4 Bahaya Aki Rekondisi untuk Kendaraan, Jangan Tergiur Murah!

- Aki rekondisi dapat mengalami penurunan tegangan mendadak akibat sel yang tidak optimal, membuat aliran listrik tidak stabil, starter melemah, dan meningkatkan risiko kendaraan mogok di perjalanan.
- Pasokan listrik tidak stabil dari aki rekondisi berpotensi mengganggu ECU, indikator dashboard, sistem injeksi, performa mesin, serta membuat pembakaran tidak sempurna dan konsumsi bahan bakar lebih boros.
- Masa pakai aki rekondisi cenderung singkat dan berisiko bocor atau korsleting bila pengerjaannya tidak sesuai standar, yang dapat merusak dudukan aki serta sistem kelistrikan kendaraan.
Kamu sebaiknya tidak memilih aki rekondisi untuk digunakan pada kendaraan. Harga yang ditawarkan memang jauh lebih terjangkau dibandingkan aki baru. Namun, kualitas yang rendah tersebut dapat menimbulkan risiko kerusakan pada kendaraan.
Salah satu tanda aki rekondisi dapat dikenali dari harganya yang tidak wajar. Apabila kamu tetap memaksakan diri untuk menggunakannya, berbagai dampak negatif dapat muncul. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memahami bahaya tersebut sebelum memutuskan untuk membelinya.
1. Kendaraan mogok mendadak

ilustrasi mobil mogok di jalan (unsplash.com/Zoshua Colah) Penurunan tegangan secara mendadak kerap dialami oleh aki rekondisi karena kondisi sel di dalamnya sudah tidak berfungsi secara maksimal. Hal tersebut menyebabkan aliran listrik yang disalurkan ke kendaraan menjadi tidak stabil. Gangguan ini akan semakin terasa ketika kendaraan kamu digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Kondisi aki yang melemah umumnya ditandai dengan starter yang tidak mampu menghidupkan mesin secara optimal. Pada kondisi tertentu, hal tersebut dapat membuat kendaraan kamu berhenti secara tiba-tiba saat sedang dikendarai. Risiko mogok di tengah perjalanan menjadi lebih besar ketika kamu menggunakan aki rekondisi.
2. Sistem kelistrikan rusak

ilustrasi periksa kondisi mobil (unsplash.com/RKTW extend) Kinerja ECU pada mobil kamu dapat mengalami gangguan apabila memperoleh aliran listrik yang tidak stabil dari aki rekondisi. Gangguan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan pada indikator yang tampil di dashboard. Selain itu, performa mesin kendaraan kamu juga dapat mengalami penurunan secara bertahap.
Sistem injeksi memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap perubahan daya listrik. Oleh sebab itu, penggunaan aki rekondisi dapat menyebabkan proses pembakaran menjadi tidak sempurna dan pemakaian bahan bakar menjadi lebih boros. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, kerusakan dapat meluas dan memengaruhi komponen mobil yang lain.
3. Umur pakai pendek

ilustrasi mobil (unsplash.com/Dan Williams) Aki rekondisi adalah aki yang telah melalui proses perbaikan sehingga masa pakainya cenderung lebih singkat dibandingkan aki baru. Pada awal pemakaian, aki tersebut memang masih dapat berfungsi dengan baik. Namun, daya tahan yang dimilikinya biasanya jauh lebih terbatas.
Dalam jangka waktu yang lama, kamu justru harus melakukan penggantian aki lebih cepat daripada jadwal yang seharusnya. Pengeluaran yang kamu keluarkan pun dapat menjadi lebih besar. Hal ini terjadi karena kamu perlu membeli aki baru lagi dalam waktu yang relatif singkat.
4. Potensi korsleting atau kebocoran

ilustrasi cek kondisi mobil (pexels.com/Sergey Meshkov) Kebocoran cairan pada aki dapat terjadi apabila proses rekondisi tidak dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku. Cairan yang keluar tersebut berpotensi merusak tempat dudukan aki. Selain itu, bagian di sekitar ruang mesin kendaraan kamu juga dapat ikut terdampak.
Risiko terjadinya korsleting menjadi lebih tinggi ketika terminal positif dan negatif tidak terpasang secara presisi. Kondisi tersebut dapat merusak sistem kelistrikan pada kendaraan kamu. Komponen lain yang terhubung langsung dengan sumber daya listrik pun dapat mengalami kerusakan.




















