Jepang Targetkan 60 Juta Pengunjung Mancanegara pada 2030

- Pemerintah Jepang menargetkan 60 juta wisatawan mancanegara pada 2030 dengan fokus mengalihkan kunjungan dari kota besar seperti Tokyo dan Osaka ke daerah regional untuk mengurangi overtourism.
- Keterbatasan kapasitas bandara regional dan penundaan pembangunan infrastruktur membuat target ambisius ini sulit tercapai tanpa perluasan rute internasional serta peningkatan fasilitas di luar wilayah metropolitan.
- Jepang menggandeng sepuluh organisasi pariwisata lokal untuk memperkuat daya tarik destinasi regional melalui kolaborasi antara operator transportasi, bank, dan pemerintah daerah demi pemerataan kunjungan wisata.
Meski terancam mengalami overtourism pada 2030, Jepang tidak pernah mengumumkan akan membatasi wisatawan asing yang berkunjung. Bahkan, sebaliknya, Negeri Sakura tersebut baru-baru ini menargetkan 60 juta pengunjung mancanegara di tahun itu.
Alih-alih area-area populer seperti Tokyo, Kyoto, maupun Osaka, Jepang berencana untuk menarik lebih banyak wisatawan asing ke sejumlah daerah regional demi menekan overtourism. Apakah mungkin dengan jumlah yang besar tersebut, ya?
1. Jepang targetkan 60 juta pengunjung mancanegara pada 2030

Pada Maret 2026 lalu, pemerintah Jepang resmi menyetujui rencana dasar kelima untuk mempromosikan Jepang sebagai negara yang berorientasi pada pariwisata dengan menetapkan target 60 juta pengunjung mancanegara pada 2030. Jumlah tersebut kira-kira 40 persen lebih banyak daripada 2025 lalu.
Meski angka tersebut sangat besar, tujuan ini akan tercapai jika pemerintah Jepang menarik lebih banyak wisatawan asing ke daerah-daerah regional. Sebab area-area populer, seperti Tokyo, Osaka, hingga Kyoto, belakangan ini telah mengalami overtourism yang berdampak pada kualitas hidup penduduk di kota-kota utama itu.
60 juta pengunjung mancanegara ini berarti sekitar 160 ribu kedatangan per hari. Dengan asumsi rata-rata masa tinggal 10 hari berdasarkan tren terkini, kira-kira 1,6 juta wisatawan asing akan pelesir ke Jepang setiap harinya. Angka tersebut juga mendekati 40 persen dari 4,13 juta penduduk dunia yang tercatat pada akhir 2025.
2. Target kemungkinan sulit dicapai karena keterbatasan di bandara regional

Bagi Jepang, menyalahkan pengunjung mancanegara atas overtourism adalah tindakan yang berlebihan. Pemerintah setempat menganggap kondisi tersebut dapat dikelola melalui langkah-langkah yang tepat dan praktis. Saat ini, Jepang sangat bergantung pada Bandara Haneda dan Narita di wilayah Tokyo serta Bandara Internasional Kansai di Prefektur Osaka.
Namun, penundaan pembangunan runway ketiga di Bandara Narita dan kebutuhan untuk memperluas kapasitas, seperti penambahan staf bandara, berarti penerbangan tambahan di wilayah ibu kota kemungkinan tidak akan meningkat banyak dalam waktu dekat. Karena itu, target 60 juta pengunjung mancanegara pada 2030 kemungkinan menjadi semakin sulit dicapai dalam kondisi tersebut.
Selain itu, untuk menarik lebih banyak wisatawan asing melalui bandara regional, diperlukan perluasan rute internasional yang signifikan. Dengan keterbatasan layanan tersebut, akan lebih realistis untuk menetapkan bandara gerbang di setiap blok regional dan menghubungkannya ke jaringan transportasi atau lokasi wisata utama di wilayah yang akan diprioritaskan untuk menekan overtourism.
3. Jepang gandeng organisasi lokal untuk wujudkan mimpi besar pada 2030

Jika dilihat dari jumlah kunjungan per prefektur pada 2025 berdasarkan total malam menginap tamu asing, Tokyo menyumbang 34 persen dari jumlah keseluruhan. Kemudian, diikuti oleh Prefektur Osaka sebesar 14 persen, Prefektur Kyoto sebesar 11 persen, Hokkaido sebesar 7 persen, Okinawa sebesar 5 persen, dan Prefektur Fukuoka sebesar 4 persen.
Banyak prefektur di luar tiga wilayah metropolitan utama mencatatkan tingkat hunian kamar di bawah 60 persen pada 2025, yang menunjukkan adanya kelebihan kapasitas akomodasi. Penargetan 60 juta pengunjung mancanegara pada 2030 akan bergantung pada apakah Jepang dapat mengarahkan lebih banyak wisatawan asing ke destinasi regional.
Tantangan terbesar bagi pariwisata regional juga adalah apakah tempat tersebut menarik untuk dikunjungi dan ditinggali. Pada 2026 ini saja, masih banyak wisatawan asing yang memilih "liburan aman" dengan berkunjung ke area-area populer di Jepang, terutama Tokyo, karena menawarkan perpaduan unik antara tradisi kuno dan teknologi mutakhir.
Maka dari itu, 10 organisasi manajemen destinasi wilayah luas, seperti Organisasi Promosi Pariwisata Tohoku, akan ditugaskan untuk ikut terlibat. Organisasi-organisasi tersebut menyatukan operator kereta api lokal, bank, dan pemerintah daerah dalam dorongan "urusan lokal ditangani secara lokal" yang diharapkan dapat memperkuat daya tarik regional.




![[QUIZ] Tentukan Libur Long Weekendmu dari Karakter Star Wars: The Mandalorian and Grogu!](https://image.idntimes.com/post/20260520/upload_6c7af36e52f98c001c66153504eae1e5_81a245f3-5bea-4f49-aa6a-e0741c28f2ea.jpg)
![[QUIZ] Temukan Destinasi Long Weekend untukmu dari Lagu BTS Terbaru Ini!](https://image.idntimes.com/post/20260305/upload_40063df504fcaf5123221ead59ff558d_257e8888-befc-4068-b3fe-26e86bb7e43e.jpg)


![[QUIZ] Destinasi Long Weekend di Berdasarkan Member no na Favoritmu](https://image.idntimes.com/post/20260519/upload_19c2bb2c8c5f82ced8801400effc4b93_f130c67b-d45c-4519-97bf-841a8c90517e.jpg)









