Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret pesawat Emirates
Potret pesawat Emirates (unsplash.com/Saim Munib)

Beberapa waktu lalu, momen kehadiran pesawat Airbus A380 yang dioperasikan Emirates sempat viral di media sosial, karena sejumlah pengguna jalan di kawasan Sunset Road, Bali, berhenti sejenak untuk mengabadikan pendaratannya. Tak sedikit orang yang rela menepi demi menyaksikan langsung salah satu pesawat komersial terbesar di dunia itu melintas rendah sebelum mendarat.

Namun belakangan, Emirates mulai terlihat jarang mengoperasikan Airbus A380 ke Bali. Maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut kini lebih sering menggantinya dengan Boeing 777-300ER. Perubahan ini pertama kali diidentifikasi sebuah blog perjalanan populer, One Mile At A Time.

Dari sisi kapasitas, perbedaan kedua pesawat ini cukup signifikan. Airbus A380 mampu mengangkut hingga 615 penumpang dalam dua kelas non-first class. Sementara itu, Boeing 777-300ER hanya memiliki sekitar 421 kursi, atau sepertiga lebih sedikit dibandingkan A380.

Emirates sendiri pertama kalinya mengoperasikan pesawat superjumbo tersebut ke Bali pada 1 Juni 2023 dan hampir selalu terbang setiap hari. Bahkan, berdasarkan data dari sebuah platform analisis penerbangan, Cirium Diio, Airbus A380 sempat beroperasi dua kali sehari pada September dan Oktober 2024.

Musim sepi dan menurunnya permintaan penumpang

Potret penumpang pesawat (pexels.com/MEHMET AYTEMİZ)

Data FlightRadar24 menunjukkan penggunaan A380 untuk rute Bali terakhir tercatat pada 16 Januari. Hal ini sejalan dengan jadwal yang diajukan Emirates ke Cirium. Informasi terbaru menyebutkan pesawat ini dijadwalkan kembali terbang ke Indonesia pada 25 Februari, meski jadwal tersebut masih berpotensi berubah.

Isu ini semakin ramai setelah Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan pandangannya dalam forum Asosiasi Penerbangan Indonesia. Ia menyebutkan tiga syarat, agar Emirates dapat terus mengoperasikan A380 ke Bali.

Pertama, pembangunan fasilitas perawatan, perbaikan, dan perombakan (maintenance, repair, and overhaul/MRO) di Indonesia. Kedua, peningkatan jumlah pilot dan awak kabin asal Indonesia, termasuk pada rute penerbangan ke Tanah Air. Ketiga, adanya penambahan rute Emirates ke destinasi lain di Indonesia selain Bali dan Jakarta.

Sikap negosiasi ini dinilai tidak lazim oleh sejumlah pengamat penerbangan. Sebuah situs berita yang fokus pada industri penerbangan, Simple Flying bahkan menyebut kasus ini sebagai situasi langka, di mana sebuah negara dinilai membatasi penggunaan jenis pesawat tertentu tanpa adanya isu keselamatan.

Di sisi lain, pihak Bandara I Gusti Ngurah Rai membantah anggapan tersebut. Kepala Divisi Komunikasi dan Hukum Bandara Denpasar, Gede Eka Sandi Asmadi, menegaskan tidak ada larangan bagi Emirates untuk mengoperasikan Airbus A380 ke Bali. Menurut dia, penarikan sementara pesawat tersebut lebih disebabkan low season dan penyesuaian kapasitas, akibat menurunnya permintaan penumpang.

Terlepas dari polemik tersebut, absennya Airbus A380 di langit Bali tentu dirindukan banyak orang. Bagi sebagian orang, pesawat raksasa ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan atraksi yang ikut mewarnai pengalaman wisata di Pulau Dewata.

Apakah kamu pernah melihat pesawat raksasa ini mendarat secara langsung?

Editorial Team