BYD Gugat Tarif Impor AS

- BYD mengajukan gugatan terhadap pemerintah AS
- Gugatan ini menantang legalitas tarif di pengadilan perdagangan internasional
- Putusan Mahkamah Agung akan mempengaruhi keberhasilan gugatan BYD dan ribuan importir lainnya
Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, baru saja mengambil langkah hukum yang sangat berani dengan melayangkan gugatan terhadap pemerintah federal Amerika Serikat. Langkah ini, seperti dikutip dari carnewschina.com dilakukan melalui empat anak perusahaannya yang berbasis di AS untuk menantang rangkaian perintah eksekutif terkait tarif impor yang dianggap memberatkan dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Gugatan ini menjadi sorotan dunia karena hasilnya berpotensi mengubah lanskap perdagangan otomotif di Amerika Utara. Jika BYD memenangkan pertarungan hukum ini, pintu masuk bagi kendaraan listrik dengan tarif rendah akan terbuka lebar, yang tentunya akan menjadi ancaman serius bagi produsen otomotif lokal di pasar Negeri Paman Sam tersebut.
1. Menantang legalitas tarif di pengadilan perdagangan internasional

Pada akhir Januari 2026, BYD secara resmi mendaftarkan gugatannya di Pengadilan Perdagangan Internasional AS (CIT). Objek gugatan tersebut adalah sembilan perintah eksekutif yang diterbitkan sejak Februari 2025, termasuk tarif perbatasan yang menyasar Meksiko dan Kanada, serta berbagai tarif khusus Tiongkok. BYD berargumen bahwa pemerintah AS tidak memiliki kewenangan hukum di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk menetapkan tarif-tarif tersebut.
Perusahaan menuntut agar pengadilan menyatakan seluruh perintah tarif tersebut tidak sah dan meminta pengembalian seluruh uang yang telah dibayarkan sebagai pajak impor, ditambah dengan bunga dan biaya litigasi. Gugatan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan upaya strategis untuk memulihkan hak ekonomi perusahaan atas barang-barang yang sudah masuk ke pasar Amerika Serikat di tengah situasi perang dagang yang kian memanas.
2. Gelombang litigasi dan pengaruh putusan Mahkamah Agung

Langkah BYD ini sebenarnya merupakan bagian dari gelombang besar litigasi yang melibatkan ribuan importir di Amerika Serikat sejak tahun 2025. Sebelumnya, sebuah kasus serupa yang diajukan oleh importir anggur kecil di New York telah memenangkan keputusan di tingkat pengadilan banding, yang menyatakan bahwa Presiden AS memang tidak memiliki wewenang menetapkan tarif di bawah kerangka IEEPA. Saat ini, pemerintah AS sedang mengajukan banding ke Mahkamah Agung, dan putusan finalnya diharapkan keluar pada paruh pertama tahun 2026.
Karena banyaknya kasus yang serupa, pengadilan saat ini membekukan sementara prosedur gugatan BYD sambil menunggu hasil keputusan dari Mahkamah Agung. Meski sedang dalam posisi "diam", gugatan ini tetap krusial karena memperluas cakupan tantangan hukum hingga ke tarif yang menyasar negara lain seperti Brasil dan India. Putusan Mahkamah Agung nantinya akan menjadi penentu apakah ribuan gugatan ini, termasuk milik BYD, akan berakhir dengan pengembalian dana besar-besaran atau penguatan otoritas pemerintah.
3. Potensi kebangkitan bisnis penumpang BYD di Amerika

Meskipun saat ini operasional BYD di AS masih berfokus pada kendaraan komersial seperti bus listrik dan infrastruktur energi, kemenangan dalam gugatan ini bisa menjadi kunci pembuka bagi lini mobil penumpang mereka. Sebagai informasi, pabrik BYD di Lancaster, California, merupakan salah satu pabrik bus listrik terbesar di Amerika Utara yang mempekerjakan ratusan pekerja lokal. Namun, ambisi besar BYD sebenarnya terletak pada segmen mobil penumpang yang saat ini masih terhambat kebijakan proteksionisme.
Jika pengadilan memenangkan pihak importir, produk BYD dari pabrik mereka di Brasil berpotensi masuk ke AS dengan tarif di bawah 15 persen. Selain itu, proyek pabrik di Meksiko yang sebelumnya sempat tertunda karena ketidakpastian kebijakan dapat dihidupkan kembali. Mengingat Meksiko telah menjadi pasar luar negeri terbesar bagi BYD dengan ekspor mencapai 120.000 unit tahun lalu, perubahan aturan tarif di AS akan memberikan momentum luar biasa bagi BYD untuk menguasai pasar otomotif di seluruh kawasan Amerika Utara.

















