Dikira Keren padahal Norak, Ini Kelakukan Konyol Anak Mobil

- Penyalahgunaan bahu jalan tol demi efisiensi semu
- Polusi asap hitam pekat sebagai simbol kekuatan palsu
- Lampu strobo dan sirine ilegal yang haus perhatian
Fenomena modifikasi dan perilaku berkendara di Indonesia sering kali terjebak dalam ambiguitas antara estetika yang gahar dan tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Banyak pemilik kendaraan merasa telah mencapai puncak keren saat melakukan rombakan tertentu, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut justru memicu antipati dari pengguna jalan lainnya.
Etika berkendara seharusnya menjadi landasan utama sebelum memutuskan untuk tampil beda di aspal panas. Sayangnya, ego yang besar sering kali mengalahkan akal sehat, menciptakan tren-tren negatif yang dianggap sebagai simbol status namun sebenarnya hanyalah bentuk perilaku norak yang membahayakan nyawa orang banyak.
1. Penyalahgunaan bahu jalan tol demi efisiensi semu

Bahu jalan tol diciptakan khusus untuk keadaan darurat, seperti kendaraan mogok atau mobil ambulans yang membutuhkan akses cepat. Namun, pemandangan mobil-mobil yang melesat di sisi kiri jalan saat lalu lintas mulai padat menjadi potret nyata dari perilaku konyol yang dibalut rasa tidak sabar. Pengemudi yang melakukan tindakan ini biasanya merasa lebih cerdik dan lebih cepat dibandingkan pengendara lain yang tertib mengantre di jalur utama.
Kenyataannya, melaju di bahu jalan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menunjukkan rendahnya empati terhadap keselamatan. Bahu jalan sering kali memiliki material yang tidak sebersih jalur utama, meningkatkan risiko ban pecah atau menabrak kendaraan yang sedang berhenti darurat. Bukannya terlihat seperti pengemudi profesional yang tangkas, aksi ini justru menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola waktu dan ketidakpedulian terhadap nyawa sesama.
2. Polusi asap hitam pekat sebagai simbol kekuatan palsu

Dalam dunia modifikasi mesin diesel, terdapat tren bernama "cumi darat" yang membanggakan semburan asap hitam pekat dari knalpot saat berakselerasi. Pemilik kendaraan jenis ini sering merasa bahwa semakin pekat asap yang dihasilkan, maka semakin besar tenaga dan torsi yang dihasilkan oleh mesin mereka. Asap hitam tersebut dianggap sebagai identitas maskulinitas dan kegarangan di jalanan urban.
Padahal, secara teknis, asap hitam yang berlebihan adalah indikasi pembakaran yang tidak sempurna dan kegagalan sistem filtrasi emisi. Di mata publik, kepulan jelaga ini sama sekali tidak terlihat keren; justru sangat mengganggu penglihatan pengendara di belakang dan mencemari udara secara brutal. Memamerkan kerusakan lingkungan sebagai bentuk prestasi modifikasi adalah salah satu puncak kekonyolan dalam budaya otomotif modern yang seharusnya mulai beralih ke teknologi ramah lingkungan.
3. Lampu strobo dan sirine ilegal yang haus perhatian

Pemasangan lampu strobo dan sirine pada kendaraan pribadi tetap menjadi tren yang sulit diberantas meski sudah jelas dilarang oleh undang-undang. Motif utamanya biasanya adalah keinginan untuk mendapatkan prioritas di tengah kemacetan atau sekadar ingin terlihat seperti pejabat penting. Pengemudi sering kali merasa memiliki wibawa lebih saat lampu biru atau kuning berkedip-kedip menembus kaca spion kendaraan di depannya.
Tindakan ini adalah bentuk inferioritas yang dipaksakan. Menggunakan lampu strobo tanpa hak hanya menunjukkan bahwa pengemudi tersebut haus akan perhatian dan merasa lebih tinggi dari orang lain tanpa dasar yang sah. Selain silau dan mengganggu konsentrasi pengendara lain, penggunaan aksesoris ini justru sering menjadi bahan tertawaan karena ketidaksesuaian antara identitas kendaraan dengan perangkat keamanan yang terpasang secara ilegal tersebut.


















![[QUIZ] Pilih Mobil LCGC Favorit, Kami Bisa Tebak Gaya Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20240222/oip-40-f3bcadc4b1a39af7191309eb7f658bc1.jpg)