Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mobil Berfitur ADAS Bisa Bikin Overconfidence, Ini Risikonya

ilustrasi fitur ADAS
ilustrasi fitur ADAS (wuling.id)
Intinya sih...
  • Menurunnya kewaspadaan terhadap kondisi sekitarFitur ADAS membuat mobil terasa stabil, namun mengurangi fokus pengemudi pada lingkungan sekitar, meningkatkan risiko kecelakaan.
  • Terlalu mengandalkan sistem dalam situasi kompleksADAS bekerja optimal di jalan tol, namun sering salah dalam situasi padat, meningkatkan risiko kecelakaan saat pengemudi tetap menyerahkan kendali.
  • Berkurangnya keterampilan mengemudi aktifKeterampilan mengemudi menurun karena ketergantungan pada ADAS, menyebabkan respons lambat dan kurang presisi dalam situasi darurat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan teknologi otomotif membuat banyak mobil modern dilengkapi fitur ADAS atau Advanced Driver Assistance Systems. Fitur ini dirancang untuk membantu pengemudi menjaga jarak, tetap di jalur, dan mengurangi potensi kecelakaan. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko psikologis yang sering luput, yaitu rasa terlalu percaya diri saat berada di balik kemudi.

Rasa aman berlebihan bisa muncul karena sistem terasa canggih dan responsif. Pengemudi bisa merasa seolah mobil mampu mengatasi hampir semua situasi sendiri. Padahal, ADAS tetap punya keterbatasan dan sangat bergantung pada kondisi jalan serta perhatian manusia. Yuk, kenali berbagai risiko overconfidence agar penggunaan ADAS tetap aman dan rasional!

1. Menurunnya kewaspadaan terhadap kondisi sekitar

ilustrasi mengemudi mobil dengan kaca terbuka
ilustrasi mengemudi mobil dengan kaca terbuka (pexels.com/Atlantic Ambience)

Fitur ADAS seperti lane keeping assist dan adaptive cruise control membuat mobil terasa lebih stabil di jalan. Keadaan ini sering memberi rasa aman yang berlebihan, sehingga fokus terhadap lingkungan sekitar berkurang. Tanpa disadari, mata dan pikiran jadi kurang aktif memantau situasi di depan maupun samping kendaraan.

Penurunan kewaspadaan ini berbahaya saat muncul kondisi tak terduga seperti pejalan kaki, kendaraan berhenti mendadak, atau marka jalan yang samar. ADAS tidak selalu mampu membaca semua variabel dengan sempurna. Ketergantungan berlebihan bisa membuat reaksi pengemudi jadi lebih lambat dan berisiko tinggi.

2. Terlalu mengandalkan sistem dalam situasi kompleks

ilustrasi mengemudi mobil listrik
ilustrasi mengemudi mobil listrik (unsplash.com/Michael Kahn)

ADAS bekerja optimal di kondisi tertentu, seperti jalan tol dengan marka jelas. Namun, di jalan kota yang padat, sistem sering menghadapi tantangan seperti banyak kendaraan, sepeda motor, dan pejalan kaki. Dalam situasi kompleks, sensor dan kamera bisa salah menafsirkan kondisi.

Overconfidence membuat pengemudi tetap menyerahkan kendali pada sistem meski situasi menuntut respons manual. Ini bisa memicu salah perhitungan jarak atau waktu pengereman. Ketika sistem tidak bereaksi sesuai harapan, risiko kecelakaan pun meningkat secara signifikan.

3. Berkurangnya keterampilan mengemudi aktif

ilustrasi mengemudi mobil
ilustrasi mengemudi mobil (unsplash.com/HamZa NOUASRIA)

Terlalu sering mengandalkan ADAS dapat membuat keterampilan mengemudi aktif menurun. Refleks, kepekaan terhadap jarak, dan kemampuan membaca lalu lintas bisa melemah karena jarang digunakan secara penuh. Dalam jangka panjang, hal ini memengaruhi kualitas pengambilan keputusan di jalan.

Saat sistem tiba-tiba tidak aktif atau gagal, pengemudi dituntut kembali mengambil alih kendali penuh. Jika keterampilan dasar sudah jarang terlatih, respons bisa terasa kaku dan kurang presisi. Kondisi ini berbahaya, terutama dalam situasi darurat yang butuh keputusan cepat dan tepat.

4. Salah memahami batas kemampuan teknologi

ilustrasi mengemudi mobil
ilustrasi mengemudi mobil (unsplash.com/Michael Kahn)

Banyak pengemudi mengira ADAS setara dengan sistem self driving. Padahal, sebagian besar ADAS hanya bersifat membantu, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya. Salah kaprah ini membuat ekspektasi terhadap teknologi menjadi tidak realistis.

Ketika ekspektasi terlalu tinggi, pengemudi cenderung memberi kepercayaan penuh pada sistem. Padahal, sensor bisa terganggu hujan, kabut, atau cahaya silau. Tanpa pemahaman batas teknologi, rasa aman palsu justru meningkatkan risiko di jalan.

5. Reaksi terlambat saat sistem gagal

ilustrasi mengemudi mobil dengan ceroboh
ilustrasi mengemudi mobil dengan ceroboh (freepik.com/freepik)

Tidak ada sistem yang benar-benar bebas dari potensi gangguan. ADAS bisa mengalami kesalahan baca sensor, keterlambatan respons, atau bahkan nonaktif sementara. Jika pengemudi terlalu percaya, waktu reaksi saat sistem gagal bisa menjadi lebih lambat.

Reaksi terlambat ini sangat krusial dalam kondisi darurat. Setiap detik menentukan apakah tabrakan bisa dihindari atau tidak. Overconfidence membuat pengemudi kurang siap secara mental untuk segera mengambil alih kendali penuh.

Fitur ADAS adalah alat bantu yang sangat berguna, tapi bukan pengganti kewaspadaan manusia. Overconfidence bisa mengikis fokus, keterampilan, dan kesiapan menghadapi situasi tak terduga. Memahami batas teknologi membantu menjaga keseimbangan antara manfaat dan risiko. Dengan sikap yang tepat, ADAS bisa menjadi partner aman, bukan sumber rasa aman palsu di jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Kenapa Mesin Diesel Bisa Hidup Tanpa Busi?

04 Feb 2026, 21:05 WIBAutomotive