Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Tips Mendaki Gunung Rinjani Saat Cuaca Dingin, Bebas Hipotermia!

7 Tips Mendaki Gunung Rinjani Saat Cuaca Dingin, Bebas Hipotermia!
gambar seorang pendaki pria memakai pakaian tebal (unsplash.com/Jan Kopřiva)
Intinya Sih
  • Musim panas jadi waktu favorit mendaki Gunung Rinjani karena cuaca cerah, namun suhu malam bisa turun drastis hingga 5–10 derajat Celcius yang berisiko menyebabkan hipotermia.
  • Pendaki disarankan memakai pakaian berlapis, menjaga tubuh tetap kering, mengonsumsi makanan tinggi kalori, serta membawa perlengkapan darurat seperti thermal blanket dan obat-obatan dasar.
  • Mengenali gejala awal hipotermia penting agar bisa segera ditangani dengan berpindah ke tempat hangat, mengganti pakaian kering, memberi minuman hangat, dan menggunakan selimut atau sleeping bag.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menjelang musim panas, banyak orang mulai merencanakan pendakian ke berbagai gunung. Nyatanya musim panas sendiri memang jadi waktu paling tepat untuk mendaki. Langit cerah hampir sepanjang hari, dan jalur yang jelas tanpa tertutup kabut membuat perjalanan menuju puncak jadi sedikit lebih nyaman untuk dilakukan. Situasi yang sama juga berlaku untuk pendakian ke salah satu gunung favorit pendaki se-Indonesia yakni, Gunung Rinjani.

Selama musim panas, jalur pendakian ke gunung tertinggi kedua di Indonesia ini jadi lebih ramai dari biasanya. Namun meski cuaca di siang hari cerah, suhu malam di jalur pendakian Gunung Rinjani bisa jadi sangat dingin, terutama saat memasuki bulan awal musim panas seperti sekarang. Biar gak kena hipotermia, berikut beberapa tips mendaki Gunung Rinjani saat cuaca dingin yang bisa kamu terapkan selama pendakian!

1. Gunakan pakaian berlapis

Seorang pendaki perempuan kedinginan
gambar seorang pendaki perempuan kedinginan (unsplash.com/Liza Pooor)

Di siang hari, cuaca panas di jalur pendakian membuat kita merasa lebih nyaman untuk berpakaian sesimpel mungkin. Namun ketika matahari sudah terbenam, suhu di gunung akan drop hingga angka 5-10 derajat Celcius. Belum lagi angin kencang yang gak berhenti berhembus, membuat tubuh menggigil kedinginan.

Untuk menjaga diri agar tetap hangat, kamu wajib menggunakan baju berlapis. Lapisan pertama, kamu bisa menggunakan kaus yang mudah menyerap keringat. Diikuti dengan jaket berbahan wol yang hangat, dan terakhir jaket gunung yang tahan air dan angin. Lengkapi pakaian dengan syal, sarung tangan, dan topi untuk menjaga agar bagian tubuh yang tidak menggunakan jaket tetap hangat.

2. Jaga tubuh tetap kering

Dua pendaki berdiri di atas tebing dengan jaket gunung
gambar dua pendaki berdiri di atas tebing dengan jaket gunung (unsplash.com/Nina Luong)

Namanya cuaca di gunung, sulit untuk ditebak. Cuaca yang tadinya cerah bisa berubah jadi hujan bahkan badai dalam sekejap. Saking cepatnya perubahan cuaca, banyak pendaki gak sempat untuk mendirikan tenda berlindung dan harus rela bajunya basah kuyup karena hujan.

Jika sudah begini, segera bangun tenda untuk berlindung dan ganti pakaian dengan yang kering. Seperti yang kita ketahui, hipotermia terjadi ketika panas tubuh perlahan menghilang karena gak sanggup mengatasi suhu dingin yang ekstrim. Baju yang basah atau lembap dapat mempercepat hilangnya panas tubuh. Selain pakaian, pastikan juga sleeping bag yang kamu gunakan juga dalam keadaan kering, ya!

3. Lakukan gerakan sederhana untuk menghangatkan tubuh

Seorang pendaki berjalan menuruni bukit
gambar seorang pendaki berjalan menuruni bukit (unsplash.com/NEOM)

Berjalan selama berjam-jam untuk sampai di pos pendakian memang melelahkan, terutama jika jalur yang kita lewati menanjak atau bahkan curam. Biasanya, semakin tinggi gunung yang didaki, semakin curam dan jauh juga jarak antarpos yang harus kita taklukkan.

Namun, setelah sampai di pos, hindari duduk diam terlalu lama. Sebaliknya, setelah cukup beristirahat, lakukan gerakan ringan seperti menggoyangkan tangan dan kaki, atau bisa juga berjalan-jalan di sekitar sambil melihat pemandangan sekitar. Bergeraknya tubuh akan meningkatkan sirkulasi darah dan membuat tubuh jadi lebih hangat. 

4. Perhatikan asupan makanan dan minuman selama pendakian

Dua cangkir teh di atas api unggun
gambar dua cangkir teh di atas api unggun (unsplash.com/Dekler Ph)

Kamu yang pernah mendaki pasti tahu betapa banyaknya persediaan makanan dan minuman yang dibutuhkan selama kegiatan ini berlangsung. Makanan dan minuman memang menjadi hal yang wajib dibawa. Tujuannya bukan hanya menjaga agar perut tetap kenyang, tetapi juga memastikan bahwa tubuh memiliki cukup bahan bakar untuk mempertahankan panas tubuh. Untuk pendakian sendiri, makanan pokok seperti nasi dan aneka lauk aja gak cukup.

Selain membawa makanan pokok, membawa camilan sehat seperti kacang-kacangan, coklat, dan keju juga penting. Ini karena makanan seperti ini memiliki kalori tinggi dan dapat memberikan energi ekstra. Jangan lupa juga untuk selalu membawa termos air panas portabel agar kamu bisa membuat minuman hangat kapan pun dibutuhkan.

5. Bawa perlengkapan darurat 

Seorang perempuan memakai emergency blanket
gambar seorang perempuan memakai emergency blanket (unsplash.com/Alexandros Giannakakis)

Saat naik gunung, membawa makanan, minuman, perlengkapan pribadi, dan tenda aja gak cukup. Kamu juga perlu membawa peralatan lain untuk menghadapi situasi darurat, termasuk juga hipotermia. Selimut darurat dan thermal blanket jadi dua barang yang harus kamu bawa di dalam tas. Meski bobotnya ringan, thermal blanket dan selimut darurat mampu memantulkan panas tubuh dan menjaga suhu tubuh tetap stabil bahkan di suhu dingin yang ekstrim.

Selain itu, jangan lupa untuk membawa obat-obatan dasar, plus obat untuk mengatasi berbagai gejala hipotermia. Beberapa peralatan lain yang gak boleh dilupakan adalah korek api tahan air, peluit, senter, dan lampu kepala yang akan sangat berguna ketika hari gelap atau ketika tersesat. Letakkan semua obat dan peralatan ini di bagian atas ransel sehingga mudah untuk dijangkau saat dibutuhkan.

6. Nyalakan api unggun untuk menjaga tubuh tetap hangat

Api unggun dipinggir danau
gambar api unggun dipinggir danau (unsplash.com/Vadim Savoski)

Di gunung, keberadaan api unggun sangat berguna terutama ketika malam tiba. Selain sebagai sarana penerangan, dan memasak, keberadaan api juga ampuh banget dalam menghalau hewan liar di sekitar lokasi perkemahan. Terpenting, api unggu sangat berguna untuk menghangatkan tubuh, termasuk bagi mereka yang terkena hipotermia. Meski begitu, pastikan pendaki yang terkena hipotermia tetap berada dalam jarak yang aman dengan api dan sumber panas lainnya. Pasalnya berada terlalu dekat dengan api atau sumber panas lain dapat menyebabkan penderita hipotermia mengalami overheating yang dapat merusak kulit. 

7. Kenali gejala hipotermia

Seorang pendaki memakai sweater dan topi tebal
gambar seorang pendaki memakai sweater dan topi tebal (unsplash.com/engin akyurt)

Untuk menolong penderita hipotermia, kita harus lebih dulu mengenali gejala awalnya. Sayangnya banyak orang yang abai, dan baru sadar setelah gejalanya parah. Padahal gejala awal hipotermia cukup mudah dikenali, lho! Gejalanya meliputi tubuh menggigil, napas tersendat dan melambat, sulit bicara, bibir kebiruan, kulit pucat, hingga tubuh yang kaku dan sulit digerakkan.

Dalam kasus yang parah, hipotermia bisa menyebabkan denyut nadi melemah, mengantuk, tubuh sulit menghangatkan diri, hingga penurunan kesadaran. Jika kamu atau rekan mulai merasakan sejumlah gejala awal hipotermia, segera berpindah ke tempat yang hangat, kering, dan nyaman. Jika pakaian yang digunakan basah, segera ganti dengan pakaian kering dan berlapis.

Gunakan juga selimut, sleeping bag, hingga thermal atau emergency blanket. Beri minuman hangat dan letakkan penderita di dekat sumber panas seperti api unggun. Untuk hipotermia berat, sebaiknya hindari memijat atau menggosok badan penderita karena dapat berisiko gangguan jantung. Segera periksa pernapasan dan lakukan CPR jika penderita gak sadarkan diri.

Terkena hipotermia di gunung memang jadi mimpi buruk bagi semua pendaki. Untuk meminimalisir risiko ini, pastikan kamu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Termasuk membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan selama pendakian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More