Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Gunung Kawi Bisa Didaki? Ini Faktanya!

Apakah Gunung Kawi Bisa Didaki? Ini Faktanya!
Potret orang sedang hiking (pexels.com/Kamaji Ogino)
Intinya Sih
  • Gunung Kawi di Malang memiliki jalur pendakian dengan ketinggian 2.551 mdpl, namun belum dikelola secara komersial sehingga informasi rute dan fasilitasnya masih terbatas.
  • Terdapat beberapa jalur populer seperti via Precet, Keraton, dan Kucur yang menawarkan karakter medan berbeda, namun pendaki disarankan memilih sesuai kemampuan fisik dan pengalaman.
  • Pendaki perlu membawa perlengkapan lengkap, tidak mendaki sendirian, serta menghormati nilai budaya lokal agar perjalanan aman sekaligus menjaga kelestarian Gunung Kawi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunung Kawi yang di Kabupaten Malang, Jawa Timur, selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata religi yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos. Gunung Kawi juga dikenal sebagai "destinasi pesugihan" di sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal, di balik citra tersebut, kawasan Gunung Kawi juga menyimpan pesona alam yang tak kalah menarik untuk dijelajahi, lho. Hal inilah yang membuat banyak pencinta alam mulai penasaran, apakah Gunung Kawi juga menawarkan pengalaman pendakian seperti gunung-gunung populer lainnya di Jawa Timur.

Pertanyaan tersebut cukup sering muncul, terutama di kalangan wisatawan yang baru mengenal Gunung Kawi. Meski namanya tak sepopuler Gunung Semeru, Arjuno, atau Bromo sebagai destinasi pendakian, Gunung Kawi memiliki karakter dan kondisi yang berbeda.

Lantas, apakah gunung ini memang bisa didaki dan dibuka untuk umum? Selengkapnya, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Gunung Kawi memiliki jalur pendakian

Gunung Kawi menjadi salah satu gunung yang berada di kawasan selatan Kabupaten Malang dengan ketinggian sekitar 2.551 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini termasuk dalam rangkaian pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Meski memiliki jalur menuju ke puncak, pendakian Gunung Kawi tidak dikelola secara komersial seperti gunung wisata lainnya. Oleh karena itu, informasi mengenai rute, titik perizinan, maupun kondisi jalur tidak sebanyak gunung-gunung lainnya yang lebih populer.

2. Ada beberapa jalur yang bisa dipilih

Potret pendaki
Potret pendaki (pexels.com/Katya Wolf)

Gunung Kawi memiliki beberapa jalur pendakian yang bisa dipilih sesuai pengalaman dan preferensi para pendaki. Tiga jalur yang paling sering digunakan adalah via Precet, via Keraton, dan via Kucur dengan karakter medan yang berbeda-beda.

Jalur Precet menjadi salah satu rute yang cukup banyak dipilih pendaki. Pendaki dapat memulai perjalanan dari kawasan Precet, kemudian mengikuti Jalan Raya Wagir–Dampit hingga menuju ke Desa Tumpakkepuh. Dari desa tersebut, tersedia sejumlah petunjuk arah menuju kawasan Gunung Kawi, sehingga pendaki relatif lebih mudah menemukan titik awal pendakian.

Sementara itu, jalur Keraton juga cukup mudah diakses, karena kondisi jalannya sudah memadai untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari arah Malang, pendaki dapat melintasi Jalur Lingkar Barat (Jalibar) Kepanjen, lalu mengikuti penunjuk arah menuju ke Gunung Kawi.

Sebelum memasuki jalur pendakian, pendaki akan melewati kawasan Pesarean Eyang Djoego dan Keraton Gunung Kawi yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer. Meski tidak memiliki basecamp resmi, tersedia beberapa warung, pos, hingga area istirahat yang kerap dimanfaatkan sebagai titik persiapan sebelum mendaki.

Pilihan lainnya adalah Jalur Kucur yang berangkat dari kawasan Kucur, Kecamatan Dau, Malang. Jalur ini juga tergolong mudah dijangkau, tetapi pendaki perlu lebih teliti mengikuti petunjuk arah menuju Desa Tumpang dan kawasan Gunung Kawi, karena beberapa penandanya tidak terlalu mencolok.

Selain ketiga jalur tersebut, masih terdapat beberapa akses lain yang digunakan penduduk setempat maupun komunitas pendaki. Setiap jalurnya memiliki tingkat kesulitan dan karakter medan yang berbeda-beda. Jadi, pastikan memilih rute yang sesuai dengan kemampuan fisik dan pengalaman, agar pendakian berlangsung lebih aman dan nyaman, ya!

3. Hindari mendaki sendirian

Dikarenakan jalurnya belum terlalu ramai, mendaki Gunung Kawi sendirian bukanlah pilihan yang disarankan. Risiko tersesat relatif lebih besar dibandingkan gunung yang memiliki lalu lintas pendaki tinggi.

Akan lebih aman jika mendaki bersama komunitas, penduduk lokal yang memahami jalur, atau menggunakan jasa pemandu. Selain lebih aman, pendaki juga bisa memperoleh informasi mengenai kondisi medan dan cuaca terbaru.

4. Persiapkan logistik dan perlengkapan dengan baik

Potret pendaki yang sedang beristirahat
Potret pendaki yang sedang beristirahat (Unsplash/Jonathan Cutzal)

Fasilitas di jalur pendakian Gunung Kawi masih sangat terbatas. Pendaki perlu membawa perlengkapan pribadi secara lengkap, mulai dari tenda, sleeping bag, perlengkapan memasak, makanan, hingga persediaan air yang cukup. Selain itu, gunakan sepatu trekking dengan daya cengkeram yang baik, karena beberapa bagian jalur dapat menjadi licin, terutama setelah hujan.

5. Tetap patuhi etika saat berada di kawasan Gunung Kawi

Selain menyiapkan perlengkapan dan fisik dengan baik, para pendaki juga perlu menghormati nilai budaya dan tradisi yang masih dijaga masyarakat di kawasan Gunung Kawi. Apalagi Gunung ini memiliki makna spiritual bagi sebagian orang, ada sejumlah etika yang wajib dipatuhi selama perjalanan.

Beberapa pendaki maupun warga setempat biasanya menyarankan tidak banyak mengeluh selama mendaki, menghindari pendakian dengan jumlah anggota rombongan ganjil, serta menjaga pikiran dan ucapan tetap positif selama berada di jalur pendakian. Terlepas dari benar atau tidaknya pantangan tersebut, menghormati kepercayaan lokal merupakan salah satu bentuk etika di mana pun kita berada.

Ketika melewati titik atau landmark tertentu di sepanjang jalur, sebagian pendaki juga terbiasa mengucapkan salam sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan lingkungan sekitar. Sikap sederhana ini mencerminkan rasa hormat terhadap tradisi masyarakat setempat, sekaligus mengingatkan pendaki untuk selalu menjaga sopan santun selama berada di gunung.

Tak kalah penting, tetap terapkan prinsip Leave No Trace dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak vegetasi, serta membawa kembali seluruh barang bawaan setelah pendakian selesai. Dengan begitu, kelestarian Gunung Kawi tetap terjaga dan bisa dinikmati oleh pendaki lainnya di masa mendatang.

Meski belum menjadi destinasi pendakian populer, Gunung Kawi tetap menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pencinta alam. Jalurnya yang masih alami, suasana hutan yang tenang, serta panorama pegunungan menjadi daya tarik tersendiri. Namun, fasilitasnya belum selengkap gunung wisata lain. Jadi, pastikan kamu mempersiapkan pendakian dengan matang, agar perjalanan tetap aman dan nyaman!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More