5 Pertanyaan Paling Sering Diajukan Seputar Mobil PHEV

Kendaraan listrik hibrida colok atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) kini menjadi jembatan populer bagi masyarakat yang ingin beralih dari mesin bensin konvensional ke mobil listrik murni. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas unik dengan menggabungkan mesin pembakaran internal dan motor listrik yang baterainya dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal.
Meski popularitasnya terus meningkat, masih banyak calon pengguna yang merasa bingung dengan cara kerja dan efisiensi nyata dari sistem ganda ini. Memahami aspek teknis dan operasional sangat penting agar pemanfaatan teknologi PHEV dapat dilakukan secara optimal sesuai dengan karakter perjalanan sehari-hari.
1. Apa perbedaan mendasar antara PHEV dengan mobil hybrid biasa?

Pertanyaan yang paling sering muncul berkaitan dengan perbedaan antara PHEV dan Hybrid Electric Vehicle (HEV) konvensional. Pada mobil hybrid biasa, baterai hanya diisi melalui pengereman regeneratif dan mesin bensin, serta biasanya hanya mampu menggerakkan mobil dengan mode listrik dalam jarak yang sangat pendek. Motor listrik pada HEV berfungsi lebih sebagai asisten untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar secara umum.
Sebaliknya, PHEV memiliki baterai dengan kapasitas jauh lebih besar yang harus diisi daya secara manual menggunakan kabel charger seperti mobil listrik murni (BEV). Keunggulan utama PHEV adalah kemampuannya melaju sepenuhnya dengan tenaga listrik tanpa melibatkan mesin bensin sama sekali untuk jarak yang cukup signifikan, biasanya antara 40 hingga 80 kilometer. Hal ini memungkinkan mobilitas harian dilakukan tanpa emisi gas buang sedikit pun.
2. Apakah mobil PHEV tetap bisa berjalan jika baterai kosong?

Kekhawatiran mengenai kehabisan daya baterai di tengah jalan sering kali membayangi calon pembeli kendaraan listrik. Namun, pada sistem PHEV, kekhawatiran ini tidak perlu terjadi karena mobil akan secara otomatis beralih ke mode hybrid ketika daya baterai habis. Mesin bensin akan mengambil alih peran utama sebagai penggerak roda sekaligus membantu menjaga level daya baterai agar sistem kelistrikan tetap berfungsi.
Selama tangki bahan bakar masih berisi bensin, kendaraan dapat terus melaju layaknya mobil konvensional. Fleksibilitas ini menjadikan PHEV solusi ideal bagi masyarakat yang sering menempuh perjalanan jarak jauh antar kota, di mana infrastruktur pengisian daya listrik mungkin masih terbatas. Pengendara tidak perlu merasa cemas terjebak di jalan hanya karena tidak menemukan stasiun pengisian daya tepat waktu.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya baterai?

Waktu pengisian daya baterai PHEV sangat bergantung pada jenis pengisi daya yang digunakan. Karena kapasitas baterainya lebih kecil dibandingkan mobil listrik murni, PHEV biasanya tidak membutuhkan pengisi daya kilat (DC Fast Charging). Menggunakan soket listrik rumah tangga standar (Level 1) umumnya membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 8 jam untuk pengisian hingga penuh, sehingga sangat cocok dilakukan pada malam hari saat mobil terparkir di garasi.
Jika menggunakan Wallbox atau stasiun pengisian daya publik (Level 2), waktu pengisian dapat dipangkas menjadi sekitar 2 hingga 3 jam saja. Karena kapasitasnya yang terbatas, sebagian besar model PHEV di pasaran memang dirancang untuk memaksimalkan pengisian daya di rumah atau di kantor, sehingga biaya operasional harian dapat ditekan seminimal mungkin dengan memanfaatkan tarif listrik yang lebih murah dibandingkan bensin.
4. Seberapa irit konsumsi bahan bakar pada mobil PHEV?

Efisiensi bahan bakar pada PHEV sangat bergantung pada disiplin pemilik dalam mengisi daya listrik. Jika mobil selalu diisi daya secara penuh setiap hari dan hanya digunakan untuk jarak pendek di dalam kota, penggunaan bensin bisa mencapai nol liter. Namun, jika baterai jarang diisi daya dan mobil terus-menerus mengandalkan mesin bensin, efisiensinya akan menurun meski tetap sedikit lebih irit dibandingkan mobil bensin murni berkat adanya bantuan regenerasi energi saat pengereman.
Banyak produsen mengklaim angka konsumsi bahan bakar yang sangat fantastis, terkadang mencapai lebih dari 50 kilometer per liter. Perlu dipahami bahwa angka tersebut merupakan kombinasi penggunaan daya listrik penuh dan bensin. Manfaat ekonomi maksimal dari teknologi PHEV hanya akan terasa jika pengguna memaksimalkan mode elektrik untuk rutinitas harian dan menyimpan tenaga bensin hanya untuk keperluan mendesak atau perjalanan jauh.
5. Bagaimana dengan biaya perawatan mesin ganda pada PHEV?

Memiliki dua sistem penggerak sering kali menimbulkan asumsi bahwa biaya perawatan akan menjadi dua kali lipat lebih mahal. Faktanya, perawatan mesin bensin pada PHEV justru bisa lebih jarang dilakukan karena mesin tersebut tidak bekerja sesering mobil konvensional. Komponen pengereman juga cenderung lebih awet berkat adanya sistem pengereman regeneratif yang membantu memperlambat laju kendaraan menggunakan motor listrik.
Meski demikian, perawatan rutin tetap harus dilakukan sesuai panduan pabrikan untuk memastikan kedua sistem tetap sinkron. Komponen tambahan seperti baterai voltase tinggi dan sistem pendingin khusus memang memerlukan pemeriksaan ekstra, namun secara keseluruhan biaya kepemilikan jangka panjang sering kali lebih menguntungkan karena penghematan biaya bahan bakar yang signifikan. Pemantauan kesehatan baterai secara berkala adalah kunci agar nilai jual kembali kendaraan tetap terjaga dengan baik di masa depan.

















