Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Pengalaman Pahit yang Dialami Wisatawan dengan Paspor Lemah
ilustrasi paspor (freepik.com/rawpixel.com)
  • Data Henley Passport Index menunjukkan kesenjangan besar antara kekuatan paspor negara, membuat pemegang paspor lemah menghadapi lebih banyak hambatan saat ingin bepergian ke luar negeri.
  • Pemegang paspor berperingkat rendah sering mengalami proses visa panjang, pemeriksaan ketat di perbatasan, dan perlakuan berbeda yang menimbulkan rasa cemas serta tekanan emosional selama perjalanan.
  • Kemajuan teknologi perbatasan seperti biometrik dan otorisasi elektronik menambah kompleksitas perjalanan bagi wisatawan dengan paspor lemah, memaksa mereka menyiapkan dokumen tambahan demi membuktikan kelayakan bepergian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang membayangkan liburan ke luar negeri sebagai pengalaman yang menyenangkan dan penuh kebebasan. Kamu tinggal memesan tiket, menyiapkan koper, lalu berangkat menuju destinasi impian. Sayangnya, pengalaman tersebut tidak dirasakan oleh semua wisatawan, lho.

Data dari Henley Passport Index menunjukkan bahwa kekuatan paspor setiap negara berbeda-beda. Pemegang paspor Singapura saat ini dapat mengunjungi 192 destinasi tanpa visa, sementara pemegang paspor Afghanistan hanya memiliki akses ke 23 destinasi. Perbedaan ini membuat sebagian orang harus menghadapi berbagai hambatan yang bahkan dimulai sebelum liburan berlangsung.

1. Harus mengurus visa dengan proses yang panjang

ilustrasi dokumen paspor dan visa (freepik.com/freepik)

Bagi pemegang paspor lemah, perjalanan ke luar negeri sering kali membutuhkan persiapan yang jauh lebih rumit. Kamu mungkin harus mengumpulkan berbagai dokumen, mulai dari bukti keuangan, surat bukti pekerjaan, tiket perjalanan, hingga reservasi hotel sebelum mengajukan visa.

Hasil riset dalam Annals of Tourism Research memperlihatkan bahwa proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan. Lebih menyulitkan lagi, visa tetap bisa ditolak meski seluruh persyaratan sudah dipenuhi. Kondisi ini membuat banyak wisatawan merasa harus mengeluarkan tenaga dan biaya lebih besar dibandingkan dengan pelancong dari negara lain.

2. Sering mendapat perlakuan berbeda di perbatasan

ilustrasi perbatasan negara, traveling, imigrasi (pexels.com/Miguel Cuenca)

Momen melewati imigrasi menjadi salah satu bagian yang paling menegangkan bagi sebagian wisatawan. Kajian yang diterbitkan dalam Annals of Tourism Research mencatat bahwa pemegang paspor berperingkat rendah kerap menghadapi pertanyaan yang lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan lain.

Sebagian responden merasa bahwa perlakuan tersebut dipengaruhi oleh kewarganegaraan, ras, gender, atau latar belakang mereka. Pemeriksaan tambahan dan wawancara yang lebih panjang membuat proses masuk ke suatu negara terasa tidak nyaman. Akibatnya, rasa khawatir sering muncul bahkan sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

3. Terpaksa berusaha tampil meyakinkan

ilustrasi traveler, traveling, koper (pexels.com/Valentin Ivantsov)

Dalam studi yang dipublikasikan di Annals of Tourism Research, para peneliti menemukan bahwa banyak wisatawan mengembangkan strategi tertentu saat menghadapi petugas perbatasan. Mereka sengaja berbicara lebih sopan, lebih ramah, dan memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai tujuan perjalanan.

Sebagian responden juga mengaku berusaha menunjukkan kemampuan komunikasi yang baik agar mendapatkan perlakuan yang lebih positif. Ada pula yang memilih menghindari perdebatan meski merasa diperlakukan tidak adil. Semua itu dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami masalah saat proses pemeriksaan berlangsung.

4. Menanggung beban emosional selama perjalanan

ilustrasi traveler, traveling, koper (pexels.com/Asad Photo Maldives)

Masalah yang dihadapi pemegang paspor lemah ternyata gak berhenti pada urusan dokumen. Temuan yang dipublikasikan dalam Annals of Tourism Research mengungkapkan bahwa banyak wisatawan mengalami rasa malu, cemas, marah, hingga frustrasi setelah menjalani pemeriksaan yang ketat.

Beberapa responden menggambarkan pengalaman tersebut sebagai situasi yang membuat mereka kehilangan martabat. Saat diperiksa di depan banyak orang, muncul kekhawatiran bahwa orang lain akan menganggap mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan. Perasaan itu bahkan bisa terus terbawa hingga liburan berakhir.

5. Aturan perjalanan makin kompleks di era digital

ilustrasi bandara (pexels.com/Zheng Xia)

Perkembangan teknologi membuat sistem perbatasan di berbagai negara menjadi semakin canggih. Pemeriksaan biometrik, otorisasi perjalanan elektronik, dan pengumpulan data penumpang kini semakin umum digunakan untuk mengawasi lalu lintas internasional. Bagi wisatawan dengan paspor lemah, perubahan tersebut sering kali berarti tambahan persyaratan dan dokumen yang harus dipersiapkan.

Banyak pelancong akhirnya terbiasa membawa berbagai berkas cadangan untuk berjaga-jaga. Meski bertujuan meningkatkan keamanan, sistem yang semakin kompleks ini membuat sebagian orang merasa harus terus membuktikan bahwa mereka layak untuk bepergian.

Liburan ke luar negeri seharusnya menjadi kesempatan untuk menikmati pengalaman baru dan memperluas wawasan. Namun, bagi sebagian pemegang paspor lemah, perjalanan justru dapat dipenuhi berbagai tantangan yang tidak dialami semua orang. Mulai dari proses visa yang panjang, pemeriksaan ketat di perbatasan, hingga tekanan emosional saat bepergian menjadi bagian dari realitas yang harus mereka hadapi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebebasan untuk menjelajahi dunia masih belum dirasakan secara merata. Karena itu, kekuatan paspor ternyata dapat memengaruhi bukan hanya tujuan yang bisa dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang dirasakan selama perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article