Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tren Terkini: Candi Gak Hanya untuk Wisata Sejarah Lho!
Kawasan wisata Candi Prambanan, Senin (23/3/2026) (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Ketika mendengar kata candi, banyak orang mungkin langsung membayangkan bangunan bersejarah yang identik dengan pelajaran sejarah, relief kuno, dan wisata edukasi. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan candi di Indonesia berkembang menjadi ruang budaya yang lebih dinamis dan dekat di berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Menariknya, perkembangan ini tidak menghilangkan fungsi utama candi sebagai warisan budaya dan situs bersejarah. Berbagai aktivitas baru yang dihadirkan justru dirancang untuk memperkenalkan nilai sejarah, budaya, dan spiritual candi dengan cara yang lebih relevan dengan gaya hidup masa kini. Di antaranya seperti sunrise atau sunset yoga, pertunjukan seni, festival musik, hingga piknik budaya, semuanya dikemas tanpa mengabaikan aturan dan etika yang berlaku di kawasan cagar budaya.

Kalau dulu orang datang ke candi hanya untuk berfoto atau belajar sejarah, kini ada banyak pengalaman menarik yang bisa dicoba. Berikut beberapa tren aktivitas kekinian yang bisa kamu lakukan di kawasan candi Indonesia.

1. Yoga dan pilates dengan latar candi

Salah satu aktivitas yang semakin populer adalah yoga dan pilates di kawasan candi. Di Candi Prambanan, misalnya, tersedia program Sunrise dan Sunset Pilates/Yoga yang memungkinkan peserta berolahraga sambil menikmati suasana tenang dan panorama candi yang megah.

Sementara itu, di kawasan Borobudur juga kerap digelar sesi Sunrise Meditation dan Sound Healing yang menawarkan pengalaman relaksasi di tengah suasana spiritual, sekaligus pemandangan matahari terbit yang memukau. Aktivitas seperti ini menjadi bukti bahwa situs sejarah dapat tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern tanpa kehilangan nilai budayanya.

Perlu diketahui, sesi pilates, meditasi, dan yoga ini bersifat tentatif, sehingga jadwal pelaksanaannya belum dapat ditentukan secara pasti. Pastikan untuk selalu mengikuti dan memantau akun Instagram resmi Candi Prambanan dan Candi Borobudur, supaya tidak ketinggalan informasi terbaru mengenai jadwal dan pendaftarannya.

2. Berburu pengalaman sunrise dan sunset yang ikonik

Potret Candi Borobudur (unsplash.com/Mario La Pergola)

Jika dahulu wisatawan datang pada siang hari untuk melihat bangunan candi, kini banyak orang justru sengaja datang sebelum matahari terbit atau menjelang senja. Di kawasan Candi Borobudur, tersedia program Borobudur Sunrise yang dimulai sekitar pukul 04.00 WIB dan Borobudur Sunset yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB.

Kawasan Candi Ratu Boko terkenal dengan program Boko Sunset at Ratu Boko menawarkan panorama matahari tenggelam dengan latar bangunan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Momen-momen ini menjadi favorit wisatawan karena menghadirkan pengalaman yang berbeda dibanding kunjungan biasa.

3. Menonton pertunjukan seni di situs warisan budaya

Kawasan candi kini juga menjadi panggung bagi berbagai pertunjukan seni dan budaya berskala nasional maupun internasional. Di Candi Prambanan, wisatawan dapat menyaksikan Pertunjukan Ramayana Ballet yang digelar setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 17.30 WIB.

Pertunjukan ini mengangkat kisah Ramayana yang juga tergambar pada relief candi, sehingga menghadirkan pengalaman budaya yang lebih mendalam. Ada pula pertunjukan Shinta Obong yang digelar setiap Jumat pukul 19.30 WIB. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu atraksi budaya yang banyak diminati pengunjung, karena menggabungkan unsur tari, drama, dan musik tradisional dalam suasana yang megah.

4. Melihat festival musik

Potret musisi asal Korea Selatan, eaJ Park saat tampil di Prambanan Jazz Festival 2025, Jumat (4/7/2025) malam (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Siapa sangka kawasan candi kini menjadi lokasi penyelenggaraan festival musik yang ditunggu banyak orang? Salah satu yang paling populer adalah Prambanan Jazz Festival yang digelar setiap tahun di pelataran Candi Prambanan.

Tahun ini, Prambanan Jazz Festival akan berlangsung pada 3–5 Juli 2026. Perpaduan musik modern dengan latar bangunan bersejarah menciptakan pengalaman yang unik. Meski demikian, penyelenggaraan acara tetap memperhatikan aspek konservasi sehingga keberadaan candi sebagai warisan budaya tetap terjaga.

5. Belanja produk lokal dan menikmati bazar budaya

Aktivitas di kawasan candi kini tidak hanya berpusat pada bangunan utamanya. Berbagai bazar dan kegiatan ekonomi kreatif juga mulai rutin dihadirkan untuk mendukung para pelaku UMKM dan memperkenalkan produk budaya kepada wisatawan.

Kawasan di Candi Borobudur, khususnya saat perayaan Waisak, sering menghadirkan bazar yang menjual aneka kuliner, kerajinan tangan, hingga produk budaya khas daerah sekitar. Kehadiran bazar membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih lengkap sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

6. Mengenal tradisi dan ritual keagamaan secara langsung

Potret festival lampion di Candi Borobudur (pexels.com/Olivier Darny)

Selain wisata dan hiburan, kawasan candi juga tetap menjadi ruang penting bagi aktivitas spiritual dan keagamaan. Misalnya seperti Candi Borobudur yang tetap mempertahankan fungsinya sebagai ruang spiritual dan budaya yang penting bagi umat Buddha.

Salah satu momen yang paling dinantikan setiap tahun adalah rangkaian perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak, yang umumnya berlangsung pada bulan Mei atau Juni, menyesuaikan kalender lunar Buddhis. Perayaan ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Salah satu yang paling ikonik adalah Festival Lampion Waisak Borobudur, yang biasanya digelar pada malam puncak Waisak setelah rangkaian ibadah selesai dilaksanakan. Ribuan lampion yang diterbangkan ke langit malam menjadi simbol harapan, kedamaian, dan doa bagi kehidupan yang lebih baik.

Pada tahun ini, Festival Lampion Waisak Borobudur telah diselenggarakan pada 31 Mei 2026 sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2569 BE. Acara tersebut kembali menarik ribuan peserta dan wisatawan yang ingin menyaksikan momen pelepasan lampion dengan latar kemegahan Candi Borobudur. Tak hanya menjadi agenda keagamaan, festival ini juga telah berkembang menjadi salah satu atraksi budaya yang paling ditunggu setiap tahunnya.

Selain festival lampion, terdapat pula Kirab dan Parade Budaya Waisak yang menampilkan prosesi umat Buddha, pertunjukan seni budaya, serta iring-iringan yang berlangsung dengan khidmat. Pengunjung juga dapat menyaksikan ritual San Bu Yi Bai (三步一拜), yakni tradisi berjalan tiga langkah sambil melafalkan parita suci, kemudian melakukan satu kali sujud atau namaskara sebagai bentuk penghormatan dan latihan spiritual.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat kemegahan bangunan candi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami tradisi, nilai spiritual, dan kekayaan budaya yang masih hidup hingga saat ini. Hal inilah yang membuat pengalaman berkunjung ke Borobudur terasa lebih berkesan dan bermakna.

7. Piknik di kawasan cagar budaya

Konsep wisata santai juga mulai dihadirkan di kawasan candi. Salah satunya melalui program Boko Piknik yang digelar di kawasan Candi Ratu Boko setiap hari pukul 15.00 WIB. Harga per orangnya dibanderol Rp150 ribu (minimal pemesanan dua orang), sudah termasuk tiket masuk, meal basket, buah-buahan, snack jar, minuman lokal, dan picnic kit.

Kegiatan ini menawarkan pengalaman menikmati suasana sore, hamparan rumput hijau, dan pemandangan alam yang luas dalam atmosfer yang lebih santai. Tentu saja aktivitas piknik dilakukan dengan tetap mematuhi aturan pengelola dan menjaga kebersihan kawasan cagar budaya.

8. Berburu foto estetik di instalasi seni kontemporer

Tidak dapat dimungkiri, media sosial turut mendorong meningkatnya minat generasi muda untuk mengunjungi candi. Banyak wisatawan datang untuk berburu foto dengan latar arsitektur kuno yang megah dan estetik.

Itulah mengapa, kini kawasan candi juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang pamer bagi karya seni kontemporer. Salah satu contohnya instalasi Sunflower Angel karya content creator Arrofi Ramadhan yang hadir di kawasan Candi Prambanan sampai tanggal 14 Juni 2026. Karya ini terinspirasi dari perjalanan cinta, harapan, serta proses manusia untuk terus bertumbuh dalam setiap fase kehidupan.

Hadirnya instalasi seni di kawasan candi menunjukkan bahwa situs warisan budaya juga dapat menjadi ruang kreatif yang mempertemukan sejarah, seni, dan ekspresi masa kini. Dengan latar arsitektur candi yang megah, karya-karya seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung sekaligus membuka cara baru untuk menikmati kawasan cagar budaya.

Perkembangan berbagai program dan aktivitas di kawasan candi membuktikan wisata sejarah tidak harus selalu terasa kaku atau membosankan. Kini, candi dapat dinikmati melalui beragam cara yang lebih dekat dengan gaya hidup masa kini, mulai dari olahraga, pertunjukan seni, festival musik, hingga pengalaman budaya dan spiritual yang berkesan.

Namun, di balik semua keseruan tersebut, penting untuk selalu mengingat bahwa candi adalah warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, pengetahuan, dan identitas bangsa. Pengunjung tetap wajib mematuhi aturan yang berlaku, tidak memanjat bangunan candi, tidak menyentuh relief sembarangan, menjaga kebersihan, serta menghormati nilai sejarah dan budaya yang melekat pada situs warisan tersebut.

Editorial Team

Related Article