Baterai Sodium vs Solid State: Mana yang Bakal Jadi Masa Depan EV?

- Perbedaan mendasar pada material dan struktur kimiaBaterai sodium-ion menggunakan natrium sebagai pengganti lithium, dengan elektrolit cair. Baterai solid-state menggunakan lapisan padat untuk kepadatan energi lebih tinggi.
- Fokus target pasar antara harga murah dan performa tinggiBaterai sodium-ion cocok untuk city car dengan harga terjangkau. Sementara baterai solid-state ditujukan untuk mobil listrik mewah atau kendaraan jarak jauh.
- Deretan brand raksasa di balik pengembangan kedua bateraiPabrikan Tiongkok, CATL, memimpin pengembangan baterai sodium-ion. Sementara Toyota menjadi pemain vokal dalam produksi massal baterai solid-state pada tahun 2027 atau 202
Industri otomotif global sedang berada di persimpangan jalan menuju dominasi energi bersih yang lebih efisien dan terjangkau. Dua kandidat kuat, baterai sodium-ion dan baterai solid-state, muncul sebagai pahlawan yang menjanjikan solusi atas kelemahan baterai lithium-ion yang selama ini mendominasi pasar dunia.
Meskipun keduanya sering dibahas secara bersamaan, fungsi dan target pasar yang dituju oleh kedua teknologi ini sangatlah kontras. Satu teknologi fokus pada pemerataan kendaraan listrik melalui harga yang ekonomis, sementara teknologi lainnya mengejar puncak performa untuk menghapus kecemasan akan jarak tempuh yang terbatas.
1. Perbedaan mendasar pada material dan struktur kimia

Perbedaan paling fundamental antara kedua teknologi ini terletak pada "bahan bakar" kimia dan wujud fisik bagian dalamnya. Baterai sodium-ion menggunakan natrium atau sodium, bahan yang melimpah dalam garam meja, untuk menggantikan lithium yang langka dan mahal. Secara struktur, baterai ini masih menggunakan elektrolit cair, sehingga secara fisik menyerupai baterai konvensional namun dengan biaya material yang jauh lebih rendah.
Di sisi lain, baterai solid-state tidak fokus pada penggantian bahan kimia utama, melainkan pada perubahan wujud elektrolitnya. Jika baterai biasa menggunakan cairan yang mudah terbakar, teknologi solid-state menggunakan lapisan padat seperti keramik atau polimer. Struktur padat ini memungkinkan kepadatan energi yang jauh lebih tinggi dalam ruang yang lebih kecil, menjadikannya kunci untuk menciptakan mobil listrik dengan jarak tempuh ribuan kilometer.
2. Fokus target pasar antara harga murah dan performa tinggi

Baterai sodium-ion diprediksi akan menjadi tulang punggung bagi kendaraan listrik kelas pemula atau city car. Karena harganya yang murah namun memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dari lithium, baterai ini sangat ideal untuk penggunaan harian di dalam kota yang tidak memerlukan jarak tempuh ekstrim. Ini adalah solusi nyata bagi tantangan keterjangkauan harga yang selama ini menghambat adopsi massal mobil listrik di negara berkembang.
Sebaliknya, baterai solid-state adalah teknologi premium yang ditujukan untuk mobil listrik mewah atau kendaraan jarak jauh. Keunggulan utamanya adalah kemampuan pengisian daya secepat mengisi bensin dan tingkat keamanan yang sangat tinggi karena tidak ada cairan yang bisa bocor atau terbakar. Meskipun sangat canggih, biaya produksinya saat ini masih sangat tinggi, sehingga teknologi ini kemungkinan besar akan debut pada model-model flagship sebelum turun ke segmen yang lebih rendah.
3. Deretan brand raksasa di balik pengembangan kedua baterai

Persaingan pengembangan kedua baterai ini melibatkan raksasa teknologi dari berbagai negara. Untuk baterai sodium-ion, pabrikan asal Tiongkok, CATL, berada di garda terdepan setelah sukses meluncurkan sel baterai sodium generasi pertama. Brand otomotif seperti Changan dan BYD juga telah mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam lini produk kendaraan murah mereka guna menekan harga jual di pasar global.
Sementara itu, arena baterai solid-state didominasi oleh ambisi perusahaan Jepang dan Amerika Serikat. Toyota menjadi salah satu pemain paling vokal yang menargetkan produksi massal baterai solid-state pada tahun 2027 atau 2028. Selain itu, perusahaan seperti QuantumScape yang didukung oleh Volkswagen, serta kolaborasi antara Nissan dan Honda, terus berlomba menyempurnakan material padat agar cukup tahan lama untuk penggunaan harian di jalan raya.
















