Kenapa Tabrakan Bisa Memicu Kebakaran Mobil?

- Kebocoran sistem bahan bakar akibat tekanan mekanis ekstrem
- Hubungan arus pendek pada sistem kelistrikan kendaraan
- Paparan cairan kimia pada komponen mesin yang panas
Tabrakan kendaraan bermotor sering kali menyisakan pemandangan dramatis berupa kobaran api yang menghanguskan seluruh badan mobil dalam waktu singkat. Meskipun teknologi keselamatan otomotif telah berkembang pesat, risiko kebakaran pasca-benturan tetap menjadi ancaman nyata yang dipicu oleh interaksi antara kerusakan mekanis dan bahan kimia yang mudah terbakar.
Memahami mekanisme di balik munculnya api saat kecelakaan sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan transportasi. Benturan keras bukan sekadar merusak estetika kendaraan, melainkan juga mengacaukan stabilitas sistem distribusi energi dan bahan bakar yang dirancang sedemikian rupa di bawah kap mesin serta tangki belakang.
1. Kebocoran sistem bahan bakar akibat tekanan mekanis ekstrem

Faktor utama yang paling sering memicu kebakaran saat tabrakan adalah rusaknya integritas sistem bahan bakar, baik itu tangki bensin maupun jalur selang bahan bakar. Saat terjadi benturan keras, energi kinetik yang sangat besar dapat merobek tangki bensin atau memutuskan sambungan selang yang mengalirkan bahan bakar menuju mesin. Bahan bakar yang keluar dalam bentuk cair maupun uap ini sangat sensitif terhadap suhu dan lingkungan sekitar.
Ketika bensin atau solar merembes keluar dan mengenai permukaan komponen yang masih panas, seperti blok mesin atau pipa knalpot, penguapan instan terjadi dan menciptakan kondisi yang sangat ideal untuk penyulutan api. Selain itu, uap bensin memiliki sifat yang lebih berat dari udara sehingga cenderung berkumpul di area bawah kendaraan, menciptakan zona bahaya yang luas di sekitar lokasi kecelakaan. Cukup satu percikan kecil untuk mengubah tumpahan tersebut menjadi kobaran api yang destruktif.
2. Hubungan arus pendek pada sistem kelistrikan kendaraan

Mobil modern dilengkapi dengan jaringan kabel yang sangat kompleks untuk mendukung berbagai fitur elektronik dan sensor. Saat tabrakan terjadi, struktur logam kendaraan yang ringsek dapat menjepit atau memotong kabel-kabel besar, terutama kabel yang terhubung langsung dengan baterai atau aki. Kerusakan pada isolasi kabel ini memicu terjadinya hubungan arus pendek (short circuit) yang menghasilkan percikan bunga api listrik dengan suhu yang sangat tinggi.
Percikan listrik ini sering kali menjadi pemantik utama ketika bertemu dengan cairan yang mudah terbakar seperti bahan bakar, oli mesin, atau cairan pembersih kaca yang bocor akibat benturan. Pada mobil listrik, risiko ini bahkan lebih kompleks karena adanya potensi kerusakan pada sel baterai yang dapat memicu fenomena thermal runaway. Dalam kondisi tersebut, baterai yang rusak menghasilkan panas internal yang terus meningkat secara mandiri, sehingga api menjadi sangat sulit dipadamkan meskipun sudah disiram air dalam jumlah banyak.
3. Paparan cairan kimia pada komponen mesin yang panas

Selain bensin, terdapat berbagai cairan kimia lain di dalam ruang mesin yang memiliki titik nyala tertentu, seperti oli mesin, minyak rem, dan cairan transmisi. Dalam kondisi normal, cairan-cairan ini berada dalam wadah tertutup yang aman. Namun, benturan hebat dapat memecahkan wadah-wadah tersebut dan menyemprotkan isinya ke bagian mesin yang sedang berada dalam suhu operasional tinggi. Komponen seperti manifold buang atau turbocharger dapat mencapai suhu ratusan derajat Celsius, yang cukup untuk menyulut cairan kimia tersebut secara spontan.
Interaksi antara oksigen bebas yang masuk melalui kap mesin yang terbuka atau ringsek dengan cairan panas tersebut menciptakan reaksi pembakaran yang cepat. Sering kali, api dimulai dari ruang mesin dan dengan cepat merambat ke kabin melalui saluran pendingin udara atau celah panel yang rusak. Oleh karena itu, pemasangan fitur pemutus aliran bahan bakar otomatis (inertia switch) pada mobil-mobil terbaru menjadi sangat krusial untuk meminimalisir pasokan bahan bakar ke area mesin sesaat setelah sensor mendeteksi benturan besar.

















