Bisnis Mobil Tertekan, Motor Jadi Andalan Honda

- Honda mengalami tekanan besar di bisnis mobil akibat biaya tinggi pengembangan kendaraan listrik dan restrukturisasi, hingga mencatat rugi operasional 414,3 miliar yen pada tahun fiskal berakhir Maret 2026.
- Divisi sepeda motor Honda justru mencetak rekor penjualan global dan menjadi sumber profit utama yang menahan kerugian dari sektor mobil, menunjukkan pentingnya diversifikasi bisnis perusahaan.
- Di Indonesia, perilaku konsumen mobil berubah ke arah lebih rasional dengan fokus pada fitur, efisiensi, dan value for money, memaksa merek mapan seperti Honda beradaptasi menghadapi persaingan baru.
Jakarta, IDN Times - Selama bertahun-tahun Honda dikenal sebagai salah satu raksasa otomotif yang kuat di bisnis mobil. Namun situasi yang terjadi sekarang menunjukkan arah berbeda.
Tekanan besar dari investasi kendaraan listrik, perlambatan penjualan mobil di sejumlah pasar, dan biaya restrukturisasi membuat roda empat tak lagi menjadi mesin keuntungan utama perusahaan.
Di tengah tekanan tersebut, justru bisnis sepeda motor tampil sebagai penyelamat. Divisi roda dua kini menjadi sumber pemasukan yang menjaga kondisi finansial Honda tetap stabil saat bisnis mobil sedang mengalami tekanan besar.
1. Ambisi elektrifikasi membuat bisnis mobil kehilangan tenaga

Melansir berbagai sumber, berdasarkan laporan tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, Honda mencatat rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen. Angka itu berbalik jauh dibanding periode sebelumnya ketika perusahaan masih membukukan laba sekitar 1,2 triliun yen.
Salah satu penyebab utamanya berasal dari biaya pengembangan dan infrastruktur kendaraan listrik yang mencapai sekitar 1,45 triliun yen.
Tekanan tersebut membuat Honda mulai melakukan koreksi strategi. Sejumlah target elektrifikasi ditinjau ulang dan proyek besar terkait EV ikut ditunda demi menjaga arus kas perusahaan tetap sehat.
Langkah ini memperlihatkan bahwa transisi menuju elektrifikasi ternyata tidak selalu berjalan mulus, bahkan untuk pabrikan sebesar Honda.
2. Sepeda motor justru tumbuh saat mobil melemah

Menariknya, ketika bisnis mobil mengalami tekanan, divisi sepeda motor Honda justru mencatat performa berlawanan. Penjualan motor secara global mencapai rekor tertinggi dan menjadi sumber profit utama perusahaan.
Kondisi ini membuat roda dua praktis menjadi bantalan yang menahan kerugian besar dari sektor mobil.
Perubahan ini memperlihatkan bahwa portofolio bisnis yang beragam bisa menjadi penyelamat ketika satu sektor sedang turun.
3. Di Indonesia, konsumen mobil juga mulai berubah

Perubahan sebenarnya bukan hanya terjadi di level global. Di Indonesia, pola pembelian mobil juga mulai bergeser. Kalau dulu nama besar merek sering jadi faktor dominan, sekarang semakin banyak konsumen yang membandingkan nilai produk secara lebih rasional.
Fitur keselamatan, teknologi bantuan berkendara, efisiensi konsumsi BBM, konektivitas kabin, sampai value for money mulai menjadi bahan pertimbangan utama sebelum membeli mobil. Kondisi ini membuat pabrikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan reputasi merek atau loyalitas lama.
Fenomena itu terlihat dari makin agresifnya pemain baru terutama dari China, yang datang dengan paket fitur lebih lengkap di harga kompetitif.
Akibatnya, merek mapan seperti Honda ikut terdorong untuk beradaptasi lebih cepat agar tetap relevan di mata konsumen Indonesia yang sekarang jauh lebih kritis dalam membandingkan produk.

















