Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Balapan Baterai Solid-State: China Unggul, Tapi Khawatir Tersalip

Balapan Baterai Solid-State: China Unggul, Tapi Khawatir Tersalip
ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)
Intinya Sih
  • Tiongkok memimpin riset dan paten baterai solid-state global, namun laporan menyoroti risiko tersalip karena dominasi institusi Jepang dan Korea Selatan dalam paten tingkat atas.
  • Produksi baterai solid-state mulai beralih ke tahap batch kecil dengan target komersialisasi massal pada 2030, disertai inovasi cepat dari produsen Tiongkok seperti Ganfeng Lithium dan Gotion High-tech.
  • Tantangan utama meliputi ketidakpastian rute elektrolit, masalah teknis dendrit litium, serta rendahnya penyebaran paten internasional yang membuat posisi global Tiongkok masih rentan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tiongkok saat ini memimpin dalam hal jumlah paten dan riset baterai solid-state global. Kendati demikian, laporan terbaru dari analisis kebijakan dan industri setempat memperingatkan adanya risiko besar Tiongkok bakal tersalip oleh para kompetitor globalnya.

Negara-negara pesaing seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan kini bergerak sangat agresif. Mereka terus mempercepat dukungan kebijakan, koordinasi industri, serta penyebaran paten demi menggeser dominasi Tiongkok di fase krusial industrialisasi ini.

1. Dominasi jumlah riset dan ketimpangan paten perusahaan

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Tiongkok menguasai sekitar 35 persen pasar paten baterai solid-state global dan 39 persen paten terkait elektrolit. Publikasi makalah riset tahunan mereka meroket dari hanya 21 dokumen pada 2015 menjadi 562 dokumen pada 2023. Berdasarkan data yang dihimpun dari carnewschina.com, akumulasi paten global hingga November 2025 mencapai 16.429 paten, di mana Tiongkok memimpin dengan 3.341 aplikasi, disusul ketat oleh Jepang dengan 3.225 aplikasi.

Namun, laporan tersebut memberi catatan kritis: "Tiongkok menghadapi risiko tersalip karena adanya kesenjangan konsentrasi paten tingkat atas." Terbukti, dari top 30 institusi pemilik paten terbaik, perusahaan Jepang mendominasi 17 posisi, sedangkan Tiongkok hanya menempatkan 7 perusahaan. Bahkan, posisi 10 besar seluruhnya disapu bersih oleh korporasi Jepang dan Korea Selatan, dengan Toyota sebagai pemegang paten korporat terbesar yang menguasai sekitar 40 persen paten global.

2. Kemajuan lini produksi dan target komersialisasi massal

ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)

Industri baterai kini mulai bergeser dari skala percontohan ke arah produksi batch kecil dalam jumlah terbatas. Produksi massal awal diprediksi siap berjalan sekitar tahun 2027, sementara target komersialisasi yang lebih luas dicanangkan pada tahun 2030.

Sejumlah produsen Tiongkok pun memamerkan lompatan teknologi mereka. Peneliti Tiongkok baru-baru ini memperkenalkan prototipe baterai 451,5 Wh/kg yang diklaim mampu mengisi daya hanya dalam waktu tiga menit. Selain itu, Ganfeng Lithium yang disokong Changan melaporkan baterai mereka sukses menembus 1.100 siklus pengisian daya dengan kepadatan energi 400 Wh/kg. Di sisi lain, Gotion High-tech bahkan telah merampungkan desain lini produksi baterai all-solid-state berkapasitas 2 GWh dan mengoperasikan lini percontohan 0,2 GWh untuk uji coba kendaraan.

3. Tantangan rute teknis dan perluasan ekspansi global

Ilustrasi Pengisian Baterai Mobil Listrik (wuling.id)
Ilustrasi Pengisian Baterai Mobil Listrik (wuling.id)

Hingga saat ini, belum ada satu pun rute elektrolit—baik sistem sulfida, oksida, maupun polimer—yang mendominasi pasar. Setiap jalur teknologi masih memiliki kompromi tersendiri terkait aspek konduktivitas, stabilitas, biaya, dan kemudahan manufaktur. Masalah struktural seperti pembentukan dendrit litium dan rekayasa antarmuka padat-padat masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Tantangan terbesar bagi perusahaan Tiongkok adalah minimnya penyebaran paten di luar negeri. Produsen lokal dinilai mengajukan lebih sedikit aplikasi paten internasional dibandingkan dengan rival asal Jepang dan Korea Selatan yang cakupan patennya sudah sangat luas di Amerika Serikat, Eropa, Asia Tenggara, hingga India. Untuk memperkuat ekosistem dalam negeri, Tiongkok kini tengah menguji publikasi draf standar nasional baterai solid-state pertama mereka yang bertajuk "Terms and Classification."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More