5 Etika Naik Transportasi Umum di Jepang, Jangan Sampai Salah

- Jaga suara tetap pelan selama di kereta dan bus
- Dahulukan penumpang turun sebelum masuk
- Simpan tas dengan benar agar tidak mengganggu
Naik transportasi umum di Jepang sering jadi pengalaman pertama yang bikin wisatawan kagum sekaligus canggung. Kereta dan busnya tak hanya tepat waktu, bersih, dan teratur, tapi juga punya aturan tak tertulis yang dijunjung tinggi. Kalau kamu berencana liburan ke Jepang, memahami etika ini bisa bikin perjalanan terasa lebih nyaman.
Banyak kebiasaan yang dianggap wajar di Indonesia ternyata kurang pantas dilakukan di transportasi umum Jepang. Hal-hal kecil seperti cara berbicara, berdiri, hingga menyimpan barang bisa jadi perhatian penumpang lain. Supaya kamu tidak salah, yuk, pahami lima etika penting berikut ini.
1. Jaga suara tetap pelan selama di kereta dan bus

Transportasi umum di Jepang dikenal dengan suasananya yang tenang. Penumpang biasanya berbicara dengan suara pelan atau bahkan memilih diam selama perjalanan. Kondisi ini membuat banyak orang bisa beristirahat atau fokus dengan aktivitas masing-masing.
Berbicara terlalu keras, tertawa berlebihan, atau menerima telepon dengan suara nyaring dianggap kurang sopan. Jika memang harus menelepon, sebaiknya menunggu hingga turun atau menjawab dengan suara sangat pelan. Dengan menjaga volume suara, kamu sudah menghormati kenyamanan penumpang lain.
2. Dahulukan penumpang turun sebelum masuk

Saat pintu kereta atau bus terbuka, penumpang di Jepang terbiasa memberi jalan bagi orang yang akan turun. Mereka akan berdiri rapi di sisi pintu dan masuk setelah area kosong. Kebiasaan ini membuat arus penumpang tetap tertib dan efisien.
Masuk dengan tergesa-gesa atau menyerobot dianggap tidak sopan dan bisa mengganggu. Meski sedang terburu-buru, mengikuti alur ini menunjukkan bahwa kamu menghargai aturan bersama. Etika sederhana ini juga membuat perjalanan terasa lebih tertib dan nyaman.
3. Simpan tas dengan benar agar tidak mengganggu

Membawa tas besar di transportasi umum Jepang perlu perhatian ekstra. Penumpang biasanya memindahkan ransel ke depan tubuh atau meletakkannya di rak atas. Tujuannya agar tidak menyenggol orang lain, terutama saat kereta sedang padat.
Meletakkan tas di punggung saat jam sibuk bisa dianggap kurang peka. Selain berisiko mengganggu, tas besar juga bisa memakan ruang penumpang lain. Dengan menyimpan tas dengan benar, kamu membantu menjaga ruang bersama tetap nyaman.
4. Hindari makan dan minum di dalam kendaraan

Berbeda dengan kebiasaan di beberapa negara, makan di transportasi umum Jepang umumnya dihindari. Bau makanan bisa mengganggu penumpang lain, apalagi di ruang tertutup seperti kereta. Oleh karena itu, kebanyakan orang memilih makan sebelum atau sesudah perjalanan.
Minum air mineral biasanya masih ditoleransi, tapi tetap dilakukan dengan sopan. Makan camilan, apalagi yang beraroma kuat, sebaiknya dihindari. Menghormati aturan ini menunjukkan kepedulianmu pada kenyamanan bersama.
5. Prioritaskan kursi khusus untuk yang membutuhkan

Di setiap kereta dan bus Jepang, tersedia kursi prioritas untuk lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang dengan kondisi khusus. Meski kursi tersebut kosong, penumpang lain biasanya tetap waspada dan siap memberikan tempat. Sikap ini sudah menjadi bagian dari budaya saling menghormati.
Jika kamu duduk di kursi tersebut dan melihat orang yang membutuhkan, segera berikan tempat. Bahkan tanpa diminta, tindakan ini sangat dihargai. Etika kecil seperti ini bisa meninggalkan kesan baik sebagai wisatawan.
Memahami etika naik transportasi umum di Jepang bukan hanya menyangkut aturan, tapi juga tentang empati. Dengan bersikap lebih peka dan menghormati kebiasaan setempat, perjalananmu akan terasa lebih menyenangkan dan berkesan sejak langkah pertama keluar stasiun.


















