Gianyar, misalnya, untuk mendapatkan aktivitas yang berkaitan dengan pertanian organik, kerajinan tradisional, serta lanskap pedesaan. Selain itu, ada juga Desa Wisata Tenganan Pegringsingan yang dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga yang masih mempertahankan tradisi serta tata kehidupan masyarakatnya. Ada juga Desa Pemuteran di Bali Barat yang memiliki keindahan bawah lautnya.

4. Jalan kaki atau bersepeda menikmati suasana sekitar

ilustrasi jalan kaki santai di kawasan Ubud (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Slow travel bukan berarti harus selalu mengunjungi tempat yang jauh. Justru, kawasan di sekitar tempat menginap bisa menjadi bagian menarik dari perjalanan.

Untuk jarak yang memungkinkan, cobalah berjalan kaki atau naik sepeda. Kamu bisa melewati jalan desa, persawahan, kawasan permukiman, atau warung lokal yang mungkin tidak muncul di daftar destinasi wisata populer.

Di antaranya seperti kawasan Jatiluwih yang terdapat jalur area persawahan dan hutan, menyusuri tepi pantai di Amed, atau jalan kaki ke gang-gang di kawasan Ubud. Namun, tetap memperhatikan kondisi jalan dan jangan memasuki lahan pertanian atau area privat tanpa izin, ya.

5. Ganti target banyak tempat dengan satu pengalaman

ilustrasi belajar tentang kopi Bali (dok.pribadi/Natalia Indah)

Itinerary padat biasanya membuat wisatawan menghitung keberhasilan liburan dari jumlah tempat yang dikunjungi. Sedangkan slow travel menggunakan ukuran yang berbeda.

Daripada menargetkan 4 atau 5 tempat dalam sehari, pilih satu pengalaman yang ingin benar-benar dinikmati. Misalnya, mengikuti kelas memasak makanan Bali, belajar membuat kerajinan, menikmati aktivitas pertanian, belajar tentang kopi, atau menghabiskan waktu di desa wisata. Dengan begitu, liburan gak hanya menghasilkan foto baru, tetapi juga pengalaman yang lebih personal.

6. Luangkan waktu menikmati alam, bukan sekadar cari spot foto

ilustrasi menikmati suasana hutan di Bali (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Bali memiliki lanskap yang jauh lebih luas daripada pantai dan tempat yang sedang viral. Persawahan, perbukitan, hutan, pegunungan, dan desa bisa menjadi bagian dari perjalanan slow travel. Di antaranya seperti kawasan Jatiluwih yang mencakup persawahan terasering yang berkaitan dengan sistem subak, atau hutan kecil di kawasan Bedugul.

Saat mengunjungi kawasan seperti itu, cobalah mengurangi dorongan untuk sekadar mencari sudut foto terbaik. Berjalan perlahan, mengamati lanskap, dan memahami bagaimana masyarakat mengelola lingkungan justru bisa menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

7. Pilih kuliner lokal dan belanja dari masyarakat setempat

ilustrasi sajian salah satu warung di Tabanan (dok. Pribadi/Natalia Indah)

Salah satu cara paling sederhana untuk memperlambat perjalanan adalah berhenti dan menjadikan makan sebagai sekadar jeda di antara dua destinasi. Sisihkan waktu untuk mencari makanan lokal, seperti berburu sarapan di pasar tradisional, mencoba warung rumahan, membeli hasil pertanian lokal, atau mencicipi makanan khas dari kawasan yang sedang dikunjungi.

Hal yang sama berlaku saat membeli oleh-oleh. Jika memungkinkan, pilih produk kerajinan yang dibuat masyarakat setempat seperti di Desa Penglipuran atau Desa Tenganan Pegringsingan yang banyak terdapat kerajinan lokal warganya, sehingga uang yang dibelanjakan selama liburan dapat ikut mendorong ekonomi lokal.

Pada akhirnya, menikmati Bali tidak selalu membutuhkan peta yang penuh tanda pin. Ada kalanya perjalanan terbaik justru dimulai ketika jadwal berhenti menjadi terlalu penting. Bangun tanpa terburu-buru, berjalan menyusuri gang kecil, menemukan warung yang aromanya menggoda, lalu duduk sedikit lebih lama sambil melihat kehidupan berjalan seperti biasa. Bali memang punya banyak tempat untuk dikunjungi, namun untuk mengenalnya lebih dekat, mungkin kita justru perlu memperlambat langkah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article