City Walk Menyusuri Jejak Toleransi di Pusat Kota Solo

Sadarkah kamu ada hal unik di awal tahun 2026? Perayaan Imlek, Prapaskah, dan mulai bulan Ramadan jatuh pada tanggal yang berdekatan. Keberagaman dan toleransi yang dibalut dalam kerukunan di Nusantara akan semakin terasa.
Kali ini penulis berkesempatan untuk city walk di pusat kota Solo, tepatnya sekitar Balai Kota Surakarta. Hanya dalam radius kurang dari 500 meter, akan tampak kelenteng, gereja, dan masjid. Ditambah lagi beberapa bangunan bersejarah dengan arsitektur yang memadukan ciri khas Eropa, Jawa, dan Tionghoa.
Mau tahu ada apa saja di sana? Yuk ikuti cerita perjalanan city walk menyusuri jejak toleransi di pusat kota Solo berikut!
1. Pasar Gede Hardjonagoro

Perjalanan dimulai saat pagi menjelang siang, langit sedikit berawan. Langkah kaki menyusuri kawasan pusat kota Solo terasa lebih ringan karena tidak harus melawan teriknya matahari. Tujuan pertama adalah Pasar Gede Hardjonagoro yang berjarak sekitar 250 meter dari Balai Kota Surakarta.
Pasar Gede berdiri di kawasan Pecinan Sudiroprajan, pecinan tertua dan terbesar di Solo. Bangunan tersebut dirancang oleh insinyur asal Belanda, Thomas Karsten. Meski tampak seperti pasar tradisional biasa, tetapi keberadaannya penting dalam roda perekonomian dan salah satu simbol toleransi masyarakat setempat.
Sebenarnya, pasar itu terdiri dari dua bangunan dengan masing-masing dua lantai. Bangunan utamanya menghadap Kali Pepe dan berseberangan langsung dengan Kelenteng Tien Kok Sie. Pantas saja kalau menjadi pusat Festival Lampion maupun agenda perayaan Imlek lainnya.
Di sisi lain, arsitekturnya menunjukkan perpaduan gaya Eropa, Jawa, Tionghoa, dan Arab. Walaupun terkenal dengan kulinernya, kamu dapat dengan mudah menjumpai pernak-pernik Imlek maupun sekadar mainan seperti miniatur barongsai. Pedagangnya pun tidak hanya dari etnis Tionghoa, berbagai suku turut membuka lapak di sini.
2. Kelenteng Tien Kok Sie

Setelah puas mengeksplorasi Pasar Gede, cukup keluar lewat pun sisi selatan untuk lebih dekat dengan Kelenteng Tien Kok Sie. Kelenteng mungil ini usianya jauh lebih tua, didirikan pada 1745, sedangkan Pasar Gede baru diresmikan pada 1930. Warna merah menyala kontras dengan bangunan yang berada di sekitarnya.
Salah satu kelenteng tertua di Indonesia itu punya beberapa altar di dalamnya. Pada bagian tengahn terdapat altar Kwan Sing Tee Kun. Masih ada dua altar lainnya, yaitu Co Su Kong dan Fuk Lu Sho atau Dewa Keberuntungan. Tidak ketinggalan altar Dewi Laut, Thian Siang Sing Bo.
Keberadaan altar Thian Siang Sing Bo cukup unik, sebab Solo tidak berada di tepi laut. Alasannya, pada bagian belakang kelenteng tersebut sempat melintang gerbang utama menuju Bengawan Solo. Gerbang itu menjadi penghubung antara Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-18 hingga ke-19.
Layaknya bagian Lantai 2 Pasar Gede, kelenteng ini juga mengandalkan penerangan alami dari cahaya matahari pada beberapa bagiannya. Ruang tengah menjadi tempat lilin-lilin dinyalakan. Suasananya akan terasa lebih khusyuk saat menjelang Imlek.
3. Masjid Baitul Hikmah

Ketika menjelang tengah hari, penulis melanjutkan perjalanan menuju arah Balai Kota Surakarta. Lalu lintas seolah tidak pernah sepi, tapi cukup ramah untuk pejalan kaki. Pedestrian yang lebar di samping Jembatan Kali Pepe dan sisi utara balai kota relatif sepi.
Sambil menunggu waktu Zuhur, sempat berhenti sejenak sambil menyaksikan lampion yang menghiasi sepanjang jembatan. Beberapa menit setelah azan berkumandang dan sebelum iqamat, terdengar suara Lonceng Angelus. Suara tersebut berasal dari gereja Katolik yang tepat berada di samping area balai kota.
Baik azan maupun Lonceng Angelus punya tujuan yang sama, yaitu sebagai pengingat untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan berdoa. Toleransi tidak hanya dapat dilihat dari lokasi bangunan yang berdekatan, tetapi juga kebiasaan dalam beribadah. Hal ini dapat ditemukan tanpa menunggu hari penting satu sama lain.
Penulis kembali melangkahkan kaki untuk masuk area Balai Kota Surakarta. Balai kota itu terbuka, tanpa dinding pembatas tinggi. Tentu sebuah keuntungan bagi orang awam dan masyarakat umum yang dapat mengaksesnya tanpa sungkan.
Sebuah bangunan dengan atap tumpang bertingkat khas arsitektur Jawa, lengkap bersama menara yang berdiri selaras di sisi selatan area balai kota. Serambi terbuka membuatnya tampak luas dan nyaman. Masjid Baitul Hikmah sengaja di bangun bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyeimbangkan Pendapi Gede yang berdiri megah di dekatnya.
4. Gereja Katolik Santo Antonius

Perjalanan belum berakhir, sambil menikmati suasana kota dengan santai. Meski lalu lintas tetap padat, tapi tanpa kemacetan dan suara klakson. Pusat kota yang lebih ramah dan tidak menyesakkan untuk jalan kaki.
Hanya bergeser sedikit dari area balai kota, terdapat Gereja Katolik Santo Antonius yang berdiri megah. Dua bangunan dalam satu komplek tersebut cukup mudah dikenali dengan warna putih nyaris seluruhnya. Kontras dengan deretan ruko yang berhadapan terpisah jalan.
Gereja Santo Antonius didirikan pada 1905, menjadikannya gereja Katolik pertama di Solo. Kini dikelilingi beberapa institusi pendidikan di bawah yayasan Katolik. Perannya tidak hanya sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga untuk pendidikan dan sosial.
5. Bonus kemeriahan dalam keberagaman saat malam hari

Langit semakin gelap, karena mendung dan hari semakin sore. Penulis sengaja bersantai sejenak di salah satu gerai minuman dekat area balai kota. Hujan lebat sempat mengguyur pusat kota Solo dan membuatnya lebih segar.
Ketika menjelang Maghrib, beberapa lampion bertema Ramadan mulai dipasang di median jalan. Letaknya berdampingan dengan lampion bertema Imlek. Geliat ramai mulai terasa di Bazar UMKM halaman balai kota hingga lapak pedagang kaki lima di sepanjang Jembatan Kali Pepe. Suasana lebih hidup, berganti dengan wisata kuliner dengan hidangan berbeda dari siang tadi.
Saat matahari terbenam dan langit benar-benar gelap, cahaya lampion mulai menghiasi kawasan tersebut. Semakin malam akan semakin ramai dan berpotensi macet di dekat Pasar Gede. Masyarakat bisa bebas wisata kuliner, berswafoto, maupun sekadar menikmati suasana malam di pusat kota Solo.
Lonceng Angelus akan kembali terdengar pada pukul 18.00 hanya selang beberapa menit sebelum azan Maghrib. Kelenteng di dekat pasar pun akan lebih ramai saat menjelang Imlek. Toleransi dan kerukunan antar umat beragama semakin terasa, bukan?
Sebelum puncak keramaian dan macet, penulis mengakhiri perjalanan kali ini. City walk di pusat kota Solo dapat memberikan perspektif baru dalam menerjemahkan harmoni dan toleransi. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya!
















