Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Gunung Broad Peak Sangat Sulit Didaki?

Mengapa Gunung Broad Peak Sangat Sulit Didaki?
Potret Broad Peak di Pakistan (unsplash.com/danborn)
Intinya Sih
  • Longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, pada 30 Juli 2026 menewaskan 10 pendaki, termasuk pendaki Nepal Nirmal Purja. Gunung setinggi 8.051 mdpl ini merupakan puncak tertinggi ke-12 dunia.
  • Pendaki menghadapi puncak palsu Rocky Summit sebelum menempuh punggungan es sempit dan curam menuju puncak utama, saat fisik melemah serta pasokan oksigen menipis.
  • Cuaca ekstrem, angin kencang, badai salju, jurang di sisi ridge, rockfall, dan avalanche membuat jalur Broad Peak sangat berbahaya, terutama antara base camp hingga camp 2.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunung Broad Peak mendadak jadi sorotan dunia dalam beberapa hari terakhir akibat longsoran salju yang menewaskan 10 orang pendaki, termasuk pendaki tersohor asal Nepal, Nirmal Purja alias Nimsdai. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Kamis (30/7/2026).

Broad Peak sendiri merupakan puncak setinggi 8.051 meter di atas permukaan laut (mdpl) sekaligus menjadi puncak tertinggi ke-12 di dunia. Lokasinya berada di jajaran Pegunungan Karakoram, Pakistan bagian utara.

Meski kerap masuk ke dalam bucket list pendaki, gunung ini juga sangat sulit didaki dan kerap menjadi "jebakan" yang mematikan. Ada serangkaian tantangan teknis dan alam yang siap menguji batas kemampuan fisik dan mental manusia.

Kira-kira apa alasan Gunung Broad Peak sangat sulit didaki? Simak penjelasannya di bawah ini, yuk!

1. Perangkap "puncak palsu" yang menyesatkan

Salah satu "ujian" pendaki di Broad Peak adalah keberadaan Rocky Summit di ketinggian 8.028 mdpl. Saat pendaki berjuang menembus benteng es dalam kondisi fisik yang sangat lelah dan pasokan oksigen yang kian menipis, titik ini terlihat sangat jelas dari bawah dan seakan terlihat sebagai puncak tertinggi Broad Peak.

Banyak pendaki yang sangat optimis akan segera merayakan keberhasilan saat mencapai titik berbatu ini. Padahal, perjalanan masih sangat jauh. Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai false summit atau puncak palsu.

Dari Rocky Summit menuju ke puncak utama, pendaki harus menyusuri punggungan es melayang (cornice ridge) yang sangat sempit dan curam selama 1-3 jam. Proses ini tidak hanya menuntut fisik yang prima, tetapi juga mental yang harus tetap terjaga.

2. Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi

Potret Broad Peak di Pakistan
Potret Broad Peak di Pakistan (commons.wikimedia.org/Sallahuddin Shah)

Cuaca di kawasan Broad Peak tidak bisa diprediksi dan sangat ekstrem. Angin kencang bisa menerjang kapan saja tanpa peringatan dan menyapu apa pun yang ada di jalur pendakiannya. Tanpa adanya dinding pelindung alami di sepanjang jalur menuju ke puncak, pendaki harus berhadapan langsung dengan terpaan angin yang mampu menurunkan suhu tubuh secara mendadak.

Selain itu, badai salju lokal juga bisa mendadak muncul. Hal ini menyebabkan pandangan jadi sangat terbatas dan memicu penurunan suhu drastis hingga mencapai minus 40 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan risiko serangan frostbite (radang dingin) parah dan hipotermia pada pendaki dalam hitungan menit.

3. Ridge trail yang sempit dan mematikan

Tidak seperti beberapa gunung tinggi lainnya yang memiliki area puncak cukup lapang, akses akhir menuju ke Broad Peak ini berupa jalan setapak es yang sangat berbahaya. Ridge trail atau punggungan menuju ke main summit mengapit dua jurang terjal dengan kedalaman ribuan meter di sisi kiri dan kanannya. Pendaki wajib memiliki kewaspadaan tinggi saat melangkah di atasnya.

Satu pijakan yang salah di tepi punggungan bisa berakibat fatal, yakni jatuh ke jurang. Keterbatasan ruang ini juga membuat proses bersimpangan antarpendaki yang naik dan turun menjadi sangat berisiko, terutama saat terjadi "kemacetan" di dekat puncak.

4. Kerap terjadi longsoran salju (avalanche)

Potret puncak Broad Peak Central (kiri depan) dengan latar belakang puncak tertinggi Gunung Broad Peak
Potret puncak Broad Peak Central (kiri depan) dengan latar belakang puncak tertinggi Gunung Broad Peak (commons.wikimedia.org/Rupert Pupkin)

Di balik kemegahan tebing-tebing esnya, Broad Peak memiliki kawasan gletser dan dinding es yang sangat aktif bergeser. Jalur pendakian dari basecamp menuju ke camp 1 dan camp 2 rentan terkena reruntuhan batu (rockfall) dan longsoran salju (avalanche).

Hal inilah yang menyebabkan kematian Nimsdai dan sembilan orang pendaki lainnya. Bongkahan es raksasa yang menggantung di atasnya juga dapat runtuh secara tiba-tiba.

Ancaman ini diperparah dengan perubahan suhu global yang membuat struktur es di Pegunungan Karakoram menjadi lebih tidak stabil dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Para pendaki harus bergerak secepat mungkin melintasi area bahaya ini. Tak sedikit yang memilih perjalanan tengah malam saat suhu masih cukup dingin untuk membekukan batuan dan bongkahan es agar tidak runtuh.

Itu dia beberapa alasan mengapa Gunung Broad Peak ini sangat sulit didaki. Perubahan cuaca tak terprediksi, angin kencang, runtuhan bebatuan, longsoran salju, hingga risiko kematian tinggi harus dihadapi semua pendaki yang hendak ke sana.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More