Kepadatan lalu lintas di kota-kota besar sering kali memaksa para pengguna jalan untuk menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kendaraan. Bagi sebagian pengemudi mobil tanpa fasilitas pendingin udara yang prima atau mereka yang ingin menghemat bahan bakar, membuka kaca jendela sering kali dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengalirkan sirkulasi udara. Tindakan ini dilakukan dengan asumsi bahwa membiarkan angin jalanan masuk ke dalam kabin akan memberikan kesegaran alami dan mengusir rasa pengap selama terjebak di tengah kemacetan.
Namun, kebiasaan yang terlihat lumrah dan ekonomis ini ternyata menyimpan ancaman kesehatan yang sangat serius bagi para penumpang di dalamnya. Jalan raya yang padat bukanlah sumber udara bersih, melainkan pusat akumulasi gas buang beracun dari ribuan knalpot kendaraan yang mengantre. Membiarkan pembatas fisik antara kabin mobil dan lingkungan luar terbuka justru akan mengubah ruang interior kendaraan menjadi sebuah wadah pengumpul polutan berbahaya yang siap merusak sistem pernapasan manusia.
