Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waktu Terbaik ke Arab Saudi selain Musim Haji dan Umrah

Waktu Terbaik ke Arab Saudi selain Musim Haji dan Umrah
ilustrasi wisata di Arab Saudi (unsplash.com/NEOM)
Intinya Sih
  • Musim dingin antara November–Februari jadi waktu paling nyaman untuk menjelajahi kota dan gurun Arab Saudi karena suhu sejuk, langit cerah, serta banyak festival musiman di ruang terbuka.
  • Bulan Maret–April menawarkan transisi cuaca ideal dengan suhu bersahabat dan wisatawan lebih sedikit, cocok untuk eksplorasi kota seperti Jeddah atau menikmati suasana pesisir tanpa keramaian.
  • Setelah musim haji, suasana kota lebih tenang dan harga akomodasi menurun, memberi kesempatan menikmati destinasi spiritual maupun budaya dengan pengalaman yang lebih santai dan efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Arab Saudi sering kali identik dengan perjalanan ibadah, padahal negara ini menyimpan banyak destinasi menarik yang bisa dinikmati di luar musim haji dan umrah, mulai dari kota modern hingga lanskap gurun yang dramatis. Waktu kunjungan sangat menentukan pengalaman karena faktor cuaca, kepadatan wisatawan, hingga harga akomodasi bisa berubah sepanjang tahun.

Memilih momen yang tepat bukan sekadar soal menghindari keramaian, tetapi juga tentang mendapatkan kondisi terbaik untuk menjelajahi kota seperti Riyadh, Jeddah, hingga Al-Ula dengan lebih nyaman dan efisien. Kalau ingin perjalanan terasa lebih santai sekaligus tetap hemat, sekarang saatnya mempertimbangkan waktu terbaik ke Arab Saudi selain musim haji dan umrah.

1. Musim dingin membuat cuaca lebih bersahabat

Al-Ula
Al-Ula (unsplash.com/Hatem Boukhit)

Periode musim dingin antara November—Februari menghadirkan suhu yang jauh lebih nyaman dibandingkan dengan bulan lainnya, dengan rata-rata suhu berkisar 15—25 derajat Celsius di banyak kota besar. Kondisi ini membuat aktivitas di luar ruangan, seperti berjalan kaki di kawasan heritage atau eksplorasi gurun, terasa lebih ringan tanpa risiko dehidrasi berlebihan. Kota seperti Riyadh menjadi lebih hidup karena banyak festival musiman digelar di ruang terbuka.

Selain itu, udara yang lebih sejuk juga membuat perjalanan ke wilayah gurun seperti Al-Ula terasa jauh lebih aman dan menyenangkan, terutama bagi yang ingin mencoba pengalaman camping atau safari. Langit yang cenderung cerah memberikan peluang besar untuk menikmati pemandangan malam yang spektakuler tanpa gangguan kabut panas. Banyak wisatawan memanfaatkan periode ini untuk mengunjungi situs sejarah tanpa harus terburu-buru karena panas ekstrem.

2. Bulan Maret—April menawarkan transisi cuaca ideal

Al-Balad
Al-Balad (commons.wikimedia.org/Anne and David)

Peralihan dari musim dingin ke musim panas di bulan Maret—April menciptakan kondisi cuaca yang masih nyaman, tetapi tidak terlalu dingin, sehingga cocok untuk eksplorasi kota sekaligus wisata alam. Suhu mulai meningkat secara bertahap, tetapi masih dalam batas yang bisa ditoleransi untuk aktivitas siang hari. Ini menjadi waktu yang pas untuk mengunjungi kawasan pesisir seperti Jeddah tanpa rasa gerah berlebihan.

Pada periode ini, kepadatan wisatawan juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan musim dingin puncak, sehingga harga hotel dan tiket pesawat cenderung lebih stabil. Aktivitas seperti menyusuri Corniche Jeddah atau menjelajahi distrik Al-Balad bisa dilakukan dengan lebih santai. Perpaduan antara cuaca dan suasana kota yang tidak terlalu ramai membuat pengalaman perjalanan terasa lebih fleksibel.

3. Setelah musim haji memberikan suasana lebih tenang

Madinah
Madinah (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)

Beberapa minggu setelah musim haji berakhir biasanya menjadi waktu yang jauh lebih lengang di kota-kota utama, seperti Mekkah dan Madinah. Arus wisatawan berkurang drastis sehingga akses ke berbagai fasilitas menjadi lebih mudah, mulai dari hotel hingga transportasi. Situasi ini sangat membantu bagi yang ingin menikmati perjalanan lebih santai tanpa keramaian ekstrem.

Selain itu, harga akomodasi cenderung turun setelah puncak musim ibadah, sehingga anggaran perjalanan dapat lebih efisien. Banyak hotel menawarkan promo menarik untuk menarik kembali wisatawan setelah periode padat. Ini juga menjadi kesempatan untuk merasakan sisi kota yang lebih tenang dan tidak terlalu terburu-buru.

4. Festival budaya menampilkan warisan lokal

Janadriyah National Festival
Janadriyah National Festival (commons.wikimedia.org/Abodi009)

Periode Janadriyah National Festival yang biasanya digelar di pinggiran Riyadh menawarkan pengalaman yang jauh berbeda karena fokus utamanya pada budaya tradisional, bukan hiburan modern seperti konser atau taman bermain. Lokasi festival berada di kawasan Janadriyah sekitar 30–40 menit dari pusat kota melalui King Khalid International Airport Road, dan di dalamnya terdapat paviliun dari berbagai provinsi yang menampilkan arsitektur khas, kerajinan tangan, hingga demonstrasi langsung, seperti pembuatan kopi Arab dan tenun tradisional. Pengunjung bisa berjalan kaki dari satu paviliun ke paviliun lain sambil mencicipi makanan lokal seperti jareesh dan mutabbaq yang dijual di area terbuka dengan konsep pasar rakyat.

Selain itu, festival ini juga menampilkan pertunjukan seni, seperti tarian Ardah yang biasanya digelar pada sore hingga malam hari di panggung utama, dengan jadwal yang sudah ditentukan, sehingga pengunjung bisa mengatur waktu kunjungan dengan lebih terarah. Area festival cukup luas, sehingga disarankan datang lebih awal dan menggunakan alas kaki yang nyaman, apalagi saat akhir pekan ketika jumlah pengunjung meningkat secara signifikan. Pengalaman di Janadriyah terasa lebih autentik karena memberikan gambaran langsung tentang kehidupan masyarakat Saudi dari berbagai daerah tanpa sentuhan komersialisasi berlebihan seperti festival modern.

5. Musim panas cocok untuk wisata dalam ruangan dan pesisir

Jeddah Corniche
Jeddah Corniche (commons.wikimedia.org/Tahir mq)

Musim panas memang terasa ekstrem, tetapi pilihan tempat yang tepat bisa membuat aktivitas tetap nyaman tanpa harus terpapar panas berlebihan sepanjang hari. Di Riyadh Park Mall yang berada di Prince Turki bin Abdulaziz Al Awwal Road, suasana dalam ruangan terasa sejuk karena pendingin udara terjaga stabil, sehingga kamu bisa berjalan santai sambil mengeksplor berbagai brand internasional, mencoba wahana hiburan di dalam mal, atau sekadar duduk di kafe sambil menikmati minuman.

Alternatif lain seperti Kingdom Centre bukan cuma tempat belanja, tetapi juga menawarkan sky bridge yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Sementara National Museum of Saudi Arabia di kawasan King Abdulaziz Historical Center cocok untuk memahami sejarah Arab Saudi lewat pameran interaktif yang nyaman dijelajahi secara indoor.

Untuk suasana berbeda, wilayah pesisir di Jeddah menghadirkan aktivitas yang lebih santai dengan angin laut yang membantu menurunkan rasa panas, terutama jika datang saat pagi atau menjelang matahari terbenam. Area Jeddah Corniche menjadi tempat favorit untuk berjalan kaki ringan, menikmati pemandangan Laut Merah, atau duduk santai di tepi pantai sambil melihat aktivitas lokal. Sementara itu, resor seperti Mövenpick Resort Al Nawras Jeddah menawarkan akses langsung ke pantai dengan fasilitas private pool yang lebih nyaman digunakan saat suhu tinggi. Aktivitas seperti snorkeling atau sekadar menikmati sunset di tepi laut bisa jadi pilihan yang tidak terlalu menguras energi.

Menentukan waktu terbaik untuk ke Arab Saudi bergantung pada tujuan perjalanan dan kenyamanan yang diinginkan selama berada di sana. Setiap periode memiliki karakteristik berbeda. Perencanaan matang akan membuat perjalanan liburan kamu terasa lebih maksimal tanpa harus terjebak kondisi yang kurang ideal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Related Articles

See More