Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Menarik Lalibela, Gereja Batu yang Dipahat dari Atas ke Bawah

5 Fakta Menarik Lalibela, Gereja Batu yang Dipahat dari Atas ke Bawah
Lalibela (unsplash.com/mulugeta wolde)
Intinya Sih
  • Lalibela di Ethiopia terkenal dengan sebelas gereja batu monolitik yang dipahat dari atas ke bawah langsung dari batu utuh, menampilkan teknik arsitektur unik abad pertengahan.

  • Kompleks ini dirancang Raja Lalibela sebagai simbol Yerusalem Baru, terdiri dari dua kelompok utama gereja yang terhubung parit dan lorong bawah tanah bernuansa religius.

  • Hingga kini Lalibela masih aktif sebagai situs ziarah, tapi menghadapi tantangan pelestarian akibat kerusakan struktur, degradasi lukisan, serta dampak pembangunan modern.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Lalibela merupakan salah satu situs bersejarah paling terkenal di Ethiopia. Tempat ini dikenal karena sebelas gereja batu yang dipahat langsung dari massa batu alam, bukan dibangun dengan susunan batu seperti bangunan biasa. Dilansir dari UNESCO World Heritage Centre, gereja gereja abad pertengahan ini berada di wilayah pegunungan di jantung Ethiopia dan menjadi salah satu tempat penting bagi Kekristenan Ethiopia.

Daya tarik Lalibela terletak pada cara pembuatannya yang tidak lazim. Bangunannya seperti muncul dari dalam tanah, tersambung oleh parit, lorong, dan terowongan, serta masih berfungsi sebagai tempat ziarah hingga sekarang. Di balik bentuknya yang dramatis, Lalibela menyimpan banyak fakta menarik tentang teknik pahat, simbol keagamaan, dan tantangan pelestarian warisan dunia ini.

1. Gerejanya dipahat dari batu utuh dari atas ke bawah

Lalibela
Lalibela (pexels.com/Ludo Van den Nouweland)

Berdasarkan penjelasan Britannica, gereja gereja Lalibela dibuat dengan cara menggali parit berbentuk persegi panjang untuk memisahkan satu blok batu padat. Setelah blok itu terbentuk, bagian luar dan dalamnya dipahat, dengan pengerjaan yang bergerak dari bagian atas menuju bagian bawah. Cara ini berbeda dari bangunan biasa yang umumnya disusun dari fondasi ke atas.

Menurut UNESCO World Heritage Centre, gereja gereja tersebut dipahat dari blok monolitik, lalu dibentuk menjadi pintu, jendela, kolom, lantai, dan atap. Para pembuatnya menandai batas bangunan pada permukaan batu, memisahkan struktur utama, kemudian memahat bagian dalam sambil menyempurnakan bagian luar.

2. Lalibela dirancang sebagai simbol Yerusalem Baru

Lalibela
Lalibela (pixabay.com/dMz)

Dilansir dari UNESCO World Heritage Centre, pembangunan sebelas gereja batu ini dikaitkan dengan Raja Lalibela. Ia disebut berusaha membangun Yerusalem Baru pada abad 12 setelah ziarah Kristen ke Tanah Suci terhambat. Gagasan ini membuat Lalibela bukan hanya kompleks bangunan, tetapi juga lanskap religius yang penuh makna di Ethiopia.

Simbol Yerusalem juga terlihat dari pembagian kompleksnya. UNESCO menjelaskan bahwa gereja gereja Lalibela terbagi menjadi dua kelompok utama di sisi utara dan selatan Sungai Jordan, sementara Biete Ghiorgis berdiri terpisah tetapi tetap tersambung dengan sistem parit. Pada Biete Golgotha, terdapat replika makam Kristus, makam Adam, dan palungan Kelahiran.

3. Kompleksnya dihubungkan oleh parit dan lorong bawah tanah

Lalibela
Lalibela (pexels.com/Ludo Van den Nouweland)

Lalibela tidak berdiri sebagai kumpulan gereja yang terpisah begitu saja. Menurut UNESCO World Heritage Centre, sebelas gereja ini dilengkapi sistem parit, saluran drainase, dan jalur seremonial. Sebagian jalur bahkan memiliki bukaan menuju gua pertapa dan katakomba, sehingga kompleks ini terasa seperti jaringan ruang bawah tanah yang saling berhubungan.

Melansir The Metropolitan Museum of Art, sistem parit dan terowongan itu juga memberi pengalaman fisik ketika seseorang bergerak dari satu gereja ke gereja lain. Jalur yang sempit membuat orang berjalan berurutan, lalu bergerak turun ke dalam tanah dan naik kembali menuju bangunan gereja. Elemen ruang ini menjadi bagian penting dari pengalaman religius di Lalibela.

4. Setiap gereja memiliki bentuk dan detail yang berbeda

Lalibela
Lalibela (pexels.com/Estella)

UNESCO World Heritage Centre menjelaskan bahwa Biete Medhani Alem diyakini sebagai gereja monolitik terbesar di dunia, sedangkan Biete Ghiorgis dikenal karena denahnya yang berbentuk salib. Britannica mencatat bahwa Biete Medhane Alem memiliki panjang sekitar 33 meter, lebar 23 meter, dan kedalaman 10 meter, sehingga ukurannya terlihat sangat menonjol di antara gereja lain.

Perbedaan juga tampak pada interiornya. Britannica menyebut Biete Mariam dikenal karena lukisan dindingnya. The Metropolitan Museum of Art menambahkan bahwa Biete Mariam mempertahankan lukisan geometris dan adegan biblis berwarna pada dinding, langit langit, dan kolomnya.

5. Lalibela masih menjadi situs ziarah yang aktif sekaligus rapuh

Lalibela
Lalibela (unsplash.com/Volker Repke)

Dilansir dari UNESCO World Heritage Centre, Lalibela masih menjadi tempat ziarah dan devosi hingga sekarang. Situs ini juga dihuni komunitas imam dan biarawan, serta menarik banyak peziarah pada perayaan besar dalam kalender Kristen Ethiopia. Artinya, Lalibela bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga ruang keagamaan yang tetap hidup.

Namun, kondisi fisiknya menghadapi banyak tantangan. UNESCO World Heritage Centre menjelaskan bahwa saluran drainase pernah tertutup tanah selama berabad abad sebelum dibersihkan pada abad ke 20, dan kondisi itu berkontribusi pada kerusakan akibat air. UNESCO juga mencatat adanya degradasi lukisan, kerusakan pahatan, masalah struktur, serta ancaman dari pembangunan baru dan infrastruktur pariwisata.

Lalibela memperlihatkan bagaimana batu, ruang, dan keyakinan dapat menyatu dalam satu lanskap bersejarah. Gereja ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan hasil teknik pahat yang rumit, simbol religius yang kuat, dan warisan hidup yang masih digunakan hingga kini. Keunikan itu sekaligus menunjukkan pentingnya pelestarian agar situs ini tetap bertahan tanpa kehilangan nilai sejarah dan spiritualnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More