Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pendaki Gunung Wajib Tahu, Ini 4 Perbedaan Kabut Alami dan Asap Karhutla

Pendaki Gunung Wajib Tahu, Ini 4 Perbedaan Kabut Alami dan Asap Karhutla
ilustrasi kabut alami (pexels.com/eberhard grossgasteiger)
  • Asap karhutla berbau gosong dan menyengat hingga dapat membuat tenggorokan sakit, sedangkan kabut alami tidak beraroma karena terbentuk dari uap air yang mengembun.
  • Kabut alami terasa lembap, dingin, dan basah di kulit. Sebaliknya, asap karhutla membawa kondisi gerah, gersang, kering, serta membuat kulit tidak nyaman akibat polutan.
  • Asap karhutla cenderung pekat berwarna kelabu, kekuningan, atau jingga dan bertahan hingga siang. Kondisi udara dapat diperiksa lewat aplikasi kualitas udara seperti IQAir AirVisual.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Akhir-akhir ini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah melahap banyak wilayah di Indonesia. Hal ini jelas merupakan kondisi yang sangat mengkhawatirkan, khususnya untuk kamu yang suka traveling ke alam, salah satunya mendaki gunung. Dampak dari asap karhutla sangat memengaruhi proses hiking para pendaki untuk mencapai puncak.

Selain itu, asap karhutla ini bisa sekali kamu anggap sebagai kabut alami jika dilihat dari jarak cukup jauh. Tapi, sebenarnya keduanya jelas berbeda jika diperhatikan dengan teliti. Nah, kali ini akan dibahas empat cara membedakan antara kabut alami dan asap karhutla agar kamu tidak terkecoh. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.

  1. 1. Asap karhutla memiliki aroma menyengat yang tidak sedap

    ilustrasi asap karhutla
    ilustrasi asap karhutla (pexels.com/K)

    Perbedaan paling mendasar dari asap karhutla dan kabut alami adalah dari aroma dan bau. Asap karhutla sendiri tercipta dari pohon-pohon dan tumbuhan lain yang terbakar di hutan dan lahan, lalu terdorong angin dan cuaca yang menyebar luas. Asapnya ini menciptakan bau gosong, sangit, dan membuat sakit tenggorokan.

    Bagaimana dengan kabut alami? Justru itu tidak membawa aroma bau sama sekali. Ya, kabut yang bisa kamu lihat di daerah pegunungan atau desa itu sama sekali tidak memiliki dampak apa-apa karena pada dasarnya kabut hanyalah uap air yang mengembun menjadi titik air yang halus.

  2. 2. Kabut alami memiliki sensasi lembap dan dingin saat terkena kulit

    ilustrasi kabut alami
    ilustrasi kabut alami (pexels.com/Amal A S)

    Selain dari bau, kamu juga bisa merasakannya melalui suhu udara yang menyentuh kulit. Kabut alami sendiri memiliki sensasi yang cukup sering dirasakan, kulit kamu akan merasakan lembap, dingin, dan basah yang sangat sejuk. Hal ini disebabkan karena kabut tercipta dari suhu udara yang dingin dan kelembapan super tinggi.

    Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan asap karhutla. Udara dari asap karhutla justru akan membuat kulit kamu berkeringat karena membawa rasa gerah, gersang, dan kering. Alih-alih kamu berasumsi itu adalah kabut sejuk di pegunungan, kulit kamu justru akan kering dan mulai merasa tidak nyaman karena paparan polutan.

  3. 3. Asap karhutla memiliki warna yang lebih gelap dan sangat tebal

    ilustrasi asap karhutla
    ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

    Nah, di poin ini juga bisa membuat kamu membedakan antara asap karhutla dan kabut alami dari ketebalan dan warnanya. Asap karhutla sendiri memiliki warna yang cenderung kelabu, kekuningan, hingga merah jingga yang sangat pekat. Sifat dari asapnya ini juga sulit sekali hilang meskipun sudah menjelang siang hari.

    Berbeda dengan asap karhutla, kabut alami umumnya berwarna putih dan semi transparan. Mudahnya, kabut alami ini relatif cepat sekali pudar ketika waktu terus bergulir menuju siang hari. Meskipun pada kenyataannya memang kabut alami memiliki tingkat ketebalan yang berbeda dan tak jarang juga terjadi fenomena kabut tebal yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menghilang secara alami.

  4. 4. Bisa juga diperiksa langsung melalui aplikasi digital

    ilustrasi kabut alami
    ilustrasi kabut alami (pexels.com/eberhard grossgasteiger)

    Jika kamu merasa sulit untuk membedakan atau ragu, aplikasi digital adalah solusi paling mudah untuk mengetahui kualitas udara yang ada di sekitar kamu. Saat kamu traveling ke alam dan ingin mengeceknya, kamu bisa membuka aplikasi seperti IQAir AirVisual Air Quality. Di aplikasi ini kamu bisa mendapatkan informasi secara akurat mengenai kondisi udara di titik tepat kamu berada.

    Tak hanya itu, aplikasi digital tersebut juga akan memberikan kode warna udara. Jika indeks udara menunjukkan warna hijau atau kuning dengan status baik, itu adalah tanda bahwa kamu sedang dikelilingi oleh kabut yang tidak membawa penyakit. Bagaimana jika kode tersebut menunjukkan warna oranye, merah, hingga ungu? Justru sebaliknya, kemungkinan kamu sedang menghirup udara kotor yang berbahaya, salah satunya adalah asap karhutla.

    Itu dia empat cara membedakan antara kabut alami dan asap karhutla. Gimana, jadi sudah tahu, kan? Di tengah kondisi alam yang cukup buruk, kamu sebagai traveler harus tetap menjaga kondisi tubuh untuk tetap aman dan sehat, salah satunya adalah mengecek kondisi udara di lingkungan destinasi alam yang sedang dikunjungi. Semoga ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan baru untuk banyak orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More