Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tips Haji bagi Jemaah dengan Hipertensi, Siapkan dari Sekarang

Tips Haji bagi Jemaah dengan Hipertensi, Siapkan dari Sekarang
ilustrasi jemaah haji (unsplash.com/Hassan Altarazi)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Tekanan darah sebaiknya sudah terkontrol dengan baik sebelum berangkat haji.

  • Cuaca panas, kelelahan, kurang tidur, dan dehidrasi dapat memengaruhi tekanan darah selama ibadah.

  • Obat rutin, hidrasi, dan kemampuan mengenali tanda bahaya sangat penting untuk mencegah komplikasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kesiapan fisik untuk ibadah haji tidak main-main. Jalan kaki jarak jauh, tidur yang tidak selalu teratur maupun nyenyak, serta kepadatan jemaah dapat menjadi tantangan bagi siapa pun, terutama bagi mereka yang hidup dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Meski begitu, hipertensi bukan penghalang berhaji. Banyak jemaah dengan hipertensi tetap bisa beribadah dengan aman, selama kondisi mereka terkontrol dan persiapannya matang. Kuncinya adalah memastikan tubuh cukup siap menghadapi tekanan fisik dan lingkungan selama berada di Tanah Suci.

Table of Content

Pastikan tekanan darah sudah stabil sebelum berangkat haji

Pastikan tekanan darah sudah stabil sebelum berangkat haji

Persiapan idealnya dimulai beberapa bulan sebelum keberangkatan. Menemui dokter penting untuk memastikan tekanan darah sudah cukup stabil dan tidak ada komplikasi yang belum terdeteksi, seperti penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, atau pembesaran jantung.

Target tekanan darah untuk sebagian besar orang dewasa adalah di bawah 130/80 mmHg, terutama jika memiliki faktor risiko lain seperti diabetes atau penyakit ginjal. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi saat tubuh menghadapi aktivitas berat dan suhu tinggi.

Penelitian menunjukkan, hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang paling sering ditemukan pada jemaah haji, dan sering menjadi faktor yang memperburuk kondisi medis lain selama perjalanan.

Obat rutin harus diminum

Ilustrasi obat-obatan di dalam kotak obat.
ilustrasi seseorang memasukkan obat-obatan ke dalam kotak obat (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Banyak orang merasa tekanan darahnya “baik-baik saja” sehingga mulai mengurangi dosis atau lupa minum obat. Saat haji, kebiasaan ini bisa menjadi masalah besar karena perubahan rutinitas membuat tubuh lebih rentan terhadap lonjakan tekanan darah.

Bawa obat dalam jumlah cukup untuk seluruh perjalanan, ditambah cadangan beberapa hari. Simpan obat di tas yang mudah dijangkau dan pisahkan sebagian kecil di tas lain untuk berjaga-jaga jika koper hilang.

Jika kamu menggunakan beberapa jenis obat sekaligus, buat daftar nama obat, dosis, dan jam minumnya. Ini akan memudahkan jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan medis.

Jemaah dengan penyakit kronis sebaiknya membawa ringkasan kondisi kesehatan dan obat rutin saat bepergian jauh.

Cuaca panas bisa membuat tekanan darah tidak stabil

Cuaca di Tanah Suci sering kali sangat panas, terutama pada siang hari. Panas ekstrem membuat pembuluh darah melebar dan tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat.

Pada sebagian orang, dehidrasi dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah sehingga memicu pusing, lemas, atau bahkan pingsan. Namun, pada orang lain, terutama jika dehidrasi memicu stres pada tubuh, tekanan darah justru bisa meningkat.

Hipertensi juga termasuk kondisi yang sering ditemukan pada jemaah yang mengalami heat exhaustion dan heat stroke. Karena itu, menjaga asupan cairan sangat penting. Minumlah air secara rutin, bahkan sebelum merasa haus, dan hindari terlalu lama berada di bawah terik matahari.

Kenali tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan

Tekanan darah tinggi
ilustrasi tekanan darah tinggi (pixabay.com/pixabay)

Tidak semua gejala hipertensi terasa jelas. Banyak orang merasa baik-baik saja meski tekanan darah mereka tinggi. Namun, jika tekanan darah naik terlalu tinggi, gejalanya bisa berupa sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, pandangan kabur, atau rasa lemah mendadak.

Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan pembuluh darah. Saat tubuh mengalami stres fisik, panas, atau kelelahan, kedua faktor ini dapat berubah dan menyebabkan tekanan darah naik atau turun.

Jika muncul gejala seperti nyeri dada, sesak napas, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, atau sakit kepala yang sangat berat, segera cari pertolongan medis. Ini bisa menjadi tanda komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung.

Atur aktivitas dan jangan memaksakan diri

Haji bukan lomba ketahanan fisik. Islam memberikan keringanan bagi orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Bagi jemaah dengan hipertensi, mengatur ritme aktivitas sangat penting. Pilih waktu yang lebih sejuk untuk berjalan, istirahat lebih sering, dan jangan ragu menggunakan kursi roda jika diperlukan. Aktivitas berlebihan, kurang tidur, dan stres emosional dapat memicu lonjakan tekanan darah.

Jika tubuh mulai terasa terlalu lelah, berdebar, atau pusing, berhenti dan istirahat. Mendengarkan sinyal tubuh adalah bagian dari menjaga keselamatan selama ibadah.

Perhatikan pola makan

Makanan untuk jemaah haji.
Makanan untuk jemaah haji. (Media Center Haji)

Pola makan selama haji sering berubah karena keterbatasan pilihan dan jadwal. Namun, bagi pengidap hipertensi, makanan tetap perlu diperhatikan.

Batasi makanan tinggi garam, makanan instan, dan camilan asin karena natrium dapat meningkatkan tekanan darah. Pilih makanan yang lebih segar, kaya buah dan sayur, serta cukup protein. Menurut pedoman dari World Health Organization, asupan garam sebaiknya dibatasi kurang dari 5 gram per hari untuk membantu mengontrol tekanan darah.⁶

Selain itu, berhati-hati dengan konsumsi kopi atau minuman berkafein berlebihan, terutama jika tubuh sedang kurang tidur atau dehidrasi.

Hipertensi bukan halangan untuk menjalankan ibadah haji. Dengan tekanan darah yang terkontrol, kepatuhan minum obat, dan perhatian terhadap hidrasi serta aktivitas, banyak risiko dapat dicegah.

Yang paling penting, jangan memaksakan tubuh bekerja di luar batasnya. Haji adalah ibadah yang panjang dan menuntut energi, sehingga menjaga kesehatan menjadi bagian penting dari menjaga kekhusyukan.

Referensi

Saber Yezli et al., “Prevalence of Diabetes and Hypertension Among Hajj Pilgrims: A Systematic Review,” International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. 3 (January 28, 2021): 1155, https://doi.org/10.3390/ijerph18031155.

Centers for Disease Control and Prevention. “Saudi Arabia: Hajj and Umrah Pilgrimages.” CDC Yellow Book 2026. Diakses April 2026.

Doaa A. Abdelmoety et al., “Characteristics of Heat Illness During Hajj: A Cross-Sectional Study,” BioMed Research International 2018 (January 1, 2018): 1–6, https://doi.org/10.1155/2018/5629474.

Robert M. Carey and Paul K. Whelton, “Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults: Synopsis of the 2017 American College of Cardiology/American Heart Association Hypertension Guideline,” Annals of Internal Medicine 168, no. 5 (January 22, 2018): 351–58, https://doi.org/10.7326/m17-3203.

Qanta A Ahmed, Yaseen M Arabi, and Ziad A Memish, “Health Risks at the Hajj,” The Lancet 367, no. 9515 (March 1, 2006): 1008–15, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(06)68429-8.

World Health Organization. “Salt Reduction.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More