Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
El Capitolio di Havana, Kuba (unsplash.com/David Auinger)
  • Kedatangan wisatawan asing ke Kuba turun 62% pada Januari-Juli 2026, menjadi sekitar 419 ribu orang, sehingga menekan hotel, restoran, transportasi, dan tempat wisata.
  • Krisis bahan bakar memperburuk pariwisata Kuba karena penerbangan, bandara, transportasi darat, hotel, dan restoran bergantung pada pasokan energi untuk melayani wisatawan.
  • Meliá Hotels International dilaporkan menangguhkan kontraknya di Kuba; berkurangnya jaringan hotel internasional dapat melemahkan pemasaran dan akses Kuba ke calon wisatawan global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pariwisata Kuba pernah berada di puncak kejayaan pada 2019. Bahkan, negara yang dijuluki Mutiara Karibia karena keindahan alamnya tersebut menyambut sekitar 4,3 juta wisatawan asing pada tahun itu, sehingga sektor ini pun diandalkan sebagai sumber pendapatan devisa. Namun, masa keemasan Kuba ini tidak bertahan lama.

Dilansir Travel and Tour World, pariwisata Kuba telah mengalami penurunan yang sangat tajam dalam jumlah kedatangan wisatawan asing selama 7 bulan pertama 2026, yang membuat sejumlah akomodasi ikut lesu. Selain itu, baru-baru ini salah satu grup hotel internasional yang paling terkenal juga mengakhiri operasionalnya di Kuba.

1. Pariwisata Kuba terpuruk setelah jumlah wisatawan asing turun 62 persen

Havana, Kuba (unsplash.com/Spencer Everett)

Industri pariwisata Kuba tengah menghadapi salah satu penurunan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kedatangan wisatawan asing tercatat turun drastis hingga 62 persen antara Januari dan Juli 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka resmi dari The National Office of Statistics and Information (ONEI) menunjukkan bahwa hanya sekitar 419 ribu pengunjung internasional yang tiba di Kuba selama 7 bulan pertama 2026.

Penurunan jumlah wisatawan asing ini tentunya memberikan tekanan tambahan pada hotel, penyedia akomodasi pribadi, restoran, toko, hingga tempat wisata yang sangat bergantung pada pengunjung dari luar negeri, nih. Pasalnya, semakin sedikit pengunjung berarti lebih lemahnya permintaan untuk kamar hotel, transportasi, wisata, dan layanan lainnya.

Selain itu, dampak ini sangat signifikan karena pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa bagi Kuba selama beberapa dekade. Apalagi, Kuba pernah berada dalam masa kejayaan dengan menyambut sekitar 4,3 juta wisatawan pada 2019, sebelum pandemik. Pihak berwenang mengindikasikan sektor tersebut menghasilkan sekitar 3 miliar dolar AS per tahun.

2. Krisis bahan bakar berdampak pada kemerosotan pariwisata Kuba

Havana, Kuba (unsplash.com/JF Martin)

Kemerosotan industri pariwisata saat ini terjadi di tengah masalah ekonomi yang dialami Kuba. Pada awal 2026 lalu, presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melarang pasokan energi ke Kuba dengan memutus jalur masuk minyak, sehingga membuat krisis bahan bakar dan ekonomi negara tersebut semakin tidak terkendali belakangan ini.

Sebelumnya, Kuba sudah menghadapi inflasi, kekurangan pasokan, dan kesulitan keuangan. Tekanan tambahan ini telah menimbulkan konsekuensi bagi industri pariwisata yang bergantung pada bahan bakar, termasuk penerbangan, transportasi darat, dan perhotelan. Sedangkan, bagi wisatawan asing, kekurangan energi bisa merusak liburan mereka.

Apalagi, bandara membutuhkan pasokan bahan bakar, serta hotel dan restoran perlu listrik untuk menjalankan layanan. Operator transportasi juga membutuhkan bahan bakar untuk mengangkut pengunjung antara bandara, hotel, dan tempat wisata. Oleh karena itu, krisis energi di Kuba juga menjadi sangat berdampak pada kemunduran sektor pariwisata.

3. Kuba kehilangan kepercayaan hotel internasinal akibat pariwisata yang lesu

El Capitolio di Havana, Kuba (unsplash.com/Einar H. Reynis)

Meliá Hotels International telah menjadi salah satu hotel internasional paling terkenal yang beroperasi di Kuba. Akomodasi asal Spanyol ini telah mempertahankan kehadiran yang signifikan di negara yang dijuluki Mutiara Karibia ini selama beberapa dekade. Namun, dilansir Travel and Tour World, Meliá Hotels International dikabarkan menangguhkan kontraknya di Kuba di tengah perubahan kondisi industri pariwisata tersebut.

Saat kedatangan wisatawan asing menurun tajam, biaya-biaya operasional menjadi lebih sulit untuk ditanggung. Akibatnya, hotel terpaksa mengurangi sebagian kamar atau bahkan tutup sementara. Itulah mengapa data pengunjung terbaru sangat penting bagi industri pariwisata. Angka ini bukan hanya menunjukkan musim yang sepi, tetapi juga memperlihatkan seberapa parah masalah penurunan minat pengunjung internasional.

Dampak penangguhan kontrak ini tidak hanya dirasakan oleh Meliá Hotels International yang bersangkutan, tetapi juga oleh area di sekitarnya. Hotel jaringan internasional membantu menarik wisatawan asing lewat sistem pemasaran, aplikasi pemesanan, dan jaringan global mereka. Jika hubungan dengan jaringan hotel internasional berkurang, Kuba akan lebih sulit dikenal dan didatangi oleh pengunjung internasional ke depannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article