4 Kesalahan Koordinasi saat Mendaki Gunung Secara Tim

- Tidak menentukan pemimpin dan pembagian peran
- Mengabaikan perbedaan kondisi fisik anggota
- Kurang komunikasi saat mengambil keputusan
Mendaki gunung secara berkelompok memang memerlukan koordinasi yang matang agar proses pendakian berjalan dengan aman dan efisien. Tanpa adanya komunikasi dan pembagian peran, maka konflik internal pun bisa meningkat secara signifikan dan mengganggu aktivitas pendakian yang dilakukan.
Tim yang solid bukan hanya terkait pada kebersamaan, melainkan juga tentang kemampuan untuk menyelaraskan ritme pengambilan keputusan dan tanggung jawab di lapangan. Simaklah beberapa kesalahan koordinasi berikut ini yang ternyata sering terjadi pada saat mendaki gunung secara tim agar bisa dicegah lebih awal.
1. Tidak menentukan pemimpin dan pembagian peran

Kesalahan umum dalam pendakian tim adalah tidak menunjuk pemimpin yang bertugas dalam pengambilan keputusan ketika terjadi perubahan kondisi secara mendadak. Tanpa sosok yang bertanggung jawab dalam mengkoordinasi arah dan tempo pendakian, maka diskusi bisa beralur larut dan menghambat pergerakan tim.
Pembagian peran seperti navigator, penjaga logistik, hingga sweeper kerap kali diabaikan, sehingga tanggung jawab menjadi tidak jelas. Kondisi ini bisa menimbulkan kebingungan pada saat menghadapi situasi darurat karena memang tidak ada yang secara spesifik mengetahui tugasnya.
2. Mengabaikan perbedaan kondisi fisik anggota

Setiap anggota tim pasti memiliki kemampuan fisik dan daya tahan yang berbeda-beda, namun kerap kali terjadi kesalahan pada saat tim memaksakan ritme yang sama untuk semua anggota. Keputusan untuk pejalan terlalu cepat tanpa mempertimbangkan anggota lain jelas bisa menimbulkan kelelahan berlebih dan meningkatkan risiko cedera.
Kurangnya komunikasi terkait kondisi fisik juga akan membuat anggota yang merasa tidak enak badan cenderung memendam keluhan untuk menjaga kekompakan. Keterbukaan terkait kondisi tubuh tentu merupakan bagian penting agar tim bisa menyesuaikan tempo dan juga mencegah situasi yang lebih berbahaya di depan sana.
3. Kurang komunikasi saat mengambil keputusan

Dalam proses pendakian, perubahan cuaca atau kondisi jalur bisa memaksa tim untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Kesalahan koordinasi muncul pada saat keputusan diambil sepihak tanpa melalui diskusi singkat yang melibatkan seluruh anggota, sehingga bisa menimbulkan rasa tidak puas dan kebingungan.
Komunikasi yang tidak jelas bisa menyebabkan kesalahpahaman terkait titik istirahat, lokasi pertemuan, hingga waktu keberangkatan. Akibat dari hal ini akan membuat anggota tim bisa saja terpencar dan meningkatkan risiko keselamatan, terutama pada saat harus melewati jalur yang minim penanda.
4. Tidak menyepakati aturan dan rencana sejak awal

Sebelum pendakian dimulai, tim semestinya dapat menyepakati aturan dasar terkait batas waktu berjalan prosedur apabila terjadi keadaan darurat hingga waktu istirahat. Tanpa kesepakatan sejak awal, maka setiap anggota bisa saja memiliki ekspektasi yang berbeda-beda dan memicu konflik di tengah perjalanan.
Rencana cadangan juga kerap diabaikan karena terlalu fokus pada target puncak, padahal kondisi alam tidak selalu bisa diprediksi. Ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan dapat membuat tim jadi mudah panik dan mengambil keputusan yang dianggap kurang rasional.
Koordinasi yang baik merupakan kunci penting untuk memastikan keberhasilan dan keselamatan dalam pendakian tim. Dengan menentukan beberapa hal di atas, maka pendakian bisa berlangsung dengan lebih aman dan terarah. Risiko konflik dan kesalahan yang diambil bisa diminimalisir dengan cara-cara yang tepat.


















