ilustrasi Desa Dongpirang (commons.wikimedia.org/ Caspian blue)
Dongpirang memang lebih dikenal sebagai desa mural dibandingkan dengan situs sejarah formal. Namun, kawasan ini menarik untuk dimasukkan dalam perjalanan sejarah Tongyeong karena berada di bukit yang menghadap Gangguan Port dan kawasan pelabuhan lama. Nama Dongpirang sendiri berasal dari kata dalam dialek Tongyeong yang berarti bukit di sebelah timur.
Desa ini mulai berubah setelah proyek mural pada 2007 menghidupkan kembali kawasan permukiman di lereng bukit. Sekarang, gang-gang sempitnya dipenuhi mural dan titik pandang ke laut. Dari sini, wisatawan bisa melihat hubungan antara permukiman di bukit, pelabuhan, dan kehidupan pesisir yang menjadi bagian penting dari karakter Tongyeong.
Tongyeong punya cara yang menarik untuk mengenalkan sejarahnya karena banyak peninggalannya masih berada di tengah kehidupan kota dan kawasan pesisir. Perjalanan ke sini pun tidak harus terasa seperti kunjungan ke museum yang penuh informasi sejarah.
Buat yang suka wisata dengan cerita di balik setiap tempat, Tongyeong bisa menjadi pilihan yang cukup berbeda dari destinasi Korea yang biasanya lebih identik dengan Seoul, Busan, atau Jeju. Di kota ini, laut bukan sekadar pemandangan, tetapi bagian penting dari cerita panjang yang membentuk Tongyeong hingga kini.