Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Lala Mustafa Pasha, Masjid Bersejarah di Famagusta

3 min read
Fakta Lala Mustafa Pasha, Masjid Bersejarah di Famagusta
Pemandangan Masjid Lala Mustafa Pasha dari ravelin tembok kota Famagusta. (commons.wikimedia.org/A.Savin)
  • Masjid Lala Mustafa Pasha di Famagusta awalnya merupakan Katedral Latin Santo Nikolas, dibangun pada 1298–1312 dan ditahbiskan pada 1328 pada era Dinasti Lusignan.
  • Setelah Usmaniyah merebut Famagusta pada 1571, katedral diubah menjadi masjid dengan penambahan mihrab dan menara; namanya menjadi Lala Mustafa Pasha pada 1954.
  • Bangunan bergaya Gotik Rayonnant ini dijuluki “Reims-nya Siprus Utara”, memiliki fasad batu, tiga serambi, serta menara kembar yang masih menyimpan jejak pengepungan Usmaniyah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masjid Lala Mustafa Pasha adalah bangunan bersejarah di Famagusta, Siprus. Awalnya didirikan sebagai Katedral Latin Santo Nikolas. Kemudian, bangunan ini digunakan sebagai Masjid Santa Sofia atau Ayasofya. Masjid ini merupakan situs abad pertengahan terbesar di Famagusta dan salah satu bangunan Franka kuno terbaik di kawasan Mediterania.

Bangunan ini merupakan salah satu situs bersejarah utama di Siprus. Dibangun pada masa pemerintahan Lusignan, gaya arsitektur gotik menjadikannya bagian penting dari sejarah Famagusta. Yuk, simak fakta unik tentang Masjid Lala Mustafa Pasha berikut ini!

  1. 1. Ditahbiskan pada tahun 1328

    potret pajangan Al-Qur'an di dalam Masjid Lala Mustafa Pasha
    potret pajangan Al-Qur'an di dalam Masjid Lala Mustafa Pasha (commons.wikimedia.org/Visem)

    Dinasti Lusignan memerintah Siprus dari tahun 1192 hingga 1489 dan membawa gaya Gotik Prancis ke pulau tersebut. Katedral ini kemungkinan dirancang oleh Jean Langlois dan dibangun di lokasi gereja yang lebih tua, lapor Visit North Cyprus. Bangunan ini didirikan antara tahun 1298—1312 serta ditahbiskan pada tahun 1328.

    Pada tahun 1372, para penguasa Lusignan dinobatkan sebagai Raja Siprus di Katedral Santa Sofia di Nikosia. Mereka kemudian dinobatkan sebagai Raja Yerusalem di Katedral Santo Nikolas di Famagusta. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadikan kedua katedral itu sebagai situs penting dalam sejarah Kerajaan Lusignan.

  2. 2. Diubah menjadi masjid oleh Usmaniyah

    Pemandangan pelataran Masjid Lala Mustafa Pasha.
    Pemandangan pelataran Masjid Lala Mustafa Pasha. (commons.wikimedia.org/Chris06)

    Pada tahun 1571, pasukan Usmaniyah mengalahkan pihak Venesia dan merebut Famagusta. Siprus kemudian berada di bawah kekuasaan Usmaniyah dan katedral tersebut diubah menjadi masjid. Sebuah mihrab dan menara ditambahkan, lalu namanya diganti menjadi Masjid St. Sophia Famagusta.

    Masjid mempertahankan nama lamanya hingga tahun 1954, ketika namanya diubah menjadi Lala Mustafa Pasha untuk mengenang pemimpin serangan ke Siprus pada tahun 1570, ujar Spotting History. Setelah beralih fungsi menjadi masjid, gambar-gambar sosok manusia disingkirkan, sementara lukisan serta seni dinding lama ditutupi dengan lapisan plester. Sebagian kaca patri diganti dengan kaca bening, dan lantai dilapisi dengan karpet. Beberapa makam tua masih dapat dilihat di bagian utara masjid.

  3. 3. Arsitektur Masjid Lala Mustafa Pasha

    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Lala Mustafa Pasha.
    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Lala Mustafa Pasha. (commons.wikimedia.org/Chris06)

    Bangunan ini memiliki gaya Gotik Rayonnant, yang jarang ditemukan di luar Prancis. Desainnya mencerminkan hubungan lama antara Prancis dan Siprus serta memiliki kemiripan dengan Notre-Dame de Reims. Kaitan erat dengan gereja di Prancis tersebut menjadikannya dijuluki "Reims-nya Siprus Utara". Gayanya juga memiliki kemiripan ciri dengan Gereja St. Sophia di Nicosia dan Biara Bellapais di dekat Kyrenia.

    Pintu masuk utama terletak di sisi barat masjid, tepat di sebelah Alun-alun Namık Kemal di pusat kota. Bagian depannya terbuat dari batu berwarna cokelat muda dan dapat terlihat dari jalan-jalan sempit di Famagusta. Sisi barat ini memiliki tiga serambi kecil, dengan serambi di bagian tengah yang lebih lebar dibandingkan dengan yang lainnya. Di atasnya terdapat dudukan batu yang kemungkinan dahulu menopang patung-patung orang suci, sebuah gaya yang dikenal sebagai Periode Dekoratif.

  4. 4. Menara kembarnya adalah fitur luar yang paling mencolok

    Pemandangan dua menara Masjid Lala Mustafa Pasha.
    Pemandangan dua menara Masjid Lala Mustafa Pasha. (commons.wikimedia.org/Zairon)

    Ciri bagian luar masjid yang paling mencolok adalah dua menara tingginya. Menara-menara ini dulunya memiliki jendela-jendela berornamen rumit, namun sebagian besar elemen batunya kini telah hilang. Akibatnya, hanya bagian bawahnya saja yang masih tersisa saat ini. Menara bagian utara kemudian dilengkapi dengan sebuah menara kecil yang ramping di puncaknya.

    Bekas kerusakan akibat pengepungan oleh Kesultanan Usmaniyah masih dapat terlihat. Kerusakan itu paling jelas terlihat saat dindingnya diamati dari dekat. Seperti banyak bangunan tua di kawasan Mediterania Timur, masjid ini memiliki atap datar.

    Masjid Lala Mustafa Pasha merupakan markah tanah penting di Famagusta; dinding-dinding tua dan gaya gotiknya mencerminkan masa lalu kota tersebut. Fungsinya sebagai masjid juga mencerminkan era Kesultanan Usmaniyah dan menjadikannya bagian penting dari sejarah Famagusta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More